Terapi Ghibah.
Adapun cara menghindarkan diri dari kebiasaan berghibah adalah dengan merenungkan dan mengingat ancaman yang bakal dijatuhkan Allah swt. kepada orang yang suka berghibah. Dalam beberapa hadis beliau bersabda, diantaranya, “Sesungguhnya ghibah itu akan meng¬hanguskan kebaikan seseorang lebih cepat dari jilatan api atas kayu kering.” (Al-Hadis).
Dalam suatu hadis juga diungkapkan, bahwa kebaikan orangyang suka menggunjing itu akan dipindahkan kepada buku catatan orang yang digunjing. Sehingga akhirnya dia mendapatkan kebaikan jauh lebih sedikit, sementara ghibah membengkak. Pada akhirnya, amal baiknya habis.
Selanjutnya, untuk menghindari ghibah, seseorang perlu merenungi aib dirinya sendiri. Kalau la melihat aibnya, akan disibukkan upaya menerapi diri dan mengabaikan aib orang lain. Akhirnya la merasa dirinya kecil, dan bahaya atas -dirinya itu lebih besar dari pada nilai besar yang dimiliki orang lain.
Sebaliknya, jika la tidak merasa mempunyai aib, berarti kebodohan terhadap aib sendiri merupakan aib terbesar.
Sejak kapan manusia sunyi dari aib? Andaikata sekalipun la benar-¬benar tidak memiliki aib, la harus bersyukur kepada Allah swt. sebagai ganti dari ghibah. Sebab menggunjing manusia dan memakan bangkai itu termasuk aib terbesar dan harus dijauhi. Kalau ucapannya terlanjur pada ghibah, segera istighfar kepada Allah swt, lantas pergi kepada orang yang digunjing sambil minta maaf, “Saya telah berbuat zalim kepada Anda, maafkan saya!” la harus meminta agar apa yang dilakukan dimaafkan. Kalau la tidak bisa bertemu, la harus banyak memuji, mendoakan serta menyebut kebaikannya. Sehingga ketika sebagian amalnya dipindah ke catatan pihak yang digunjing, masih tersisa amal lain, sebagai tebusan dosa ghibah.
Ketiga: Berdebat secara Konfrontatif
Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa meninggalkan perdebatan padahal dia adalah benar, maka kelak akan dibangun untuknya kediaman di dalam surga teratas. Dan barangsiapa meninggalkan perdebatan sedang dia memang salah, maka kelak akan dibangun untuknya kediaman di surga bagian bawah.”
Demikian itu karena meninggalkan perdebatan bagi pihak yang merasa dirinya benar adalah sangat sulit. Maka, layak sekiranya bila janji pahalanya lebih tinggi daripada mereka yang meninggalkan perdebatan karena memang berada di pihak yang salah.
Rasulullah saw bersabda, “Tidaklah seseorang akan mencapai kesempurnaan hakikat iman, kecuali jika dia bersedia meninggalkan debat dan pertentangan, padahal dia benar.”
Berdebat atau bersitegang adalah menyanggah pembicaraan orang lain dengan rnengutarakan kekurangan-kekurangannya, baik yang bersifat faktual maupun makna kontekstualnya. Hal ini adakalanya muncul oleh adanya perasaan bahwa dirinya lebih unggul daripada yang lainnya. Ada kalanya, karena kebodohannya ataupun kekerasan hati dari salah satu pihak, yang menjadi wataknya yang cenderung destruktif kepada orang lain.
Orang yang melakukan debat kusir memiliki potensi sikap kotor yang bisa membinasakan. Bila kita mendengar pembicaraan orang lain, sebaiknya kita ambil yang benar, dan diam saja jika salah. Boleh kita mengutarakan kekurangan pembicaraan seseorang jika ternyata sangat mengandung manfaat keagamaan. la perlu menyimak dan mengoreksi secara bijak dan lembut. Bukan dengan cara yang kasar.
Keempat: Bersenda-Gurau
Bergurau melampaui batas dapat menimbulkan gelak tawa secara berlebihan, akhirnya mematikan hati, menimbulkan permusuhan, perselisihan, perpecahan dan juga menjatuhkan wibawa serta harga diri seseorang. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya orang yang berbicara untuk ditertawakan oleh para pemirsanya, maka ia akan jatuh terhina melebihi jatuhnya dari bintang Tsuraya.”




