Al-Harits bin Asad al-Muhasiby berkata, “Tiga perkara, bila kita menjumpainya, kita merasa nikmat, dan pada ketiganya kita telah kehilangan wajah yang bagus dengan disertai perlindungan; suara merdu disertai sikap religius; dan persaudaraan yang baik disertai tepat janji.”
Dzun Nuun al-Mishry ketika ditanya tentang suara merdu, beliau menjawab, “Perkataan-perkataan dan isyarat-isyarat yang dititipkan Allah kepada setiap laki-laki yang baik dan perempuan yang baik.” Ditanya pula tentang Sama’, jawabnya, “Bisikan Haq yang membangkitkan kalbu kepadaYang Haq. Siapa yang menyimak penuh perhatian dengan sebenarnya akan nyata benar. Dan siapa yang menyimak dengan nafsu, akan menjadi Zindiq.”
Al-Junayd berkata, “Kasih sayang akan turun kepada orang-orang sufi dalam tiga tempat:
- Ketika sedang Sama’. Sebab mereka tidak menyimak kecuali dari suara yang benar dan mereka tidak berbicara kecuali dari intuisi.
- Dan ketika mereka makan makanan, mereka tidak makan kecuali ketika lapar;
- Ketika mereka sedang meraih ilmu, mereka tidak mengingat-ingat kecuali ingat pada sifat para wali.
Al Junayd berkata, “Sama’ bisa menjadi fitnah bagi yang berambisi. Dan menjadi ringan bagi yang menjumpainya.”
Dia juga berkata, “Sama’ butuh tiga hal: Zaman, tempat dan sejumlah teman.”
Dulaf as-Syibly ditanya mengenai Sama’, dia menjawab, “Secara lahiriah adalah fitnah, sedangkan batinnya adalah pelajaran. Siapa yang mengena isyarat, ia boleh menyimak pelajaran. Jika tidak, berarti ia mengundang fitnah dan menawarkan terhadap bencana.”
Dikatakan, ”Sama’ tidak layak, kecuali pada orang yang nafsunya telah mati dan hatinya telah hidup. Nafsunya disembelih dengan pedang mujahadah, sedang hatinya dihidupkan oleh cahaya keserasian (dengan
Allah Swt).”[pagebreak]
Abu Ya’qub Ishaq an-Nahrajury ditanya soal Sama’, dia menjawab, “Suatu tingkah laku yang mendorong kembali kepada rahasia jiwa dari sisi peleburan.”
Dikatakan, “Sama’ merupakan nuansa lembut di sisi arwah bagi ahli ma’rifat.”
Saya mendengar Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq r.a. berkata, “Sama’ adalah watak, kecuali dari arah syariat, dan asing kecuali dari yang benar, dan fimah kecuali dari sisi pelajaran.”
Disebutkan, Sama’ ada dua macam, “Sama’ dengan syarat adanya pengetahuan dan kesadaran. Di antara syarat pemiliknya adalah mengenal Asma’ dan Sifat-sifat. Bila tidak, Sama’ akan menceburkan dalam kekufuran murni. Dan berikutnya adalah Sama’ dengan syarat adanya tingkah ruhani. Syarat penyimaknya haruslah fana’ dari segala tingkah laku kemanusiaan, dan bersih dari pengaruh-pengaruh duniawi, dengan menampilkan aturan-aturan hukum hakikat.”
Diriwayatkan dari Ahmad bin Abul Hawary, yang mengatakan, ‘Aku bertanya kepada Abu Sulaiman tentang Sama’, maka beliau menjawab, ‘Di antara dua yang paling kucintai dibanding satu’.”
Abu Husain an-Nury ditanya tentang Sufi, maka jawabnya, “Siapa yang mendengar Sama’, dan memberi pengaruh kepada sebab-sebab yang ada.”
Abu Utsman Said al-Maghriby berkata, “Siapa yang mengaku telah melakukan penyimakan, sementara dia tidak mendengar suara burung dan gerat-gerit pintu, serta guncangan angin, maka dia itu adalah si sufi yang mengaku-aku.”
Ibnu Zairy mempunyai seorang syeikh utama dari salah seorang murid al Junayd. Ketika sedang menghadiri majelis Sama’, maka bila berkenan ia membeberkan sarungnya dan duduk. Lantas berkata, “Sufi beserta hatinya, walaupun tidak menganggap kebaikannya.” Dia juga berkata, “Sama’ hanya bagi yang memiliki nurani hati,” sambil berkata begitu dia berjalan dan mengambil sandalnya.
Ruwaym bin Ahmad ditanya mengenai ekstase para Sufi ketika sedang Sama’, dia berkata, “Mereka menyaksikan makna-makna yang lenyap dari yang lain, lalu Anda mengisyaratkan kepada mereka yang tertuju padaku, lantas mereka mencegah agar tidak terlalu gembira. Kemudian datanglah tangis, sehingga kegembiraan itu berubah tangisan. Di antara mereka ada yang merobek bajunya, ada pula yang berteriak, ada yang menangis: masing-masing menurut kadar keterkaitan hatinya (dengan Tuhannya).”
Al-Hushry berkata, “Apa yang harus kulakukan dengan Sama’ yang terputus, apabila orang yang sedang menyimak memutuskannya? Karena itu selayaknya dalam penyimakan Anda selalu bersambung, tidak terputus.” Dia juga berkata, “Seyogyanya ia merasa dahaga selamanya, minum (ruhani) selamanya. Bila minumnya bertambah, bertambah pula dahaganya.” Mujahid dalam menafsirkan firman Allah Swt, “Maka, mereka dalam taman surga, senantiasa bergembira.”
(Q.s. Ar-Ruum: 15).
Maksudnya adalah Sama’ terhadap bidadari dengan suara-suaranya yang merdu sekali:
Kami adalah bidadari-bidadari yang abadi, tak akan pernah mati selamanya. Kami adalah kenikmatan-kenikmatan yang tak pernah putus selamanya.
Dikatakan, Sama’ adalah panggilan, sedangkan ekstase adalah tujuan. Abu Utsman Sa’id ash-Sha’luky berkata, “Orang yang menyimak berada antara tirai dan ketampakan: Tirai mendorong rasa dahaga, sedangkan penampakan mewariskan rasa riang. Tirai telah melahirkan gerakan para penempuh, yaitu wahana kelemahan dan ketakberdayaan. Sementara penampakan, melahirkan ketenangan orang-orang yang sampai kepada-Nya, yaitu wahana istiqamah dan ketenangan. Itulah sifat penghadiran di hadirat Ilahi. Di dalamnya tiada lagi kecuali layu di bawah bisikan-bisikan rasa takut bercampur hormat.”
Allah Swt. berfirman:
“Maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata, ‘Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)’.”
(AI-Ahqaaf 29).
Abu Utsman Sa’id al-Hiry berkata, “Sama’ ada tiga arah: satu arah bagi para murid dan para pemula, mereka sama-sama meminta kemuliaan dengan tingkah laku ruhaninya; dan kami khawatir mereka terkena fitnah.dan riya’. Arah kedua bagi mereka yang menepati kebenaran, yang menuntut nilai tambah dalam ihwal kondisi ruhaninya, dan mereka menyimak dari semuanya agar serasi dengan waktu-waktu mereka. Arah ketiga bagi ahli istiqamah dari kalangan orang-orang yang ma’rifat. Mereka sama sekali tidak memilih atas apa yang datang dari Allah dalam hatinya berupa gerak ataupun diam.”
Abu Sa’id Ahmad al-Kharraz berkata, “Barangsiapa mengaku dirinya terliputi ketika sedang memahami, yakni dalam Sama’, dan gerakan-gerakan selalu bersifat naluriah baginya, maka tanda-tandanya adalah dia memperbaiki tempat duduk yang di sana dia menemukan ekstase.”
Syeikh Abu Abdurrahman berkata, “Aku menyebut hikayat ini kepada Sa’id al-Maghriby. Lantas beliau berkata, “Inilah yang terindah. Tanda-tandanya yang benar, tak tersisa dalam suatu majelis kecuali rasa riang dengan majelis tersebut, dan tak ada yang membatalkan di dalamnya kecuali dia merasa tidak senang darinya.”
Ibnul Husain berkata, “Sama’ terdiri tiga dimensi: Di antara mereka ada yang menyimak melalui wataknya; ada pula yang menyimak melalui kondisi ruhaninya; dan ada yang menyimak melalui Allah Swt.
Orang yang menyimak melalui watak, ada dari kalangan awam maupun khusus. Sebab salah satu watak manusiawi adalah merasa nikmat mendengarkan suara merdu.
Sedangkan yang menyimak melalui kondisi ruhani, adalah dia yang merenungkan apa yang tiba padanya, berupa cacian dan khitab, bertemu atau pisah, dekat ataupun jauh, rasa kecewa terhadap apa yang hilang atau haus terhadap keinginan di masa depan, menepati janji atau membenarkan/ meyakini janji, merusak terhadap janji ataupun ingat kesusahan, merasa rindu atau takut berpisah, senang bertemu dan takut berpisah, atau yang sejenisnya.




