Zuhud ? Konsep zuhud macam apa yang Anda punyai ?
Siapa yang tidak bersedih dengan apa yang luput dari tangannya, dan tidak bersukaria karena apa yang dimilikinya, itulah zuhud. Tujuan menulis bukan untuk mencari popularitas dan menjadi kaya secara materi, tapi memperkaya batin, memperkaya pengalaman dan mengabdikan diri untuk Allah dalam sejarah kemanusiaan.
Karenanya salah satu buku Anda Anda beri titel “Jalan Sunyi Seorang Penulis” ?
Benar. Melalui buku itu sebenarnya saya juga ingin mengatakan bahwa, seperti halnya tarekat di Dunia Sufi, menjadi penulis itu bukan jalan mudah. Didalamnya ada perjuangan dan disiplin ekstra untuk menaklukkan diri sendiri, tanpa pamrih. Saya punya satu manifesto: “Kalau Anda ingin kaya, jangan menjadi penulis.” Kalaupun ada penulis tiba-tiba populer dan kaya, itu semua hanya efek pasar dan hanya sedikit sekali jumlahnya.
Jadi, jalan sunyi adalah jalan kemestian yang dihadapi setiap penulis. Setiap penulis dituntut untuk menyadari akan beban kesunyian yang menggigilkan itu. Ada yang kemudian terbunuh di tengah jalan dan ada juga yang menghindar jauh. Dan saya telah siap memilih menjadi bagian dari mereka yang terbunuh ! Dan bagi mereka yang sadar memilihi jalan kepenulisan, kesunyian bisa menjadi jadi semacam jembatan lintasan panjang untuk mereguk limpahan gagasan dan temukan eksistensi diri.
Jalan sunyi yang Anda katakan sungguh mirip dengan jalan Sufi yang meski sendiri, tapi tidak sebatangkara dan Al-Hallaj adalah contoh dari Sufi yang terbunuh ditengah jalan itu. Anda akrab dengan terma-terma sufisme ?
Tidak hanya akrab. Spirit sufisme telah menjadi bagian hidup saya baik dalam keseharian maupun dalam tulisan. Buku Trilogi Beragama; (1) Adam Hawa: Hawa Bukan Perempuan Pertama. (2) Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur ! (3) Kabar Buruk dari Langit yang saya buat adalah andai-andai saya dalam “menterjemah” tiga tindakan Nabiyullah Khidlir ketika mendidik Nabiyullah Musa ‘alaihimassalaam.
Pada buku Adam Hawa: Hawa Bukan Perempuan Pertama saya “memerankan diri” seperti ketika Nabiyullah Khidlir yang membunuh bocah kecil tanpa dosa. Pada buku Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur saya “memerankan diri” seperti ketika Nabiyullah Khidlir membocorkan kapal. Pada buku Kabar Buruk Dari Langit saya “memerankan diri” seperti ketika Nabiyullah Khidir yang membangun dinding rumah di sebuah negeri yang penduduknya enggan menjamu kedua Nabi Allah itu.
Dalam Al-Quran Al-Kahfi (surat ke 18) ayat 71-74 dan 77 terekam jelas Nabi Musa bereaksi keras terhadap tindakan-tindakan Nabi Khidir yang oleh Nabi Musa dianggap sebagai tindakan tolol. Buku-buku Anda apa juga menuai protes dari “Musa-Musa” yang lain ?
Saya dituduh menghinadina dan merusak Islam. Saya dituding telah melecehkan Al-Quran. Dan oleh kelompok Islam tertentu darah saya dihalal-kan. Di sebuah kampus di Jogja, Jawa Tengah dan Malang, Jawa Timur undangan yang semula meminta saya untuk berdiskusi berubah menjadi “pengadilan” untuk saya. Dua ribu mahasiswa dan beberapa aktivis akademik kedua kampus itu menghujat dan menunjuk-nunjuk hidung saya.
Bagaimana respon Anda ketika itu ?
Saya pegang kuat-kuat falsafah hidup yang telah lama saya yakini bahwa menulis adalah jalan asketik untuk menyampaikan (hanya) kebenaran yang kita yakini, kita geluti lalu kita sampaikan. Jalan sunyi adalah jalan kemestian yang dihadapi setiap penulis. Setiap penulis amat sadar akan beban kesunyian yang menggigilkan itu. Ada yang kemudian terbunuh di tengah jalan dan ada juga yang menghindar jauh. Sekali lagi, saya telah memilih menjadi bagian dari mereka yang terbunuh !!!.
Lantas Apa yang terjadi ?
Dengan kepala yang sejuk, saya sampaikan argument yang sesungguhnya kepada mereka bahwa tulisan saya di Adam Hawa: Hawa Bukan Perempuan Pertama tak ada hubungannya dengan Adam-Hawa yang ada di dalam Al-Quran. Lagi pula tak ada satu ayat Al-Quran pun yang menyatakan secara tegas bahwa Hawa adalah perempuan pertama di Surga. Kalaupun ada disebutkan nama Hawa, itu bisa-bisanya Departemen Agama dalam memberi tafsir.
Dalam novel Adam Hawa: Hawa Bukan Perempuan Pertama saya cuma berimajinasi seputar penciptaan manusia pertamakali. Boleh dong saya, termasuk siapapun, untuk berimajinasi ? Saya sampaikan juga sebelum dan pada saat saya membuat Adam Hawa: Hawa Bukan Perempuan Pertama saya mengkaji al-Quran dan beberapa kitab tafsir. Jadi, tak ada niatan secuilpun untuk membongkar hukum yang sudah ditetapkan al-Quran dari segi cerita kitab suci itu. Saya cuma menampilkan bagaimana Adam dan Hawa dalam persepsi saya.
Saya juga sangat menyayangkan mereka yang membaca Tuhan, Izinkan Aku Menjadi Pelacur ! tidak dengan dada yang lapang dan fikiran yang terbuka. Padahal menjelang ending, terdapat ungkapan cinta dari seorang pekerja seks kepada Allah. “Oh Tuhan, izinkan aku mencintai-Mu dengan cara yang lain, menerima kehidupan dengan sepenuh kejujuran. Seperti gemericik air di pematang sawah, seperti cicit-cicit cericit burung bercendai diselimuti induknya karena alam telah mengjariku untuk menerima setiap lembaran kasih-Mu bersama sebuah permohonan. Sayangi aku dalam pekat anugerah-Mu. Aku tak punya apa-apa selain hati yang akan selalu menunggu sapa-Mu. Sapa yang gelap –kutukan- dikala aku terjaga dari tidurku, di kala sang waktu menyapa rambutku yang perlahan ditumbuhi uban ketuaan hingga aku terlelap dalam penyerahan sempurna, dalam pelukan bumi.”
Sebelum ungkapan cinta itu terucap, disitu juga ada pemaparan baik sangka (husnudzhdzhon) tingkat tinggi seorang Pekerja Seks Komersial kepada Tuhan: “….kupositif-positikan sangkaku bahwa kekecewaan yang kuderita tentang Tuhan mungkin sebuah isyarat bahwa Ia ingin memerkenalkan sisilain dari-Nya kepadaku, yakni sisi kehancuran. Karena aku menghendaki ketinggian, maka aku juga harus bersikap lebur dalam kehancuran. Ya, aku harus, lebur dulu, aku harus hancur dulu untuk menjadi zat yang benar-benar berwujud baru. Setiap kehancuran yang total selalu melahirkan sesuatu yang lebih indah, sesuatu yang lebih baru, kehidupan yang lebih bersemangat dan tentu saja lebih bermakna….”




