Surat Sufi Imam Syadzili kepada Sidi Ali bin Makhluf

Telah meminta pendapat orang yang meminta pendapat untuk melakukan perjalanan darat maupun laut, dan atau apa yang membawa kepada kesedihan. Ketahuilah, kapal pemberangkatan al-Mahdiyah singgah selama 19 hari. Dan, kami melihat Ahmad ash-Shabuni sangat berhasrat untuk berangkat ke Baitullah dan kami telah memutuskan berangkat pada waktu sebelum kedatangan kalian. Padahal, saya sangat berharap pada kalian, seandainya saja bukan karena 70 keluarga yang telah bertekad untuk melakukan perjalanan bersamaku pada tahun ini dan mereka telah menjual banyak barang mereka. Mereka berjumlah 200 orang lebih. Tujuh puluh orang di antaranya adalah tokoh-tokoh besar mereka, termasuk para ulama dan ahli fikih. Dan rombongan tersebut, saya tidak mengetahui golongan wali-wali khulafa’, ‘umana, nuqaba’, nujaba’, abdal akhfiya’, dan akhyar. Kemudian, saya menemukan perhimpunan mereka di Yaman dan saya berharap bisa bertemu dengan sebagian mereka.

Harus dibaca juga..

 

Seandainya bukan karena golongan mereka ini, saya ingin bertahan setahun ini menunggu sampai kalian tiba. Namun, gelombang-gelombang mereka telah membawa diri dan hati saya untuk tunduk memenuhi panggilan Allah. Dan, Allah memberikan petunjuk kepada orang yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.

Insya Allah kami akan melakukan perjalanan bersama seluruh keluarga saya pada bulan ini atau beberapa han setelahnya. Kami sudah terbiasa menahan diri sembari menggiatkan pengajian, dan hal itu telah berlaku di tiga tempat persinggahan yang kami lalui, tanpa kelelahan maupun kesia-siaan, juga tanpa kehabisan bekal, berkat karunia Allah yang mengalir pada orang-orang yang mencintai kami dengan kehendak-Nya. Kami pun tidak sampai tersesat di pedalaman padang pasir dan kehilangan asa. Semoga Allah senantiasa memberikan keberkahan pada para dermawan yang baik hati dan semakin menambahkan karunia-Nya pada mereka.

Sejak tiba di Mesir, kemudian selama perjalanan ke pedalaman Mesir bagian selatan, semua orang ingin melayani kami. Maka, kami pun ingin mengambil waktu setengah tahun sebelum waktu wukuf, insya Allah. Saya tidak khawatir dengan orang-orang yang mengusik saya kecuali para penggemar saya. Mereka tidak ingin saya pergi cepat-cepat sebagaimana yang telah saya tetapkan pada kalian. Dan, itu adalah keinginan saya. Kepada Allah-lah saya meminta pertolongan. Dia adalah Penolong, dan Dialah sebaik-baik Pelindung.

Keluarga saya juga telah merasa betah dengan keterangan-keterangan mereka. Mereka menjadikan pelabuhan sebagai tempat tinggal sementara. Dan, semua ini merupakan ketetapan Allah yang telah dibentangkan-Nya di atas kehendak dan kekuasaan-Nya. Segalanya adalah milik Allah, baik kata, urusan, rahasia, maupun kekuasaan (sulthan), juga kerajaan, Dia berikan kepada orang yang Dia kehendaki dengan pengawasan-Nya. Dia Mahakaya dari semua itu, dan Dia adalah pemilik karunia yang besar.
Terkait dengan hal yang kamu ceritakan mengenai perjalanan di darat dan laut, jangan sampai kalian menjadi terbebani dengan rasa takut dan lapar sedikit pun selama perjalanan di darat. Buah kismis susah sekali didapat dan makanan juga jarang diperoleh. Orang-orang berusaha mendapatkan dan sangat jarang seseorang dan mereka berhasil mendapatkan sesuatu.

Kendati dalam kecukupan dan kemakmuran, janganlah kalian tempuh jalan ini kecuali dengan bekal cukup dan perhatian dengan bimbingan Syekh pemuka, atau dengan keyakinan khusus dari aI-Haqq (Allah). Keyakinan ini diusung dengan ketulusan, sembari menyisihkan ego, menjadikan tawakal kepada-Nya sebagai petunjuk jalan, dan lindungan Allah di atas kepalanya, kuasa Allah mencukupinya, belai cinta (mahabbah) memandunya, dan kerinduan kepada Allah akan terus mengisi kalbu dan pikirannya. Neraka pun akan berkata kepadanya, “Hai orang Mukmin, lewatlah! Sungguh cahayamu telah memadamkan kobaran apiku.” Hal ini jarang ditemukan pada selain kalian. Barang siapa menemukan keistimewaan ini dalam dirinya, maka Ia tidak memerlukan yang lain, sebab hal itu tidak ada kedudukannya lagi dalam Kerajaan Allah,

Menangislah, kemudian buatlah orang-orang menangis atas perginya orang-orang yang memanggul beban berat kita (para wali dan ulama). Mereka adalah orang-orang yang mengerti benar kondisi kita, tetapi seolah-olah mereka adalah orang-orang bodoh dan tidak tahu-menahu bersama kita; dipandang sama seperti salah seorang kita. Padahal, mereka adalah orang-orang istimewa yang diturunkan oleh Allah di tengah-tengah komunitas umat ini di segala zaman.

Ironis sekali jika kita tenggelam dalam kemalangan, publisitas, dan melumuri amal kita dengan kotoran. Padahal, Allah SWT telah berfirman: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan, memberinya rezeki dan arah yang tiada disangka-sangkanya.” (QS. Ath-Thalaq [65]:2-3) SahI bin Abdullah menincikan takwa dan manifestasi daya dan kekuatan, dan memalingkan pengertiannya dan hal-hal yang dilukiskan oleh orang-orang bdthil berupa ketakwaan lahiriah sementara batin mereka berlumur kotoran.

Benar kiranya bahwa seorang hamba itu (berada dalam kondisi dua poros yang tarik-menarik) secara lahir berlumur maksiat dan syahwat hedonisme, tetapi tetap berusaha menjalankan amal-amal ketaatan, Sedangkan cakrawala telah tertutup dengan klaim-klaim palsu dari penyandaran daya dan kekuatan pada dirinya. Maka, hamba ini telah melampaui batas, melakukan rekayasa dan kebohongan yang amat besar.

Kebaikan tidak bisa berdiri tegak bersama keburukan. Orang-orang yang cermat (al-muhaqqiqun) menempuh dan melakukan banyak hal. Mereka memandang dorongan dan menanti-nanti buah hasil, Lalu, apabila tidak berhasil mendapatkan buah dan hasil, mereka menyadari bahwa ilmu dan amalnya tidak sempurna atau cacat. Dan, apabila kehilangan dorongan dan landasan yang sahih pada prinsip dasarnya, maka amal mereka pun tidak dianggap.

Allah SWT berfirman: “Barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar.” (QS. Ath-Thalaq [65]: 2). Hai orang yang mengklaim diri berada dalam takwa, mana jalan keluar itu? Apabila kamu melihat jalan keluar itu, maka apakah dengan janji dan jaminan Allah? Dan jika yang kamu dapati hanya kebingungan belaka, maka siapa yang benar dan siapa yang pembohong? Siapakah yang lebih benar ucapannya daripada Allah?! “Dan barang siapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS, Ath-Thalaq [65]: 3)

Tawakal tidak sah kecuali hanya bagi orang yang bertakwa. Dan, ketakwaan tidak sempurna kecuali dengan dorongan (syariat) dan buah (makrifat). Jadi, perhatikanlah baik-baik dorongan dan landasan tersebut (syariat), prinsip-prinsip dasar (hakikat), dan buah (makrifat). Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang sabar.

Perjalanan laut bagi saya Iebih dekat, Iebih saya sukai, dan Iebih hemat biaya. Karena itu, siapa saja yang mendapatkan kesempatan pemberangkatan dari Mahdiyah, maka kami sebenarnya telah berpesan tentang kalian kepada Syekh Abu Au as-Saqath. Dan, jangan sampai kalian bepergian ke tempat kami kecuali dengan keyakinan yang mantap agar jangan sampai perbekalannya kalah dengan semangat diri dan luapan hati.

Apabila sudah siap, maka perhatikan dan perkirakanlah perjalanan kami dari pelabuhan, Jangan sampai salah seorang kalian datang dan tidak menemukan orang yang bisa disinggahi, lalu hatinya tercabik-cabik (putus asa) dan dikejar-kejar waktu, sehingga ia tidak sampai ke Haram Allah (Mekah), tidak juga dapat kembali ke rumahnya. Kecuali, jika ia telah mengenal mata angin dengan baik di mana pun ia berada dan dia termasuk orang yang disinggung dalam firman Allah SWT: “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya.” (QS. As-Sajadah [32]: 16)

Apakah menurutmu tidur itu telah menjauhkan lambung mereka dari tempat tidur dan membiarkan hati mereka tidur dan tenang bersama selain-Nya?! Tentu saja tidak. Akan tetapi, hati mereka terangkat dari segala sesuatu dan matahati mereka tidak pernah tidur sedikit pun. Coba pahamilah pengertian ini!

Lambung mereka jauh dari meniduri segala hal selain Allah dan melawan takdir. “Sedang mereka berdoa kepada Tuhannya dengan rasa takut dan harap,” (QS. As-Sajadah [32]: 16) Hanya kepada Allah dan karena ketakutan kepada-Nya, Dia pun membawa mereka kepada-Nya. Dan, karena kerinduan mereka kepadaNya, Dia pun meminumi mereka dengan cinta-Nya. “Dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka.” (QS. As-Sajadah [321: 16)
Seandainya ada cukup waktu untuk berpanjang lebar membicarakannya, tentu akan saya tulis berlembar-lembar surat penjelasan mengenai hal ini untuk kalian. Namun, al-Haqq (Allah) telah menentukan kuasa-Nya pada hati, menyegarkannya dengan hikmah-Nya, dan mencukupkannya dari percakapa panjang dengan makhluk-Nya.

Soal kasus Haji Zakariya yang menggagalkan rencananya hanya gara-gara uang lima belas dinar, seandainya ia ikut dengan membawa uang yang jauh lebih rendah dari itu, maka masih diharapkan dan Allah semoga memenuhinya. Namun, kitab ketentuan membutuhkan lebih dari itu dalam hitungan pengetahuan. Semoga Allah memberinya taufik pertolongan untuk menapaki jalan kebenaran.
Mengenai al-FaqIr Abu Yahya, tekadnya yang menggebu-gebu sudah saya dengar. Sampaikan salam saya kepadanya dan beritahukan bahwa sepupunya pergi haji dan sekarang sedang di pelabuhan, di tempat kedua sepupunya, Ibrahim dan Muhammad, Keduanya merupakan orang yang terhormat dalam kemuliaan dan ilmu pengetahuan. Saudara yang tertua, Ibrahim, menggeluti dunia tasawuf, memiliki integritas (istiqamah) dan kemampuan yang cukup mumpuni dalam bidang agama, kebajikan, dan toleransi. Sementara adiknya, Muhammad, menggeluti disiplin ilmu AI-Qur’an dan Hadis, serta mempelajari

Bidang-bidang fura (pengembangan dan Al-Quran dan Hadis) sebagai makanan keseharian. Ia sudah menikah, sedang kakaknya masih membujang.
Pesan saya, jika ada salah seorang di antara kalian yang datang, antarkanlah ia kepada dua tokoh ahli fikih yang lurus dan terkemuka: Abu Umar dan saudaranya, Jamaluddin, juga kepada seorang ahli fikih, as-Sadid Abu Muhammad Abdul Wahhab. Sesungguhnya Allah telah memberikan anugerah kepadanya dan kepada iparku, Syarafuddin.

Soal kitab yang kalian katakan telah dibelikan, jika memang kalian telah mendapatkannya, suruhlah seseorang untuk membawanya (kemari) atau titipkan pada orang yang bisa dipercaya agar ia menyerahkannya kepada salah seorang ahli fikih tersebut, atau kepada Jamal, atau kepada ipar saya, atau kepada Sadid. Saya izinkan kalian untuk menyampaikan salam saya pada murid-murid saya di perkotaan maupun pelosok pedesaan, secara lisan langsung (musyafahatan), melalui penyampaian pesan (taballughan), atau secara tertulis (kitabatan), sesuai dengan kemampuan kalian.
Semoga salam keselamatan, rahmat Allah, dan keberkahanNya tercurah kepadamu, juga pada orang-orang yang telah disebut maupun yang tidak disebut, serta pada seluruh penduduk kampung dan wilayah.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.