“Dan andaikata kami dikembalikan (ke dunia) sehingga kami dapat beramal yang lain dari yang pernah kami amalkan.”
Lalu Anda berkata kepada mereka, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air dari yang dilimpahkan kepada kalian!”
“Ini haram dan tidak boleh bagi kamu!” jawab mereka, “Bukankah kamu dulu memperolok dan menertawakan kami? Maka saat ini kami harus memperolok dan menertawakan kamu sebagaimana kamu dulu memperolok kami.”
Keringat hati Anda terus mengalir karena rasa penyesalan yang amat pedih, yang hal itu pun tiada gunanya bagi Anda. Namun Anda menghibur diri dengan berucap, “Maut membebaskan aku dan hal ini.”
Begitulah kondisi dan hal-ihwal orang yang meninggalkan kepatuhan, orang yang selalu melanggar perintah Allah — tersingkap nanti di akhirat. Sedangkan maut tidak dapat membebaskannya, bahkan justru itu merupakan penyesalan yang abadi. Rasa sakit dan pedih yang dialaminya selalu bertambah dari hari ke hari. Tentang hal ini difirmankan oleh Allah Swt.:
“Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadam mu!” Mereka menjawab, “Sesungguhnya Allah telah mengharamkan keduanya itu atas orang-orang kafir.” (Q.s. Al-A’raaf: 50).
Demikian pulalah cahaya wajah yang berseri, dilimpahkan kepada orang-orang ahli ma’rifat dan orang-orang yang taat, yang karenanya merasakan kelezatan dan kenikmatan yang tidak dapat disetarakan dengan kenikmatan duniawi.
Bahkan orang terakhir yang keluar dari neraka dilimpahi kenikmatan yang nilainya sepuluh kali lipat dari kenikmatan duniawi, seperti yang dituturkan dalam sebuah hadis.
Pengertiannya, bukan kelipatan kadar kelezatan itu dengan rasa, tapi dengan hakikat, dengan nilai; sebagaimana permata itu sepuluh kali lipat lebih berharga dari kuda. Bukannya dengan ditimbang atau dan tolok ukur berat jenis, tapi dengan nilai barangnya, sebab nilai permata itu sepuluh kali lipat dari kuda.
Kenikmatan ukhrawi yang tidak mereka rasakan, atau tidak dilimpahkan kepada mereka, tidak seperti orang yang tidak mengasihani budaknya dengan cara memarahinya atau tidak memberi kebebasan. Tapi seperti halangan yang dilakukan Allah terhadap warna putih untuk menjadi warna hitam dalam kondisi putih, atau terhadap panas untuk menjadi dingin dalam kondisi panas. Di sini tidak tergambar adanya perubahan.
Misalnya, orang tua yang diliputi kebodohan bertanya kepada orang yang ilmu pengetahuannya mumpuni. Orang tua ini secara alamiah memang bebal, sama sekali tidak pernah terlibat dalam dunia ilmu maupun belajar bahasa.
“Limpahkan detail-detail pengetahuan Anda pada hatiku!” pinta orang tua itu.
“Allah Swt. telah mengharamkan (ilmu) itu kepada orang-orang bodoh,” kata si alim.
Artinya, bahwa pelimpahan ilmu tersebut harus proporsional, sesuai dengan kesiapan hati si penerima, kecerdasan naluriahnya, disiplin dan ketekunannya terhadap pengetahuan, setelah mendalami bahasa Arab dan ilmu-ilmu lainnya.
Apabila kesiapan menerima ilmu itu tidak ada —sebagaimana mustahil, panas melimpah pada dingin yang permanen—Anda jangan berpraduga Allah akan marah kepada Anda dengan menurunkan siksaan-Nya. Namun Anda jangan tertipu oleh tipu daya nafsu, dengan pengandaian pada grasi-Nya, sembari mengatakan, “Allah tidak akan menyiksaku, dan maksiatku tidak berbahaya bagi-Nya.” Padahal siksa itu akibat maksiat, seperti kematian yang diakibatkan racun.
Rasa penyesalan itu disebabkan oleh dua sifat kontradiktif yang bersifat abadi: Misalnya, orang yang dibelenggu leher dan kakinya dengan tali, yang membuatnya menderita adalah konflik dua sifat yang bertentangan tersebut. Bukan karena bentuk tali dan belenggunya. Namun sifat nalurinya yang terseret pada kehinaan.
Halangan yang memaksa melalui tali, telah menghalangi nalurinya, hingga melahirkan kepedihan. Begitu pula ruh insani yang tumbuh dari ruh Ilahi dengan segenap wataknya. Pada prinsipnya ruh tersebut merindukan derajat yang luhur, alam arwah dan bersama-sama di tempat yang tinggi. Hanya saja, belenggu nafsunya menyeret kejurang terhina di tempat terbawah. Yaitu nafsu syahwat dunia. Suatu sifat yang selalu kontra dengan sifat alamiah dan menghalangi penerapan sifat alamiah tersebut.
Kepedihan itu lahir dari kontradiksi jiwa tersebut. Api pun terasa menyakitkan, juga akibat kontradiksi. Orang yang tersiksa, disebabkan adanya unsur susunan yang bersambung. Sementara api kontra terhadap kesinambungan dengan pemisahan antara unsur-unsurnya. Bila Anda belum pernah melihat api, serta Anda mendengar sesuatu yang lembut menyentuh badan dan menyakitkan diri Anda, tentu Anda mengingkari. Sembari Anda katakan, “Sesuatu yang tidak berkerangka bisa membuat sakit dengan sentuhannya?”
Pertentangan sifat-sifat tersebut menimbulkan rasa sakit dan pedih, baik itu karena faktor luar ataupun dalam. Bisa kalajengking dapat menimbulkan rasa sakit di dalam organ tubuh, karena kadar dingin dari bisa tersebut berlawanan dengan kadar panas tubuh. Karenanya, Anda jangan mengira bahwa seluruh rasa sakit itu bersumber dari luar.
Bila Anda berkata, “Kalajengking itu mematuk dari luar.” Perlu Anda ketahui, sakit gigi dan mata tidak terbatas pada keduanya saja, tetapi disebabkan oleh aturan senyawa dan dalam tubuh yang kontra pada senyawa mata dan gigi.
Ketahuilah, pertentangan dua sifat di dalam kalbu, rasa pedih dan sakitnya melebihi rasa sakit yang dialami gigi dan mata.
Si bakhil yang riya’, bila dimintai sedekah di tengah-tengah khalayak ramai, karena mereka ingin dikenal kedermawanannya, hatinya merasa pedih karena pertentangan kedua sifat tersebut dalam hatinya. Di satu sisi, sifat bakhilnya mendesak untuk tidak memberikan sedekah, sedangkan di sisi lain, kesenangannya untuk dihormati mendorongnya supaya memberikan sedekah. Kalbunya yang bertentangan itu serasa orang yang digergaji, terbelah menjadi dua.
Begitulah perumpamaan rasa penyesalan karena hilangnya kesempatan dari apa yang dicintainya. Kadarnya bergantung pada tersingkapnya celah yang hilang. Hakikat hal ini tidak Anda ketahui di alam ini, Anda akan mengetahuinya dalam alam kasyf. Inilah berita besar, sedangkan kebanyakan manusia berpaling darinya.




