Ikhlas dan Jujur

PILAR KEDUA : Keikhlasan Niat.
Allah Swt. telah berfirman:
“Padahal mereka tidak disuruh, kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus.” (Q.s. Al-Bayyinah: 5).

“Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik).” (Q.s. Az-Zumar: 3).

Firman-Nya pula:
“Kecuali orang-orang yang tobat dan mengadakan perbaikan dan berpegang teguh kepada (agama) Allah yang tulus ikhlas (mengerjakan) agama mereka karena Allah.” (Q.s. An-Nisa’: 146).

Nabi Muhammad Saw. bersabda, ”Allah Swt. berfirman dalam Hadis Qudsi: ‘Ikhlas itu adalah salah satu rahasia dan rahasia-Ku, yang Kutitipkan dalam kalbu beberapa hamba-Ku yang Kucintai’.”

Rasulullah Saw. bersabda kepada Mu’adz, “Ikhlaslah dalam beramal, niscaya kamu dapat imbalan (banyak) dan amal yang sedikit .“

Sabda beliau pula: “Siapa pun seorang hamba melakukan amal perbuatan dengan ikhlas selama empatpuluh hari, maka memancarlah hikmah dari kalbu melalui lisannya.”

Hakikat Ikhlas
Hakikat ikhlas adalah pemusatan satu motivasi. Lawannya adalah dualisme. Yakni, dualisme dalam motivasi, sehingga setiap hal yang berkembang selalu dicampuri dengan unsur lain. Apabila terbebas dari segala bentuk campur unsur lain bisa disebut murni.

 

Anda telah tahu, bahwa niat itu merupakan pendorong. Orang yang beramal tanpa riya’ itu disebut mukhlish. Orang yang beramal hanya karena Allah disebut mukhlash. Namun ada istilah khusus bagi keduanya. Ingkar misalnya, adalah bentuk kecenderungan, namun kecenderungan dalam konteks kebatilan. Kami telah mensinyalir tentang punahnya keikhlasan karena intervensi riya’, namun demikian, rasa ikhlas itu dapat punah pula karena motif-motif dan tujuan-tujuan lainnya. Orang yang berpuasa kadang-kadang bermaksud untuk memperoleh perlindungan, kesehatan yang prima yang bisa dilahirkan dengan berpuasa. Orang yang memerdekakan seorang budak bisa saja bertujuan supaya aman dari kejahatan budak tersebut.
Orang yang menunaikan ibadat haji mungkin saja bertujuan agar sehat dengan gerakan-gerakan tubuh dalam perjalanannya itu. Atau dia lari dari problem keluarga, atau lari dari penganiayaan musuh ataupun kejenuhan bersama keluarga.

Seorang pelajar menuntut ilmu, ada pula yang bertujuan agar mudah mencari penghidupan, atau agar aman —dengan kekuatan ilmu yang diperoleh— dari kezaliman, atau untuk menulis buku-buku agar bisa menulis dengan lancar. Atau dia melakukan haji dengan berjalan kaki untuk memperingan bekal. Dia berwudhu’ untuk membersihkan diri atau agar mendinginkan organ tubuh.

Orang mandi, ada yang berniat agar berbau sedap. Beri’tikaf untuk memperingan beban tempat tinggal. Dia berpuasa untuk memperingan beban untuk memasak dan membeli makanan. Memberi sedekah untuk menahan diri dari kejembelan seorang pengemis, atau menjenguk orang sakit agar dijenguk pula bila sakit. Niat-niat dan tujuan-tujuan semacam itu kadang-kadang lepas dan kadang-kadang bercampur-aduk dengan tujuan ibadat. Jika salah satu tujuan seperti disebutkan di atas terbetik dalam sebuah amal perbuatan, itu artinya keikhlasan telah punah. Ini merupakan suatu hal yang cukup alot dan sulit. Karena itulah sebagian mereka berkata, “Ikhlas satu jam adalah kesuksesan abadi. Namun hal itu sangat berat.”
“Berbahagialah orang yang satu langkah hidupnya tidak ditujukan, kecuali demi Allah Swt.,” kata Abu Sulaiman Ad-Darany.
Ma’ruf Al-Karkhy memukul-mukul dirinya seraya berkata, “Wahai jiwaku, wahai diriku, bertulus-ikhlaslah engkau, agar engkau selamat!”

Derajat Dualisme.
Perlu diingat, bahwa dualisme niat itu berperingkat: Kadang-kadang menang, kadang-kadang kalah, tapi terkadang juga berimbang (sejurus) dengan tujuan ibadat, dan itu tidak menafikan pahala dalam hal-hal mubah. Sungguhpun unsur lain dari tujuan karena Allah itu ada, tapi pahala atau imbalan yang diterimanya sesuai dengan kadar unsur tersebut, yang mencampurinya. Sedangkan sisanya tidak memperoleh imbalan pahala.
Jika dalam suatu ibadat yang harus dilaksanakan dengan ketulus ikhlasan kepada Allah Swt., unsur dualisme niatnya menang atau lebih tinggi, maka ibadat itu batal (gugur). Kemudian apabila dualisme niat itu sama (sebanding) atau kalah, maka keikhlasannya batal. Bisakah seluruh unsur dualisme itu dinafikan secara keseluruhan?
Dalam hal ini terdapat beberapa penjelasan dalam Bab “Riya”. Untuk lebih jelasnya, silakan Anda merujuk pada kitab Al-Ihya’.

PILAR KETIGA : Kejujuran
Kejujuran adalah kesempurnaan ikhlas. Allah Swt. berfirman, ”Ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah …“ (Q.s. Al-Ahzab: 23).

Nabi Muhammad Saw. bersabda: “Sesungguhnya orang yang jujur dan membiasakan diri berlaku jujur, maka dicatat di sisi Allah sebagai orang yang sangat jujur.” (H.R. Bukhari-Muslim).

Allah Swt. berfirman: “Ceritakanlah (hai Muhammad) kisah Ibrahim di dalam AlKitab (Al-Qur’an) ini. Sesungguhnya ia adalah seorang yang sangat membenarkan (sangat jujur) lagi seorang Nabi.” (Q.s. Maryam: 41).

Ada enam tingkatan kejujuran. Orang yang mencapai derajat kejujuran yang sempurna layak disebut sebagai orang yang benar-benar jujur, antara lain:
Pertama, jujur dalam perkataan, di setiap situasi, baik yang berkaitan dengan masalalu, kini dan yang akan datang. Kejujuran ucapan ini punya dua sisi kesempurnaan:

  1. Waspada terhadap ucapan yang bersifat pamer. Walaupun ucapan itu sendiri benar adanya, tapi dipahami sebagai lawan kata dan kebenaran. Kedustaan yang diwaspadai dipahami sebagai lawan kebenaran, sebab hati mendapatkan bentuk kedustaan yang berasal dari dusta lisan. Dan bila arah hati telah bergeser dari kebenaran menuju arah yang menyimpang, maka kebenaran itu tidak dapat mengejawantah pada hati secara benar, sehingga penglihatan-penglihatan hati tidak benar/jujur pula. Penampakan amal itu tidak masuk dalam kategori ini sebab ia sendiri merupakan kejujuran, atau suatu hal yang benar adanya. Namun, penampakan amal itu terjerumus dalam larangan.
  2. Masa bodoh terhadap arti ucapan. Ini tidak seharusnya dilakukan, kecuali dengan tujuan yang benar. Penyempurnaan sisi kedua ini adalah hendaknya memelihara kejujuran dalam seluruh pembicaraan bersama Allah Swt. Jadi, ketika mengucapkan, ”Aku hadapkan wajahku,” kemudian dalam hatinya terbetik sesuatu selain Allah, maka dia itu adalah pendusta.

    Selanjutnya, pada saat mengucapkan, “Kepada-Mu aku menyembah,” padahal dirinya adalah budak dunia atau budak hawa nafsunya, atau budak orang lain, tentu sulit sekali pembenaran ucapan itu pada hari Kiamat nanti. Karena itulah, Nabi Isa as. berkata, “Wahai budak dunia!”

Dan Nabi Saw. kita bersabda: “Celakalah hamba dirham dan hamba dinar!” (Al-Hadis).

Harus dibaca juga..

Kedua, kejujuran dalam niat. Hal itu berupa pemurnian, yang menjurus pada kebaikan. Jika di dalamnya terdapat unsur campuran lainnya, berarti kejujuran kepada Allah Swt. telah sirna. Karenanya, orang semacam itu disebut, “Si jujur bermuka masam, dan si jujur bermuka manis”.
Apabila murni, hal itu dikembalikan pada substansi keikhlasan itu sendiri.

Ketiga, kejujuran dalam bertekad. Seseorang bisa saja mempunyai tekad yang bulat untuk bersedekah bila dikaruniai rezeki. Juga bertekad untuk berbuat adil bila dikaruniai kekuasaan. Namun adakalanya tekad itu disertai dengan kebimbangan, tapi juga merupakan kemauan bulat yang tanpa keragu-raguan. Orang yang mempunyai tekad yang bulat lagi kuat disebut sebagai orang yang benar-benar kuat dan jujur.

Keempat, memenuhi tekad. Seringkali jiwa dibanjiri dengan kemauan yang kuat pada mulanya, tapi ketika menginjak tahap pelaksanaan, bisa melemah. Karenajanji tekad yang bulat itu mudah, namun menjadi berat ketika dalam pelaksanaan.
Oleh karena itu, Allah Swt. berfIrman: ”Ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah.” (Q.s. A1-Ahzab: 23).

Allah swt. juga berfirman: “Dan di antara mereka ada yang telah berikrar kepada Allah, ‘Sesungguhnya jika Allah memberikan sebagian karunia-Nya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah … dan pastilah kami termasuk orang-orang yang saleh.’ Maka setelah Allah memberikan kepada mereka sebagian dari karunia-Nya, mereka kikir dengan karunia itu, dan berpaling, dan mereka memanglah orang-orang yang selalu membelakangi (kebenaran). Maka Allah menimbulkan kemunafikan pada hati mereka sampai pada waktu mereka menemui Allah, karena mereka telah memungkiri terhadap Allah apa yang telah mereka ikrarkan kepada-Nya dan (juga,) karena mereka selalu berdusta.” (Q.s. At-Taubah: 75-7).

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.