Pelajaran apa yang sudah Anda ambil dari tarekat ?
Saya melihat, tarekat banyak memiliki konsep pengembangan diri yang tidak dimiliki “lembaga-lembaga” lain. Didalam tarekat ada konsep ‘uzlah, mujahadah, dan zawiyyah. Hanya dalam tarekat orang dianjurkan untuk melakukan ritual tertentu pada waktu-waktu tertentu pula, memiliki bacaan-bacaan tertentu yang dibaca pada waktu yang telah ditentukan, yang inti dari itu semua menciptakan manusia menjadi yang tercerahkan, holistik, integral dan sempurna.
Dalam ber-uzlah seorang salik menjauhkan diri dari lalu-lintas keramaian manusia untuk satu tujuan penataan atau pengaturan batin dalam tempo tertentu; ada yang 10 hari, 20 hari 40 hari, dalam satu perjalanan menuju Sang Sumber Cahaya. Tempat uzlah bagi setiap salik yang umum dikenal dalam dunia tarekat dinamakan zawiyyah. Aktifitas yang dilakukan salik saat ber-uzlah adalah mujahadah yakni berjuang melawan hawa nafsu dan berbagai kecenderungan jiwa yang nista. Mujahadah yang dilakukan salik bisa beraneka ragam bentuknya; puasa, wirid atau menjalankan pantangan tertentu, tergantung mursyid yang menentukan.
Ada seorang psicholog sekuler dari Harvard University tertarik dengan konsep-konsep yang ada dalam dunia tarekat. (Gus Muh lupa ketika akan menyebut nama psicholog tersebut; red). Ia mendesain apartement nya seperti layaknya sebuah pesulukan. Setelah rampung di desain, ia pun ‘uzlah, “bersuluk” dan berpuasa selama 40 hari. Untuk buka dan sahur, seorang kemenakannya mengantarkannya. Hanya dua kitab yang menemaninya sepanjang bersuluk; al-quran dan sebuah kitab tulisan Jalaluddin Rumi.
Psicholog tersebut menuturkan pengalaman suluknya. Di 10 hari pertama suluk, ia masih merasakan kegelisahan karena masih mengingat ini dan itu. 10 hari kedua, setiap membaca basmalah dia menitikkan air mata. 10 hari yang ketiga, dia sudah dapat melihat sesuatu yang sebelumnya dia tidak percayai. Dan di 10 hari yang keempat, dia mendapatkan pencerahan seputar kenabian dan dunia spiritualitas.
Ternyata, seorang yang sekuler sekalipun pun ternyata dapat menemukan pengaruh positif konsep pembelajaran yang ada dalam dunia tarekat. Nah bagaimana dengan kita selaku “pemilik sah” konsep itu ?
Bagaimana dengan Anda sendiri, Gus ?
Tidak jarang saya mendapatkan orang-orang yang ber-‘uzlah dengan ber-suluk gagal, tidak mendapatkan apa-apa karena dia tidak mampu mentransformasi untuk apa yang dia lakukan. Tak terlihat dampak dari suluk baik dalam ucapan maupun dalam tindakan.
Saya ambil spirit konsep-konsep itu, untuk kemudian saya kembangkan dan saya terjemahkan pada dunia kepenulisan yang saya geluti selama ini. Disini (Gus Muh menunjuk Indexpress; red) sebagai “zawiyyah” tempat setiap penempuh jalan kesunyian (jalan kepenulisan ; red) “ber-‘uzlah” dan “bermujahadah”. Saya ber-‘uzlah dari Jogja ke Ibu Kota, kumpul bersama 50 penulis muda usia 22 tahun kebawah. Untuk apa? Untuk melakukan penataan analisa kembali dalam membaca sejarah Indonesia secara jernih dan detail serta harmoni agar dapat menghasilkan sesuatu yang mencerahkan bagi sesama anak bangsa.
Seperti halnya salik yang tengah ber-suluk yang tak ada kegiatan lain selain berpuasa, bermujahadah dan berdzikir. Kami pun disini melakukan hal yang sama, melakukan hal yang itu-itu saja; makan pagi, keperpustakaan untuk mencari data, membawa dokumen, mengetik dan mengolah dokumen sepanjang malam. Begitu seterusnya. Tak ada kegiatan lain kecuali itu.
Kami berpuasa dari kegiatan-kegiatan lain selain menulis, mujahadah kami memperkaya dan mengolah data, mempertajam dan mengharmonikan analisa. Sedang dzikir kami disini adalah menulis, menulis dan menulis sampai tak mengetahui apa yang harus kami tulis. Nah ini kan persis seperti yang digambarkan Allah sebagai, “Hamba yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah.” (Q.S. An-Nur (24): 37).
Dan kita jalankan rutinitas itu selama satu tahun penuh. Membosankan, menjenuhkan memang. Tapi jangan salah. Pencerahan itu dimulai dari kejenuhan. Air yang layak minumpun adalah air yang sudah sampai pada puncak didihnya. Layak minum itulah sebuah pencerahan. Persis seperti yang dihadapi kanjeng Nabi Muhammad Saw ketika ada dipuncak ketidak tahuan disaat Jibril a.s. memintanya untuk iqra’ bismirobbikalladziikholaq. Sesudah perintah bacalah ! yang ketiga kalinya, beliau baru dapat menyebut, Allah…Allah…Allah…
Kami disini memiliki harapan semoga “pencerahan” yang kami dapatkan kelak dapat mengingatkan bangsa Indonesia terhadap apa yang dilakukan setiap hari sejak se-abad yang lalu.
Jadi, Anda memperkuat tradisi tarekat, tapi dengan cara yang baru Anda melihatnya ?
Ya, benar sebab tarekat sarat dengan bimbingan yang mengantarkan manusia dapat melampaui kesadaran material, menjadi holistik dan sempurna. Kesufian seorang Sufi dapat menjadi batal ketika ia terjebak pada sesuatu yang bersifat material. Dan sulit untuk disebut sebagai Sufi bila seseseorang mampu menghilangkan ketergantungan pada harta benda namun kemudian berhenti pada formalitas ajaran tasawuf. Nah. Saya kira ini aja dulu yang bisa saya sampaikan. Okey ?




