Kelima, kejujuran dalam beramal. Tidak mengekspresikan hal-hal batin, kecuali batin itu sendiri memang demikian adanya. Artinya, perlu adanya keselarasan dan keseimbangan antara yang lahir dan yang batin. Orang yang berjalan tenang misalnya, menunjukkan bahwa batinnya penuh dengan ketentraman. Bila ternyata tidak demikian, dimana kalbunya berupaya untuk menoleh kepada manusia, seakan-akan batinnya penuh dengan ketentraman, maka hal itu adalah riya’. Sebaliknya, bila hatinya tidak berpaling kepada manusia, tapi tiba-tiba lalai, itu bukanlah riya’. Namun dengan demikian, kejujuran menjadi sirna, karenanya Rasulullah Saw. pun berdoa: “YaAllah, jadikanlah batinku lebih baik daripada lahirku, dan jadikanlah untukku ekspresi lahir yang baik.”
Abdul Wahid berkata, “Hasan Bashri adalah orang yang paling tekun melakukan amal yang diperintahkan, dan paling keras meninggalkan sesuatu yang dilarang. Aku belum pernah menyaksikan orang yang batinnya sama dengan lahirnya.”
Keenam, kejujuran dalam maqam-maqam agama. Ini adalah peringkat kejujuran tertinggi. Seperti maqam takut (khauf), harapan (raja’), cinta (hubb), ridha, tawakal dan lain-lain.
Seluruh maqam tersebut memiliki titik tolak, hakikat dan puncak akhir (klimaks). Sebab dinyatakan pula, “Ini adalah rasa takut yang benar (al-khaufus-shadiq)”, dan, ”ini ada!ah kesenangan yang jujur/ benar (as-syahwah as-shadiq)”. Itu!ah sebabnya Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman hanyalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah, mereka itulah orang-orang yang benar.” (Q.s. Al-Hujurat: 15).
Firman-Nya pula: ”Akan tetapi, sesungguhnya kebaktian itu ialah kebaktian orang yang beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, Nabi-nabi, dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan salat dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); ….“ (Q.s. Al-Baqarah: 177).
Inilah tingkatan-tingkatan kejujuran. Orang yang mampu mewujudkannya secara keseluruhan, dialah orang yang benar-benar jujur. Orang yang belum mampu mencapai sebagian peringkat kejujuran, tingkatan dirinya sesuai dengan kadar peringkat kejujuran yang telah digapainya.
Di antara sejumlah kejujuran adalah, pembenaran kalbu bahwa Allah Swt. adalah Maha Pemberi rezeki, dan bertawakal kepada-Nya. Inilah yang perlu kita ingat!




