Tentang novel Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur ! saya sampaikan kepada mereka bahwa novel itu bentuk kritik saya terhadap umat Islam, organisasi-organisasi Islam dan pemerintah yang asyik menuding hal diluar tapi di dalam diri mereka tengah mengalami kegawatan ruhani. Kita, umat Islam dan beberapa organisasi Islam mudah menuduh orang-orang non muslim yang gemar berderma sebagai upaya-upaya kristenisasi. Kita pura-pura tidak tahu bahwa ketika Allah memerintahkan kita untuk shalat, perintah itu disertai pula untuk berzakat. Zakat disini tidak hanya sekedar zakat fitrah, tapi juga zakat mal (harta kekayaan), zakat pertanian, zakat perdagangan dan zakat profesi. Zakat yang oleh Departemen Agama dikutip dari calon jamaah haji itu zakat apa namanya ? Kemana larinya ? Adakah audit disana ?
Lalu tak sedikit dizaman yang serba susah ini sebagian umat Islam terperosok dalam kemiskinan, sebagiannya menceburkan diri ke dunia kriminal dan sebagian lainnya lari ke dunia prostitusi atau pelacuran. Terutama kepada pekerja seks, mereka oleh Pemda setempat rutin diburu karena dianggap mengganggu ketertiban masyarakat dan keindahan kota. Dan oleh sekelompok umat Islam, “asrama” dan tempat-tempat jajaan mereka diobrak-obrak terutama menjelang dan ketika masuk bulan Ramadhan karena dianggap merusak kesucian bulan Ramadhan. Teriakan Allahu Akbarrr !!! ! mereka pada saat “merangsek” para pekerja seks tak menggema sedikitpun dihadapan praktek pengutipan zakat oleh Departemen Agama kepada calon haji disetiap menjelang musim haji tiba. Pekik Allahu Akbarrr !!! ! mereka tak terdengar dihadapan para pengusaha sukses, pedagang, petani, eksekutif, anggota DPR dan pejabat yang lupa atau sengaja melupakan diri terhadap perintah zakat. Sekali lagi, dalam konteks ini bukan hanya sekedar zakat fitrah.
Mereka yang merasa diri sebagai “Hero Islam” miskin konsep, atau sama sekali tidak memiliki wacana yang dapat membantu para pekerja seks keluar dari dunia yang sebenarnya hati kecil mereka, para pekerja seks itu, menolak profesi yang tengah digelutinya itu. Para “Hero Islam” itu melihat pekerja dan komplek prostitusi dari masjid bukan dari realitas sosial yang sesungguhnya. Kalau setiap kemungkaran dilihat dari masjid, yang akan selalu tampak adalah kesesatan. Makanya jangan heran, orang yang selalu melihat segala kemungkaran dari masjid, mereka hanya bisa marah-marah dan bertindak anarkis.
Khusus novel saya yang berjudul “Kabar Buruk Dari Langit” dihadapan para penghujat, saya jabarkan latar belakang ide penulisannya, dimana novel itu terinspirasi dari buku yang ditulis Dr. Alwi Syihab, “Islam Sufistik: “Islam Pertama” dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia”. Disamping mendapat ide, melalui buku itu saya memenangkan peresensi terbaik Mizan pada tahun 2002. He…he…he…he….
Dalam “Kabar Buruk Dari Langit” saya menggambarkan fase pertengahan Islam di Indonesia. Di situ saya membuat dramatisasi bagaimana sebetulnya Islam pada saat itu dan “pertengkaran” nya dengan segala macam bentuk yang paling mengerikan. Dan saya mengambil contoh kisah tragis ! dalam sejarah Sufi di Indonesia; Sumatera, Jawa dan lain sebagainya. Tokoh-tokoh yang saya tampilkan di Kabar Buruk Dari Langit sebetulnya gabungan dari banyak sekali tokoh-tokoh Sufi yang pernah di habisi oleh Ulama-ulama Fiqh dalam sejarah Islam Indonesia. Itu sebenarnya yang ingin saya sampaikan disana.
Kalau dalam novel itu dianggap ada (atau banyak) sesuatu yang “kurang ajar”, begitulah Sufi di lihat oleh orang-orang syar’iyyat (mereka yang memiliki cara pandang fiqh oriented; red) selalu di anggap kurang ajar, selalu iseng, dan melanggar banyak pakem.
Kental sekali “aroma” Sufi diranah pemikiran Anda. Sejak kapan Anda mengenal tasawuf ?
Sejak masih berstatus siswa Sekolah Teknologi Menengah jurusan Gambar Bangunan, saya sudah menikmati buku-buku Mizan, begitu juga dengan buku-buku Ali Syariati: Tugas Cendekiawan Muslim, Marxisme dan Haji. Saya mengagumi pikiran-pikiran sufisme Ali Sayri’ati dan cara bagaimana ia membumikan dogma-dogma sufisme di dunia moderen. Tapi sebelumnya, lingkungan dimana saya tinggal, yang persis ada dibelakang Pondok Pesantren Krapyak Jogjakarta, telah banyak mengenalkan saya pada praktek-praktek ritual (tarekat) para Sufi. Saya bermursyid pada seorang guru ruhani yang meski saya sebutkan namanya, Anda pasti tak bakal mengenalnya. Beliau seorang yang hidup sehari-harinya bersahaja, menerima diri sendiri seperti apa adanya, setia terhadap amanat hidup, tinggal di sebuah daerah yang jauh dari kamera televisi dan lebih gemar menuruti kata hati ketimbang sibuk berstrategi dengan media.
Semua hal yang berbau Sufi terbawa hingga saya masuk dunia mahasiswa dan sampai hari ini. Ditengah centangperenang-nya kegiatan perkuliahan, saya terekrut untuk meresensi buku-buku Sufi. Jadi, frame sufisme saya terbangun dengan sendirinya mengikuti guliran yang sudah Allah takdirkan. Hingga detik ini, disetiap membaca sejarah Indonesia, saya tetap mengenakan frame sufisme itu.
Kembali kepada penjelasan novel “trilogy beragama” Anda diatas, kalau begitu Anda sangat yakin bahwa Islam masuk ke Indonesia kali pertama dibawa oleh Ulama-ulama Sufi ?
Ya ! Saya sangat dan sangat meyakini bahwa Islam pertamakali masuk ke Indonesia dibawa oleh para Ulama Sufi, tidak seperti penjelasan yang kita terima selama ini yang menyebutkan bahwa Islam masuk ke Indonesia dibawa oleh para pedagang Gujarat yang notabene ulama syari’at.
Proses masuknya pun tidak berlangsung mulus, banyak benturan-benturan terutama dari aspek sosial dan budaya lokal. Salah satu yang mendasari keyakinan saya ini adalah hasil penelitian Dr. Alwi Syihab dalam buku nya (“Islam Sufistik: “Islam Pertama” dan Pengaruhnya Hingga Kini di Indonesia”) yang saya resensi itu. Dalam penelitian itu Dr. Alwi Syihab juga menyampaikan bukti sejarah yang menyebutkan bahwa di Abad Pertama Hijriyyah, ketika Nabi Muhammad Saw berdomisili di Madinah, Islam di Indonesia sudah ada dan masuk melalui Hadlramaut, bukan melalui Gujarat, India.
Kembali ke forum pengadilan Anda. Bagaimana respon para ”Musa” sesudah mendengarkan penjelasan Anda ?
Semakin saya jelaskan semakin mereka tidak percaya dan mereka semakin melempar murka. Tak ada happy ending waktu itu. Tak terjadi proses dialog yang akademis.
Yang Anda ketahui, apa sich yang dianggap bahaya dari Dunia Sufi ?
Sebetulnya tidak ada sesuatu yang menakutkan dan membahayakan dari Dunia Sufi. Di Dunia Sufi ada tradisi “mengekang diri” dari moralitas kemanusiaan, include di dalamnya pengekangan diri terhadap kekuasaan material dan kekuasaan profane termasuk politik. Oleh karena kekuasaan politik adalah profane, ia (politik;red) juga menjadi sasaran yang akan “dihancurkan” oleh gerakan Sufi. Nah, dia (Dunia Sufi;red) dianggap berbahaya oleh para penguasa atau politisi, terutama bagi mereka yang bermental pemuja materi dan kekuasaan. Jadi, saya fikir, pada trik politiknya itulah, selain untuk pencerahan individu dalam masyarakat, Dunia Sufi dengan gerakan nya telah diposisikan sebagai “institusi” yang menentang seluruh profanisasi dalam masyarakat. Lalu, sebagian ulama yang bercorak fikir orientasi fiqh unsich, melekatkan“issue” pada Dunia Sufi hanya seputar ketersesatannya semata. Para Ulama Syari’at tidak melihat bahwa Dunia Sufi menentang berbagai bentuk keserakahan seperti halnya syari’at Islam menentang beragam jenis keserakahan …… (sampai disini Gus Muh diam sejenak. Beberapa saat kemudian melanjutkan penjelasannya dan tertawa terpingkal-pingkal….) termasuk serakah terhadap surga, he…he…he…he…




