Suluk Sunyi Penulis Sufi

Mereka mengalami Jenar Phobia?
Kira-kira begitulah. Dunia Sufi kita memiliki catatan sejarahnya sendiri dan Siti Jenar, satu diantaranya saja. Dia menyerang habis-habisan ketika Agama Syari’ah itu berkolusi dengan kekuasaan pada masanya. Dia tidak tidak mau memberi legitimasi pada hegemoni Demak.
Masyarakat di alihkan olehnya untuk tidak melihat kekuasaan Demak secara absolute sebagai kekuasaan mutlak karena yang berkuasa hanyalah Allah. Spirit ini yang sangat ditakuti oleh para penguasa status quo dan mereka menjadi phobia  karenanya.

Harus dibaca juga..

Spirit itu pulakah yang mendorong lembaga-lembaga tarekat anti terhadap penjajahan terutama kepada imprealis Belanda  ? Anda benar. Tarekat pernah menjadi garda terdepan menentang kebijakan kolonial Belanda yang membuat rakyat kecil semakin terpuruk seperti perbudakan di tahun 1908, pemberlakuan pajak tanaman dan pencabutan hak atas tanah bagi petani yang tak sanggup membayar pajak (1830-1870) dan kebijakan kerja Rodi (1856). Dibeberapa daerah pemberontakan terhadap Belanda yang dimotori tarekat juga berlangsung sengit; Pemberontakan (Petani) di Banten 1888 dipimpin oleh Kyai Abdul Kariem; Pemberontakan di Kediri pada pertengahan 1888 dipimpin oleh KH. Mukhiar; Pemberontakan di Sidoarjo pada akhir 1903. waktu, itu tarekat  benar-benar menjadi momok yang sangat ditakuti kolonial Belanda.

Sejauh itukah “greget” yang dimiliki lembaga tarekat waktu itu?
Iya.

Koq bisa? Bukankah kegiatan tarekat tak jauh dari persoalan dzikir, khalwat dan hal lain yang akhirat sentries  ?
Mengacu pada contoh sejarah yang saya kemukakan barusan, awalnya memang lembaga tarekat itu tak beranjak dari persoalan-persoalan ukrawi  semacam dzikir dan khalwat. Akan tetapi konsentrasi mereka menjadi “terusik” ketika Belanda melancarkan kebijakan-kebijakan sepihak yang dianggap memberi dampak buruk bagi rakyat kebanyakan yang nota bene juga jamaah tarekat. Apalagi kebijakan Belanda dirasakan sangat berpeluang menghancurkan tatanan sosial dan trasidisi serta nilai-nilai keagamaan yang dipelihara oleh para Ulama.

Umat dan Ulama menyatu menghadapi musuh bersama.  Mereka bangkit dipimpimpin oleh Ulama-ulama Sufi menentang kebijakan-kebijakan kolonialis Belanda waktu itu. Karenanya hampir dapat dipastikan para Sufi tempo doeloe selalu dikejar-kejar penguasa di zamannya. Oleh sebab itu, kontribusi para Sufi pada bangsa dan negara ini tidak bisa dianggap remeh.

Sampai di (era penjajahan) situkah Dunia Sufi dengan lembaga tarekatnya memainkan peran sosial-politiknya ?        
Sampai periode dan pasca kemerdekaan RI, tapi saya tidak lagi mengikuti perkembangan peran tarekat dalam wilayah politik. Yang pasti hingga hari ini “tapak tilas” Kiyai Abdul Kariem masih dapat Anda temukan dalam jam’iyyah tarekat di Indonesia, terutama di pulau Jawa. (Utamanya lagi jam’iyyah tarekat  yang berada dilingkungan Pondok-Pesantren seperti Pondok-Pesantren Pagentongan Bogor Jawa Barat, Pondok-Pesantren Cilongok Tangerang Banten, Pondok-Pesantren Suryalaya Tasik Malaya Jawa Barat, Pondok-Pesantren Rejoso dan Pondok-Pesantren Tebuireng yang keduanya ada di Jombang Jawa-Timur; red). Tapi….

Tapi apa, Gus ?     
Saya sangat yakin, oleh karena kukuhnya akar sejarah Dunia Sufi di Indonesia pada tahap-tahap awal, Islam Tasawuf, Islam Sufistik atau Dunia Sufi akan terus mewarnai Islam dan Indonesia sekaligus.

Ach, “pe-de” sekali Anda ini, Gus.  ? 
Kenapa ?
Terhitung sejak awal kemerdekaan, sudah beberapa kali lembaga tarekat mengalami “pembonsai-an”. Sebut saja misalnya Partai Politik Tharikat Islam (PPTI) yang ditahun 1961 mengubah namanya menjadi “Persatuan Pembela Tharikat Islam” dimasa Demokrasi Terpimpin cukup memiliki kekuatan, terutama diwilayah Sumatera. PPTI kehilangan kekuatannya setelah menjadi bagian dari Golkar. Sejak 1976 keberadaannya menjadi hidup segan matipun tak mau. Begitu juga dengan Jam`iyah Ahl Al-Thariqah Al-Mu`tabarah, yang berdiri pada tahun 1957, terpecah menjadi dua setelah K.H. Musta’in Romli (Rejoso Jombang Jawa Timur) selaku pimpinan menjadi bagian dari Golkar. Dan di Orde Reformasi saat ini Anda akan mengalami kesulitan menemukan lembaga tarekat yang memiliki “greget”  serupa seperti yang dimiliki lembagai tarekat pada era penjajahan.

Bagaimana pandangan Anda mengenai fenomena ini ?
Ya. Penguasa dan kekuasaan memang menjadi masalah yang tak terpisahkan dari Dunia Sufi. Siapa menunggangi siapa, buat saya itu no problem.

Lembaga tarekat yang menjadi bagian dari lembaga politik, mungkin saja dapat menghilang, akan tetapi spirit sufisme yang kosmopolit dan universal tak akan pernah sirna. Karenanya kita berpikir positif saja kalau sekarang ada partai politik yang membuat lembaga tarekat atau majelis dzikir. Jangan dipertentangkan antara lembaga tarekat atau majelis dizikir yang lahir dari kultur masyarakat setempat dengan yang lahir dari “rahim” kekuasaan. Ambil saja nilai positifnya.

Menurut Anda, peran apa yang selaiknya dimainkan Dunia Sufi atau lembaga-lembaga tarekat  saat ini ?  
Kembali ke “khiththah” nya, berkonsentrasi pada titik perubahan individual agar tercipta kesalehan sosial. Kegersangan ruhani yang dialami umat saat ini sebenarnya tantangan bagi Dunia Sufi dan koreksi untuk lembaga tarekat, jangan-jangan sudah lama kita tidak melayani umat, kita terlalu asyiqma’syuq pada titik abstraksi sosial sehingga konsentrasi kita pada titik perubahan individual menjadi buyar.  Saya tetap optimis pada keberadaan Dunia Sufi. Saya melihat masih banyak tokoh-tokoh sufi yang tak terjamah oleh media masa dan televisi, tersebar di kepulauan Nusantara ini yang dengan tekun menyebarkan kearifan dan melayani umat dengan keteladanan terbaik.

Untuk sementara tak apalah, kajian-kajian tasawuf yang marak diperkotaan hanya baru bisa memberikan pencerahan pada tingkatan individual. Tak apalah kelompok-kelompok kecil itu baru menghasilkan sesuatu yang kecil. Asal apa yang dilakukannya dilakukan dengan serentak dan istiqamah, yang kecil-kecil itu, insya Allah, kelak akan membuahkan dampak yang besar. Mungkin tidak dirasakan oleh generasi sekarang, tapi untuk generasi mendatang. Kita harus dapat mengambil pelajaran dari tokoh-tokoh gerakan Sufi, bukankah gerakan sufisme dulu juga dibangun dari gerakan yang kecil ?

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.