Kelima: Pujian
Memuji ternyata telah menjadi kebiasaan para pembesar dan penguasa yang menjadi budak dunia. Begitu para pembuat kisah dan juru bicara, mereka memuji para hadirin, khususnya para hartawan. Padahal pujian itu mengandung enam bencana. Empat bencana bagi pemuji dan dua untuk yang dipuji.
- Seringkali pujian tersebut dilakukan secara berlebih-lebihan, bahkan akhirnya menjurus pada dusta, karena tidak sesuai dengan kenyataan.
- Berpura-pura senang kepada orang yang dipuji, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Hal ini jelas menjurus pada sifat munafik dan riya’.
- Seringkali mengatakan sesuatu secara tidak obyektif dan omong kosong. Misalnya, mengatakan dia itu orang yang adil, dan dia itu wara’, padahal kenyataannya tidak.
Seseorang pernah memuji orang lain di hadapan Rasulullah saw. Lalu Rasul saw bersabda, “Celaka Anda!Anda telah memenggal leher teman Anda! Apabila di antara kalian memuji saudaranya, sebaiknya mengatakan, Aku menghargai Fulan, dan aku tidak menganggap seorang pun bersih di sisi Allah.’ Yang berhak dihargai hanya Allah, jika memang demikian.” - Dapat menjadikan pihak yang dipuji itu merasa bangga dan besar kepala. Padahal bisa jadi orang yang dipuji itu adalah orang zalim, yang membuatnya semakin senang atas kedurhakaan dan kefasikannya. Sedangkan Rasulullah saw sendiri telah bersabda:“Sesungguhnya Allah sangat murka bila ada orang fasik dipuji¬-puji.” (A1-Hadis).
Al-Hasan berkata, “Barangsiapa mendoakan panjang umur bagi orang fasik, maka berarti senang bila Allah selalu didurhakai.” Orang zalim yang fasik berhak dicaci agar kegemarannya berbuat zalim berhenti.
Adapun bencana yang terkait dengan si penerima pujian itu meliputi dua hal:
- Kemungkinan dia akan menjadi takabur dan ta’ajjub, yang keduanya dapat membinasakan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw terhadap orang yang suka melontarkan pujian kepada orang lain, “Berarti engkau telah memenggal batang lehernya.”
- Bisa jadi dia bangga dan lupa amalnya, dan merasa dirinya sudah cukup.
Tidak mengherankan bila Nabi saw bersabda, “Bila seseorang berjalan menemui sesama dengan membawa pisau yang tajam (meng¬kritik secara tajam), adalah lebih baik daripada ia memujinya di hadapannya secara langsung.”
Demikianlah, bila suatu pujian itu telah terhindar dari unsur-unsur yang berdampak negatif seperti di atas – baik menyangkut diri si pemuji atau yang dipuji – maka pujian boleh dilakukan, bahkan terkadang dianjurkan. Sebab, dalam beberapa kesempatan, Rasulullah saw juga sering memberikan pujian dan sanjungan kepada para saha¬bat, bilamana menurut beliau justru akan semakin menambah semangat kerja dan daya juang mereka, bukannya semakin membuat mereka sombong. Misalnya, beliau memuji Abu Bakar r.a,’Andaikata kualitas keimanan Abu Bakar dan manusia sejagad ditimbang, tentu akan lebih berat kualitas keimanan Abu Bakar.”
Tentang Umar bin Khaththab r.a, beliau bersabda, ‘Andaikata aku belum diutus, tentu engkau Umar yang akan diutus menjadi Rasul.” Bagi pihak yang dipuji, sebaiknya merenungkan dampak akhirnya, bahaya riya’ yang tersembunyi dan berbagai bencana amal perbuatan. la pun harus menyadari, adanya keburukan batinnya, terutama yang berkecamuk dalam nafsu dan pikirannya; seandainya pemuji tahu, pasti tidak memuji seperti itu. Demikian pula, pihak yang disanjung harus menampakkan sikap kurang senang bila disanjung, secara lahir dan batin. Sebagaimana isyarat Rasulullah saw dalam sabda beliau, “Hamburkanlah pada wajah orang yang suka menyanjung.” Sebagian sufi, berdoa ketika dipuji, “Ya Allah, sungguh hamba¬Mu ini lebih layak pada murka-Mu dan aku bersaksi kepada-Mu atas kelayakan murka itu.”
Bila memungkinkan, kita dapat meneladani Ali bin Abi Thalib r.a. saat disanjung orang.
Beliau biasanya berdoa:
“Ya Allah, ampunilah aku dari apa yang tidak mereka ketahui, dan janganlah Engkau siksa aku dengan apa yang mereka katakan, dan jadikanlah aku lebih baik dari apa yang mereka sangkakan kepadaku. “




