Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Harus dibaca juga..

Yang dimaksud Sangkan Paraning Dumadi adalah ajaran yang memutlakkan Huwa sebagai Dzat Mutlak yang Azali yang menjadi Sumber segala sumber penciptaan. Huwa itu tak terjangkau akal. Tak terjabarkan konsep. Tak terbandingkan. Huwa adalah Huwa. Tan kena kinaya ngapa. Tidak bisa diapa-apakan. Laisa kamitslihi syai’un. Dia dilambangkan dengan Suwung. Hampa. Tetapi bukan hampa yang tidak ada melainkan Ada tetapi tak tergambarkan. Karena itu lambang Suwung itu disebut juga Awang-Uwung. Ada tetapi tidak ada. Tidak ada tetapi Ada. Huwa yang tak terjangkau itu kemudian muncul sebagai Pribadi Ilahi, Allah, yang  dikenal Sifat dan  Asma-Nya.

Pribadi Ilahi yang disebut Allah itulah Yang menjadi Pusat segala ciptaan di mana segala ciptaan pada dasarnya adalah ‘pemunculan’ dari Dzat, Sifat, Asma, Af’al dari Sang Pencipta. Proses ‘pemunculan’ itu diyakini melalui tujuh tahap tanazzul : Haahuut – Laahuut – Jabaruut – Malakuut  – Asmaa’ —  Nasuut.

Apakah segenap ajaran tersebut merupakan elaborasi atas bentuk mistik Ibn ‘Arabi (wahdatul wujud) dan martabat tujuh (al-maratib al-sab’ah) milik al-Burhanpuri? Apakah ia memang terkonstruk dalam terma tasawuf falsafi yang dekat dengan Syi’ah?
Saya belum meneliti hubungan ajaran SSJ dengan Ibnu Araby, Burhanpuri maupun Syi’ah. Namun merujuk silsilah Tarikat Akmaliyyah yang berpuncak pada Abu Bakar as-Shiddiq dan watak tarikatnya yang egaliter, saya tidak melihat hubungan tarikat SSJ dengan tasawuf  Syi’ah.

Adakah proses akulturasi antara Islam dan mistik Hindu-Jawa dalam tasawuf Jenar?
Sepanjang yang saya tahu, mistik Hindu-Jawa penuh dengan perangkat ritual dengan banyak simbol-simbol dalam upacara bersifat mistis. Sementara ajaran tarikat SSJ ‘bersih’ dari simbol dan upacara ritual bersifat mistis. Tarikat SSJ sangat ringkas. Aplikatif. Tidak dikenal dewa-dewa sebagai perantara menuju Sang Mahadewa. Tidak dikenal juga wasilah melalui  wali-wali keramat. Yang dikenal adalah hubungan langsung dari manusia sebagai individu menuju Allah dengan satu-satunya wasilah: Nur Muhammad.

Kontroversi nyata yang mengiringi ajaran Siti Jenar adalah tuduhan “abai syari’at”. Jika sudah manunggal, maka syari’at tak dibutuhkan lagi. Apakah betul? Mohon penjelasan hubungan antara syari’at dan hakikat dalam tasawuf Siti Jenar.
Tuduhan “mengabaikan syariat” sangat lekat dengan ajaran SSJ. Itu terkait dengan prinsip disiplin keilmuan yang harus dipilahkan secara tegas. Maksudnya, disiplin syariat atau lebih spesifik ilmu fiqih tidak boleh digunakan memaknai dan  menilai ilmu tasawuf.  Sebab piranti pengetahuan, asumsi dasar, paradigma, dogma, doktrin, dan mitos  masing disiplin  sangat berbeda.

Dalam disiplin ilmu tasawuf, misal, ajaran SSJ menganut faham wahdatul adyan (kesatuan agama-agama) di mana  semua  agama sejatinya adalah berasal dari Tuhan dan orang seorang menganut agama tertentu karena kehendak Tuhan semata. Dengan pandangan itu, murid-murid SSJ dalam agama formal tetap ada yang Hindu dan Buddha maupun Kapitayan. Kepada mereka tentu saja SSJ tidak memerintahkan untuk menjalankan syariat Islam.

Jika ada yang tanya kenapa SSJ tidak mensyaratkan semua muridnya Islam?
Itulah pandangan ulama sufi yang tidak sederhana untuk dinilai dengan kacamata fiqih. Selain itu,  para pengikut SSJ memandang bahwa ketentuan syariat yang diwajibkan atas manusia tidak bersifat mutlak. Semua hal yang bukan Tuhan selalu nisbi.  Demikian juga syariat. Orang gila, anak belum baligh, orang pingsan, orang tidur, orang tidak sempurna akalnya, orang idiot, orang hilang ingatan, orang linglung, misal,  pasti tidak kena hukum wajib syariat. Karena itu, pada saat seseorang dalam perjalanan ruhani tenggelam ke dalam Tauhid (fanaa fii Tauhid) yang berarti hilang kesadaran jati dirinya, lenyap keakuannya, tidak kena hukum syariat. Bagaimana dia bisa menjalankan syariat sedang dirinya sendiri saja dia tidak sadar. Tetapi manakala orang sudah sadar kembali dari keadaan lupa diri (karena hanya ingat Allah saja) dan hidup bermasyarakat, maka wajib bagi dia mengikuti  syariat.

Nah yang sering terjadi di kalangan pengamal ajaran SSJ dari kalangan grass-root yang sejak awal memang tidak berada di lingkungan kaum agamis, menggunakan klaim bahwa SSJ menolak syariat dengan tujuan utama agar mereka tidak menjalani syariat. Bahkan berbeda jauh dengan SSJ yang menganggap syariat adalah sarana penting untuk menjaga kerendahan hati dan merupakan pijakan awal untuk mencapai ma’rifat setelah melalui thariqat dan hakikat, mereka yang dari kalangan grass-root justru menganggap bahwa syariat adalah lambang kerendahan maqam ruhani. Ini sangat berlawanan dengan ajaran SSJ.

Mereka terjebak oleh ketidak-fahaman dan terjerat sifat takabur. Bahkan karena grass-root tak terdidik dan tidak mampu mewadahi ajaran SSJ yang sarat dengan pemikiran filosofis, mereka menafsirkan ajaran SSJ dengan ilmu otak-atik matuk. Ini sangat berbeda dengan pengamal ajaran SSJ dari kalangan bangsawan dan ulama (sayangnya mereka menutup diri dan merahasiakan ajarannya secara sangat eksklusif).

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.