Jadi niat itu adalah, kecenderungan atau kemauan kuat yang merupakan motivator bagi kekuatan. Karenanya, orang yang berperang, bisa saja motifnya adalah kecenderungan pada harta-benda, jadi itulah niatnya. Bisa juga motifnya adalah kecenderungan pada pahala akhirat, maka itulah niatnya.
Jadi niat itu adalah kemauan yang mendorong. Kemudian, makna dan keikhlasan niat itu sendiri adalah kemurnian unsur pendorong, yang bersih dari unsur lainnya.
Dorongan Niat
Jika suatu amal perbuatan dapat terealisasi dengan dorongan niat, maka niat dan amal merupakan ibadat yang sempurna. Niat merupakan satu dari dua sisi ibadat, namun merupakan sisi yang terbaik dan paling vital. Karena amal perbuatan dengan organ tubuh tidak akan mengenai sasaran, kecuali punya pengaruh dalam hati, yakni agar cenderung pada kebaikan dan jauh dari keburukan. Sehingga berpikir dan berdzikir mampu mengantarkan pada kesenangan jiwa dan ma’rifat, yang keduanya merupakan faktor bagi kebahagiaan di akhirat. Jadi, tujuan dan maksud dari meletakkan dahi di atas tanah bukanlah semata-mata peletakan dahi di atas tanah ansich; tetapi, ketundukan hati, sedangkan hati itu dapat dipengaruhi dengan perbuatan-perbuatan organ tubuh.
Tujuan zakat itu bukan untuk menghilangkan hak milik, tapi untuk memusnahkan kehinaan sifat kikir. Yakni, memotong ketergantungan hati dengan harta-benda. Tujuan dari penyembelihan binatang kurban bukanlah daging dan darahnya, tapi rasa ketakwaan hati dengan mengagungkan dan membesarkan syiar-syiar Allah Swt. Dan niat merupakan kecenderungan hati itu sendiri pada kebaikan. Itu adalah inti dari yang dituju dan lebih baik dari perbuatan organ-organ tubuh, dimana tujuan sebenarnya adalah penyerapan pengaruhnya ke dalam kalbu, yang menjadi tempat yang dituju. Karena itulah seluruh amal hati mewarisi pengaruh bentuk apa pun, namun bukan amal anggota badan. Perbuatan anggota badan tanpa kehadiran hati merupakan hal yang sia-sia belaka.
Walaupun memang disengaja, pengobatan sakit perut dengan obat yang diminum, jelas Iebih mujarab daripada obat yang dioleskan pada bagian luar perut, agar reaksi olesan obat itu mengalir ke dalam perut. Demikian sebaliknya, bila pengaruh obat oles itu tidak dapat meresap ke dalam perut, tentu sakit perut itu tidak akan sembuh. Dengan penjelasan ini, diketahuilah rahasia sabda Rasulullah Saw:
“Niat seorang Mukmin lebih baik dari amal perbuatannya.” (Al-Hadis).
Keutamaan Niat.
Niat memiliki keutamaan, karena di situlah inti tujuan itu bersemayam dan berpengaruh. Karena itu, banyak-banyaklah Anda berniat dalam seluruh amal perbuatan, bahkan Anda bisa beramal satu amaliah saja dengan niat yang banyak. Jika kemauan dan kecintaan Anda itu benar, niscaya Anda akan diberi petunjuk jalannya. Dalam hal ini, cukup bagi Anda satu contoh saja. Masuk dan berdiam di dalam masjid adalah ibadat, dan itu bisa dilakukan dengan delapan macam niat:
Pertama, Anda yakin bahwa masjid adalah rumah Allah (Baitullah). Orang yang memasuki masjid berarti datang menemui Allah; Anda pun berniat untuk berjumpa dengan Allah Swt.
Rasulullah Saw. bersabda, “Barangsiapa duduk di dalam masjid, berarti dia berkunjung kepada Allah Swt.” Hak pihak yang dikunjungi adalah menghormati pengunjungnya.
Kedua, niat untuk mengikat diri dengan Allah Swt. (murabathah).
Firman Allah Swt.: ”…dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga…” (Q.s. Ali-Imran: 200).
Ada yang berkomentar, maksudnya adalah menunggu datangnya salat setelah melaksanakan salat sebelumnya.
Ketiga, niat i’tikaf. Maksudnya adalah, mencegah pendengaran, penglihatan dan organ tubuh dari kebiasaan bergerak-gerak. I’tikaf adalah bentuk lain dari puasa.
Rasulullah Saw. bersabda:
“Kerahiban ummatku adalah duduk di dalam masjid.” (Al-Hadis).
Keempat, niat untuk khalwat dan meninggalkan segala kesibukan untuk merenungkan kehidupan akhirat, serta cara mempersiapkan diri menghadapinya.
Kelima, memusatkan diri untuk dzikir dan mendengarkan dzikir, atau memperdengarkannya. Sesuai dengan sabda Rasulullah Saw., “Barangsiapa menuju masjid untuk mengagungkan Allah Swt. atau menyebut-Nya, maka dia itu seperti pejuang di jalan Allah Swt.”
Keenam, bermaksud untuk mengamalkan ilmu, memberi peringatan kepada orang yang keliru ketika melakukan salat, ber-amar ma’ruf nahi munkar, sehingga dengan demikian kebaikan itu terwujud bersamanya.
Ketujuh, meninggalkan dosa-dosa karena malu kepada Allah Swt., dengan jalan melakukan niat yang baik dalam diri, perkataan dan amal perbuatan, sehingga orang yang berbuat dosa pun merasa malu.
Kedelapan, Anda berniat mengambil faedah pada saudara seakidah, sebab yang demikian itu merupakan simpanan berharga bagi kehidupan akhirat.
Masjid merupakan tempat utama (markas) pemeluk agama yang cinta kepada dan, dalam Allah. Analogikan seluruh amal perbuatan dengan hal ini, dengan berhimpunnya niat-niat tersebut dapat membersihkan amal-amal Anda, sehingga mencapai derajat amal muqarrabun. Sebagaimana juga, kontra pada niat baik tersebut dapat mengantarkan pada perbuatan setan. Seperti orang yang berdiam di masjid dengan niat berbicara batil, memfitnah dan membicarakan sifat-sifat orang lain, menemani orang yang suka bermain-main dan bersenda-gurau, memperhatikan wanita dan anak-anak, melihat orang yang berdebat dengan sesama teman dengan motivasi egois dan popularitas, agar orang-orang yang mendengarkan ucapan dan pembicaraannya merasa rendah.




