Syekh Siti Jenar & Suluk Nusantara

Harus dibaca juga..

Jika ini riset, kenapa dituangkan dalam bentuk novel? Apakah penulisan ilmiah kognitif tidak memadai bagi pengalaman spiritual?
Konsep penulisan ilmiah kognitif adalah hegemoni Barat dalam pengetahuan. Saya menolak itu. Sebab konsep itu hanya berpijak pada ilmu akal (rasio). Sementara pengetahuan Islam dan Timur, mengenal dua sistem pengetahuan:
1) Ilmu Akal/Nalar yang berpusat di otak manusia;
2) Ilmu Qalbu/ Kaweruh yang berpusat di qalbu manusia.

Sepanjang saya pelajari sejarah, hampir semua naskah dari era Kalingga sampai Majapahit menggunakan bahasa sastra seperti

  1. Perjalanan Hayam Wuruk dalam reportase Pu Prapanca yang diberi judul Negarakertagama ditulis dalam bahasa sastra;
  2. Sejarah Perang Bubat ditulis dalam bahasa kidung;
  3. Penegakan awal  Majapahit hingga pemberontakan Ranggalawe ditulis dalam sastra yaitu Kidung Panjiwijayakrama yang isinya identik dengan isi  prasasti2; di kitab ketatanegaraan seperti Nitipraja ditulis dalam bentuk sastra. Hanya KUHP seperti Kutara Manawa yang ditulis tidak dalam bahasa sastra.

Lewat institusi  sekolah, Barat sudah menghegemoni pikiran kita, dengan asumsi dasar bahwa karya-karya sastra adalah karya imajiner yang tidak ilmiah. Ini sangat hegemonik dan konyol, karena karya-karya fiksi seperti Republic yang ditulis Plato, The Utopian Island yang ditulis Thomas Moore, City of The Sun yang ditulis Tomasso Campanella, Also Sprach Zaratushtra yang ditulis Nietzsche, bahkan teori Karl Marx yang imajiner tentang masyarakat komunis dianggap karya filsafat. Sementara kalau karya reportase, sejarah, tatanegara, filsafat, hukum  ditulis dalam bentuk sastra oleh bangsa kulit berwarna dinilai karya imajiner. Itu ras diskriminasi. Kita yang bodoh dan bermental inlander saja yang menerima dan mengekor pandangan Barat itu dengan membuta. Jadi sebagai seorang yang sadar akan eksistensi diri manusia merdeka,  saya tulis hasil penelitian saya dalam bentuk novel sebagai resistensi saya terhadap hegemoni Barat dan sekaligus membangkitkan budaya lama Nusantara. Lantaran itu karya-karya novel saya selalu disertai exegese dan daftar pustaka. Dan ternyata, masyarakat Nusantara  lebih mudah memahami penjelasan lewat bahasa sehari-hari yang saya sampaikan daripada jika saya gunakan bahasa ilmiah ala Barat (baca novel saya Rahuvana Tattwa).

Apa penemuan baru yang mas temukan dalam riset tersebut, mengingat Siti Jenar merupakan simbol kontroversi dalam sejarah tasawuf kita? Apakah ia sebatas mitos, yang ditulis untuk menggambarkan pergulatan kebudayaan Islam Jawa, ataukah sebagai person sejarah, ia nyata ada?
Karena penelitian yang saya lakukan menggunakan pendekatan kualitatif yang sebenarnya sudah digunakan sarjana-sarjana muslim di masa silam, maka obyek-subyek yang saya teliti adalah tarikat-tarikat yang menisbatkan ajaran kepada SSJ. Itu berarti, SSJ bukan tokoh fiktif karena meninggalkan ajaran tarikat yang riil diikuti masyarakat hingga di jaman ini.

Temuan saya yang unik tentang ajaran tarikat SSJ itu, sbb:

  1. tidak ada mursyid dalam wujud manusia karena mursyid ada di dalam ruhani manusia (seperti konsep Dewaruci dalam ajaran Sunan Kalijaga);
  2. menafikan semua pengkultusan terhadap manusia, benda-benda bertuah, makam-makam keramat,  dan makhluk gaib;
  3. tidak mengenal konsep jama’ah dalam mujahadah sehingga dilakukan sendiri-sendiri karena itu ajaran  jadi tertutup dan terrahasia;
  4. mengajarkan filsafat sebagai ilmu akal dalam memahami konsep Tauhid untuk memulai perjalanan ruhani sebagai pijakan awal dalam memasuki ajaran ruhani yang hanya menggunakan ilmu qalb;
  5. SSJ tidak mengajarkan cara menuju surga maupun menghindari neraka karena keduanya dianggap makhluk, sehingga inti ajarannya hanya terfokus pada bagaimana cara menuju Allah;
  6. tidak ada doa-doa dan wirid-wirid maupun hizb yang memberi peluang pamrih bagi manusia untuk meminta nikmat kepada Allah;
  7. SSJ hanya mengajarkan dzikir dan tanafus dalam rangka menuju Allah. Saya kira, dengan ciri-ciri ini, wajar jika ajaran SSJ jadi kontroversial dalam sejarah tasawuf di Nusantara.

Mohon penjelasan tentang ajaran Siti Jenar, terkait sasahidan, sangkan paraning dumadi, awang-uwung, dan manuggaling kawula gusti.
Yang dimaksud Sasahidan adalah ajaran tentang  persaksian dalam perjalanan ruhani mendaki (taraqqi) menuju Allah. Persaksian al-murid menuju Al-Murid melalui maqam-maqam.

Puncak dari  persaksian adalah saat keakuan seseorang sudah lenyap (fana’) tenggelam  dalam Allah.  Saat itulah   seluruh makhluk mempersaksikan bahwa keakuan yang lenyap itu telah bersemayam di dalam Dzat Tuhan Yang Mahasuci dan karenanya memiliki sifat-sifat Ilahi. Itulah tahap penyatuan Ruh Ilahi  yang bersemayam di dalam diri manusia saat ditiupkan (nafakhtu)  pada waktu penciptaan dengan Allah yang meniupkan-Nya. Itulah tahap kembalinya Ruh al-Haqq kepada Al-Haqq.

Itulah tahap puncak kembalinya unsur Ilahiyyah di dalam diri manusia (Ruh al-Haqq) kepada Sang Pencipta (ini tidak bisa dijabarkan secara ilmiah karena merupakan pengalaman ruhani yang tak terwakili oleh bahasa manusia. Ini sama dengan peristiwa ruhani Isra’ wa Mi’raj yang tidak bisa dijabarkan secara ilmiah).

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.