Ketiga bentuk siksa tersebut berlaku secara runtut dengan serangkaian tahapan sebagaimana berikut:
Klasifikasi pertama yang ditemui oleh mayit yang disiksa, yakni kepedihan karena perpisahan dengan yang dicintai. Itulah ular naga cinta dunia. Karenanya, kiasifikasi pertama ini dinisbatkan pada siksa kubur. Sebab, pertama kali yang paling dirasakan oleh kalbu orang mati adalah perpisahan dengan apa yang telah hilang darinya, seperti kedudukan, kehormatan, harta-benda dan nikmat. Kemudian tersingkap esensi seluruh amal perbuatan termasuk hakikatnya yang buruk. Ini terjadi ketika kematian dan setelah periode tertutupnya dunia.
Segala hal yang akibat siksaannya lebih dahsyat setelah kematian, penyingkapannya lebih bersifat langsung; sehingga terbuka kekeliruan dan penghinaan melalui penyingkapan tersebut. Karena itulah, penyingkapan berikutnya dinisbatkan dengan hari Kiamat. Karena hari Kiamat merupakan wahana pertengahan antara alam kubur dan tempat keabadian. Karena itu pula Allah Swt. berfirman:
“Pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang berirnan bersama dengan dia.” (Q.s. At-Tahrim: 8).
Yakni, pada hari Kiamat.
Sedangkan rasa penyesalan karena sirnanya sesuatu yang dicintai terjadi pada tahap akhir, yaitu pada saat menempati hunian abadi di neraka. Tentang hal Ini Allah swt. berfirman, “Limpahkanlah kepada kami sedikit air atau makanan yang telah direzekikan Allah kepadamu.” (Q.s. Al-A’raaf: 50).
Bahwa jauhnya wahana dari dunia kadang-kadang meringankan beban siksa, karena rindu pada dunia.
Panjangnya masa tersingkapnya dosa, mendorong dirinya untuk keluar dari wahana penyingkapan kehinaan.
Dinding siksa yang hina justru ketika penyingkapan dinding kehinaan yang muncul itu dirobohkan. Kemudian penyingkapan kehinaan dan rasa hina itu diringankan, maka, ketika hilangnya siksa hanya sedikit, rasa sesalnya semakin bertambah. Sebab ia merasakan besarnya nilai keringanan itu, dan seterusnya, tidak ada batas akhirnya.
Semua ini bisa Anda ketahui secara jelas, bila Anda mengenal diri Anda, bahwa Anda sebenarnya tidak mati. Namun mata Anda yang terpejam, telinga Anda yang tuli dan tubuh Anda yang lunglai.
Sedangkan hakikat Anda sebenarnya tidak binasa karena maut. Yang berubah hanya keadaan Anda.
Sementara seluruh pengetahuan, penemuan-penemuan batin dan nafsu Anda, tetap bersama Anda.
Siksa yang menimpa Anda, sebenarnya adalah perpisahan dengan apa yang Anda senangi, dan terbukanya kekeliruan Anda pada saat penyingkapan — di saat itu, disamping rasa penyesalan atas punahnya apa yang Anda hargai setelah kematian, bukan sebelumnya.
Semua itu merupakan awal dan siksa inderawi. Dan itu benar adanya, serta memiliki waktu-waktu tertentu; seperti yang dijelaskan dalam beberapa ayat Al-Qur’an dan hadis.
Sampai di sinilah pembahasan kita tentang masalah tersebut agar tidak melampaui batas pembahasan buku ini. Namun begitu, kami tetap berharap, mudah-mudahan rangkaian pembahasan tadi dapat menyelamatkan kita dari jeratan orang-orang sombong yang bodoh. Lebih-lebih berpaling kepada mereka.
Firman-Nya:
“Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.” (Q.s. An-Najm: 29-30).
Dengan demikian, cukuplah pembahasan kita dalam Kitabul Arba’in fi Ushuliddiin, yang menutup kitab Jawahirul Qur’an.
Bagi yang berhasrat untuk mendalaminya secara lebih rinci, maka dipersilakan merujuk Bab “Dzikrul Maut” pada Kitab Ihya’ Ulumuddin.
Tujuan utama buku Ini menguraikan Kitab Jawahirul Qur’an, sehingga rahasia ilmu-ilmu agama terkuak. Untuk meraihnya, tidak pernah mengalami kehampaan, kecuali jika didorong oleh kecintaan dunia, untuk obyek duniawi dan sebagai piranti bagi pekerjaan haram. Ilmu-ilmu demikian pasti tidak mendapat tempat dalam buku ini.




