Sama’ (Mendengar lagu dan Syair) II

Adapun yang menyimak langsung melalui Allah Swt, maka dia menyimak bersama dan hanya bagi Allah Swt, Sama’ yang terakhir ini tidak bisa diuraikan dengan kondisi-kondisi ruhani tersebut manakala tercampuri oleh kepentingan manusiawi, dan masih memunculkan berbagai sebab-sebab langsung.
Maka, bagi kategori yang terakhir tersebut, saling menyimak dari dimensi kemurnian tauhid terhadap Allah Swt, dan sama sekali tidak disertai kepentingan makhluk.”[pagebreak]

Harus dibaca juga..

Dikatakan, “Ahli Sama’ itu ada tiga tahapan: Pertama, generasi hakikat yang kembali dalam Sama’nya bagi dialog Allah Swt kepada mereka. Selanjutnya ada yang berbicara kepada Allah swt melalui hatinya disertai makna-makna yang telah didengarnya.
Mereka dituntut untuk bersikap benar dan jujur terhadap apa yang di isyaratkan menuju kepada Allah Swt. Dan terakhir, adalah si sufi yang menyendiri, yang memutus hubungan dunia dan bencana. Mereka mendengarkan melalui kemerduan hatinya, dan mereka lebih dekat dengan keselamatan.”
Abu Ali Ahmad ar-Rudzbary ditanya tentang Sama’, “Mukasyafah terhadap rahasia batin, dan musyahadah terhadap Sang Kekasih,” jawabnya.

Ibrahim al-Khawwas ditanya, “Bagaimana mengenai orang yang bergerak ketika Sama’ terhadap selain Al-Qur’an, sementara gerakan itu memang tidak ditemui dalam penyimakan Al-Qur’an?” Ibrahim menjawab, ‘Sebab Sama’ Al-Qur’an merupakan hentakan, dimana seseorang tidak mungkin bergerak dalam Sama’ disebabkan oleh dahsyatnya kekuatannya. Sedangkan Sama’ terhadap ucapan membuatnya riang dan karenanya ia bergerak dalam Sama’ tersebut.”

Al-Junayd berkata, “Bila Anda melihat si penempuh mencintai Sama’, ingatlah bahwa di dalam dirinya ada ada sisa-sisa kebatilan.” Sahl bin Abdullah berkata, “Sama’ adalah ilmu yang dipilih oleh Allah Swt dan tiada yang mengetahui kecuali
hanya Dia.”

Dikatakan, “Ketika Dzun Nuun al-Mishry memasuki di Baghdad, para Sufi berkumpul padanya. Di antara mereka ada yang biasa berbicara. Mereka meminta izin agar diperkenankan membacakan syair sedikit di hadapannya. Dzun Nuun pun menyilahkan. Lantas orang tersebut membacakan syairnya:
Kecil asmaramu telah menyiksaku
Bagaimana dengan asmara yang perkasa?
Engkau telah mengumpulkan dari kalbuku
Cinta yang benar-benar berpadu
Sedang yang kuwarisi, bagi yang berduka
Bila tertawa sunyi
Jadilah pecah tangisnya.

Tiba-tiba Dzun Nuun berdiri dan membenamkan wajahnya. Sementara darah menetes dari keningnya, namun tidak menetes ke tanah:
Ibrahim al-Maristany ditanya mengenai gerak dalam Sama’. “Sampai kepadaku kisah Musa as. yang bercerita tentang Bani Israil. Di antara mereka ada yang merobek bajunya.
Lantas Allah Swt menurunkan wahyu kepada Musa as, ‘Katakan padanya: Robeklah hatimu buat Diri-Ku, dan janganlah engkau robek bajumu’.”

Abu Ali al-Maghazily pernah mengutarakan kepada Dulaf asy-Syibly, “Terkadang pendengaranku terketuk oleh suatu ayat dari Kitab Allah Swt, sehingga menggiringku untuk meninggalkan segala yang ada, berpaling dari dunia, kemudian aku kembali pada ihwal ruhaniku dan kepada orang pada umumnya.”

Maka Dulaf mengomentari, “Sebab ma’rifat pada Tuhannya belum sempurna. Begitu pula, ia belum sempurna dalam memerangi hawa nafsunya. Beda dengan Sama’nya orang yang sempurna ma’rifatnya. Sama’nya dilalui setelah mujahadah, riyadhah dan berpaling dari hawa nafsu. Sibuk bersama Allah Swt. dan berhasrat dalam keadaan ringan. Sehingga Sama’nya berada di gerbang pertolongan menuju maksud yang benar dan kondisi ruhaninya yang tinggi.”

“Apa yang membuatmu tertarik kepada-Nya adalah hubungan dari-Nya kepadamu dan merupakan kelembutan. Dan apa yang engkau kembalikan kepada dirimu, adalah kepedulian dari-Nya atas dirimu. Sebab tidak dibenarkan bagimu berbakti yang muncul dari daya dan kekuatan ketika menghadap kepada-Nya.”

Ahmad bin Muqatil al-‘Ikky berkata, ‘Aku bersama Dulaf asy-Syibly di sebuah masjid pada salah satu malam Ramadhan yang penuh berkata la sedang shalat di belakang imam, sementara aku di sampingnya. Imam membaca sebuah ayat:
“Dan sesungguhnya jika Kami menghendaki, niscaya, Kami lenyapkan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu.’ (Q.s. Al-Israa’: 86).

Tiba-tiba asy-Syibly menjerit dengan satu jeritan. Bisa kukatakan, seakan-akan ruhnya terbang, dalam keadaan menggigil.” Ahmad selalu menyampaikan kisah ini kepada teman-temannya, dan seringkali diulanginya.

Al-Junayd mengisahkan, “Suatu hari aku masuk ke tempat Sary as-Saqathy, dan kulihat ada seorang laki-laki pingsan di sisinya. Aku bertanya, ‘Mengapa dia?’
Sary menjawab, ‘Gara-gara mendengarkan suatu ayat dari kitab Allah Swt.’
Aku katakan, ‘Coba ulangi bacaan ayat tersebut untuk kedua kalinya.’

Lantas Sary membacanya, dan laki-laki itu pun sadar kembali.
Sary bertanya kepadaku, ‘Dari mana Anda mengetahui hat itu?’
Aku katakan, ‘Sesungguhnya baju Yusuf as. itu telah membutakan mata Ya’qub, kemudian mata itu sehat kembali karena baju itu. Aku mengambil pelajaran dan peristiwa tersebut’.”
Abdul Wahid bin Alwan berkata, “Ada seorang pemuda yang berguru kepada al Junayd. Bila mendengarkan suatu dzikir la selalu menjerit. Suatu hari Junayd berkata kepadanya, ‘Bila kamu lakukan hal itu sekali lagi, kamu jangan berguru kepadaku lagi!’ Sejak saat itu pemuda itu bila mendengar sesuatu, selalu berubah dan tampak mengekang dirinya, sampai setiap ujung bulu di badannya meneteskan keringat. Pada suatu hari la berteriak sekuat tenaga, hingga meninggal dunia.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.