Sang muadzin itu sudah bisa merenung, bahwa sedikit saja ia bergeser dari alam jasmani yang inderawi dengan perantaraan tidur, ruh atau hakikat amal perbuatannya telah tersingkap. Namun setelah jauh berada dalam alam fantasi —karena angan-angan orang yang tidur tidak hilang— fantasinya itu diselubungi oleh perumpamaan-perumpamaan yang difantasikan. Perumpamaan atau lambang itu adalah: cincin dan kerja menutup; tapi lambang ini menunjukkan pada hakikat amal perbuatan muadzin tersebut, yakni hakikat adzan itu sendiri sebelum subuh. Sebab, alam tidur lebih dekat pada alam akhirat, jadi kesamaran dalam hal ini lebih ringan, dan bukan berarti lepas atau bebas dari kesamaran-kesamaran, karena itulah mimpi tersebut butuh ta’bir.
Andaikata seseorang bertanya kepada si muadzin tadi, “Apakah kamu tidak malu menutup mulut para laki-laki dan vagina kaum wanita?”
Tentu dia akan menjawab, “Na’udzubillah, aku akan melakukan hal itu? Lebih baik aku disembelih daripada melakukannya!”
Dia tidak mengakuinya, karena dia tidak tahu tentang hal itu, padahal dia melakukannya, karena dia tidak mampu memahami dan mencermati hakikat dan esensi segala sesuatu.
Demikian pula jika Anda memakan daging yang baik, karena keyakinan Anda bahwa itu adalah daging burung. Lalu ada orang berkata kepada Anda, “Apakah Anda tidak merasa malu memakan daging saudara Anda yang telah mati, yaitu si Fulan?”
Niscaya Anda pasti menjawab, “Ma’adzallah, aku akan melakukan hal tersebut? Mati kelaparan lebih kusukai daripada melakukan demikian!”
Kemudian Anda tahu dan melihat bahwa itu adalah daging saudara Anda: yang telah dimasak, kemudian dihidangkan kepada Anda. Bayangkan, bagaimana kira-kira Anda merasakan kehinaan, dan terbukalah kekeliruan Anda dengannya, tubuh Anda pasti merasakan kepedihan karenanya.
Begitulah orang-orang yang suka ghibah melihat dirinya nanti di akhirat, karena esensi dan hakikat ghibah adalah, tindakan merobek-robek kehormatan dan harga diri saudara-saudara sesama Muslim, dan merasa senang dengan ghibah yang dilakukannya.
Di alam akhirat nanti, esensi dan hakikat segala sesuatu jadi tersingkap jelas. Demikian pula jikaAnda melempar batu ke tembok. Lalu ada seseorang berkata kepada Anda, “Apakah kamu tidak malu melakukan hal itu, padahal batu-batu yang kamu lemparkan itu terpental dari tembok, kemudian jatuh di rumahmu mengenai biji mata anak-anakmu, maka berarti kamu telah mencukil seluruh mata anak-anakmu?”
Anda pasti menjawab, “Aku berlindung kepada Allah, dari melakukan hal demikian.”
“Cobalah masuk ke dalam rumahmu!” kata orang tadi.
Lalu Anda masuk, ternyata benar demikian. Anak-anak Anda tercukil matanya karena perbuatan Anda.
Betapa jelasnya kekeliruanAnda, dan betapa terbakarnya hati Anda karena rasa penyesalan yang sangat mendalam atas perbuatan yang dilakukan atas dasar penilaian yang remeh atau kecil, padahal begitu besar di sisi Allah Swt.
Inilah esensi rasa dengki Anda kepada saudara Anda. Anda menghasudnya, tapi tidak membahayakannya, malah berbalik kepada Anda dan membinasakan agama Anda, kebaikan-kebaikan Anda dipindah kepadanya padahal kebaikan itu adalah penyebab kebahagiaan akhirat, kebahagiaan yang abadi, yang lebih berharga dari mata anak Anda.
Jika hakikat ini telah tersingkap kepada Anda, lalu bayangkan, pikirkan, bagaimana Anda terbakar dengan api kejelekan-kejelekan Anda, sedang tubuh Anda terpisah?
Al-Qur’an banyak memaparkan tentang segala hakikat arwah. Karena itulah, Allah Swt. berfirman tentang ghibah:
“Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.” (Q.s. Al-Hujurat: 12).
Allah Swt. juga berfirman tentang dengki: “Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri.” (Q.s. Yunus: 23).
Cukup bagi Anda sebagai perumpamaan dan contoh, yaitu:
Perumpamaan adzan, ghibah, dan sifat hasud di atas. Lalu, silakan Anda menganalogikan sendiri setiap perbuatan yang dilarang oleh agama! Hakikat seluruh perbuatan yang dilarang Allah itu sangat buruk bagi matahati yang melihat dalam cermin cahaya Allah Swt.
Ketiga, penyesalan atas raibnya apa yang disenangi dan dicintai.
Bisa Anda bayangkan sendiri perumpamaan sebagaimana berikut:
Anda bersama beberapa teman Anda masuk ke tempat yang gelap. Di Situ terdapat batu-batu yang tidak diketahui warnanya. Teman-teman Anda berkata, “Bawalah dan batu-batu ini yang bisa Anda bawa, barangkali ada yang bermanfaat bagi kita setelah keluar dari tempat gelap ini!”
“Untuk apa batu-batu ini? Apakah aku akan dibebani batu-batu itu, padahal aku tidak tahu manfaatnya? Ini benar-benar tindakan bodoh!” kata Anda.
Orang yang bijak tentu tidak membiarkan waktu luang untuk melakukan pembayaran secara tunai, karena mengharapkan penundaan pembayaran.
Masing-masing teman Anda tadi mengambil batu-batu tersebut sesuai dengan kemampuannya. Karena itu, Anda mengklaim mereka sebagai orang tolol dan mencemoohkannya, karena mereka membebani diri dengan beban yang berat; sedangkan Anda berlenggang dengan penuh sukaria di sepanjang jalan yang dilalui sambil memperolok dan menertawakan mereka.
Setelah melewati tempat gelap itu, mereka pun melihat bebatuan yang dibawanya, ternyata adalah batu-batu permata dan yaqut, setiap batu itu seharga seribu dinar.
Maka, mereka pun hendak menjualnya, karena itu mereka akan menggapai kehormatan dan kenikmatan. Mereka pun menjadi orang-orang yang kaya di muka bumi, bahkan menjadi penguasa.
Selanjutnya mereka berbalik memperolok Anda, menyalahkan, lalu menyuruh Anda untuk mengawasi binatang-binatang ternaknya, supaya mereka dapat memberikan sedikit makanan setiap hari kepada Anda dari sisa-sisa makanan.
Bagaimana kira-kira Anda menyaksikan nyala dan bara api penyesalan dalam kalbu Anda, tubuh Anda juga merasakan rasa pedih yang dideritanya?
Beberapa kali Anda berkata: “Amat besar penyesalan atas kelalaianku (dalam menunaikan kewajiban) terhadap Allah.” (Q.s. Az-Zumar: 56).




