Dan merekalah sekat-sekat segala sesuatu terbelah, antara segala sesuatu yang saling berlawanan (kontradiktif), yang saling serupa, dan yang saling bergesekan. Barang siapa yang berprasangka bahwa ilmu ini, yakni pengetahuan mengenai roh dan lainnya, baik yang telah disebut maupun yang belum disebut, tidak dimiliki oleh kelompok khash, golongan orang-orang yang dianugerahkan kedudukan pertama yang tinggi, maka ia telah terjerembab dalam dua masalah besar berikut ini:
- Pengabaian terhadap wali Allah lantaran menuding mereka tidak tahu-menahu dan lalai mengenai hal tersebut serta berprasangka buruk terhadap Tuhan yang senantiasa bersama mereka. Bagaimana mungkin boleh berprasangka buruk pada orang yang telah diberi keistimewaan?!
- Pendustaan terhadap qudrah kekuasaan Allah dan Syara’ yang membicarakan ihwal kaum Yahudi dan badui-badui Arab yang berselisih paham mengenai roh dalam firman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: “Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan metainkan sedikit.”” (Q.S. Al-Isra’ [17]: 85). Apa bukti yang kamu miliki sampai lancang menyatakan ketidaktahuan kaum shiddiqln dan para wali yang mendapatkan keistimewaan dari Allah yang terluhur mengenai hal tersebut?
Lontaran pertanyaan tentang roh ini memiliki empat komponen kata tanya: Apakah? Bagaimana? Mengapa? Siapa?
Pertanyaan “apakah” berarti menanyakan apakah roh itu ada atau tidak. Lalu pertanyaan “bagaimana” berarti menanyakan tentang kondisi, dan “mengapa” menanyakan tentang illat (kausa), sementara di dalam ayat ini tidak ada keterangan sama sekali mengenai kepastian hal tersebut.
Jika kamu katakan bahwa di dalam pertanyaan mereka mengandung makna “apakah”, sedangkan kata tanya “apakah” mengandaikan pertanyaan apakah roh itu ada atau tiada, dan apakah keberadaannya telah diketahui sebelumnya. Satu hal yang pasti, mereka jelas-jelas sudah mengetahui keberadaan roh. Jika tidak, Allah tentu tidak akan berfirman: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh.” Jadi, kemungkinan pertanyaan ini otomatis gugur.
Pertanyaan mereka ini juga tidak mengandung unsur “bagaimana” maupun “mengapa”. Sebab, jika mereka menanyakan keduanya, tentu mereka tidak akan puas dengan jawaban: “Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku.’” Dan, niscaya mereka akan terus berusaha mendapatkan jawaban yang memuaskan dan menentang hal tersebut sebagaimana kebiasaan, kesibukan, dan keinginan mereka pada waktu itu.
Jadi, jelas bahwa pertanyaan mereka ini mengarah pada “di manakah roh itu?” dengan bukti jawaban dan penjelasan yang gamblang dan memuaskan: “Katakanlah: ‘Roh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” Rasulullah SAW sudah mengetahui arah pertanyaan mereka, sehingga beliau pun lantas mengembalikannya kepada Allah.
Hal ini sama seperti orang yang menanyakan ihwal Adam. Orang yang ditanya tentu bisa mengetahui arah pertanyaannya, sehingga ia menjawab, “Adam diciptakan dari tanah,” Jika memang ia puas dan menerima jawaban tersebut, dan penanya tidak kembali kecuali dengin membawa pemahaman yang agung dan tak terbantahkan dan Dzat Pengatur Yang Mahaagung, maka bagaimana mungkin seseorang mau menuding bahwa seorang wali tidak mengetahui masalah roh dan tidak seharusnya mengetahui hal tersebut?
Allah telah menetapkan kepada kita untuk mengetahui hal tersebut, dan di sini tidak ada perumpamaan. Seandainya Dia memberikan perumpamaan, kemudian kita menyia-nyiakannya, tentu kita kafir atau durhaka kepada-Nya. Maka, bagaimana dengan entitas makhluk yang banyak sekali permisalannya? Kebodohan yang nyata sekali jika dikatakan bahwa masalah ini tidak boleh diketahui, sedangkan itu adalah sesuatu yang ada perumpamaan dan perbandingan, yaitu roh.
Dan, Allah menetapkan untuk mengenal Dzat yang tidak ada penyerupaan maupun bandingan, Semoga Allah melindungi kita dari kebodohan orang-orang bodoh dan kezaliman orang-orang zalim.
Satu hal yang ingin saya tegaskan di sini, Allah memiliki rahasia-rahasia yang tidak dapat diungkap oleh deskripsi tulisan, dan tidak sepantasnya rahasia-rahasia tersebut ditutup-tutupi kecuali dengan deskripsi tulisan di dalam diwan-diwan (buku catatan) para ulama ahli hikmah yang dianugerahkan matahati yang jernih dan tajam. Tidak sepantasnya mereka menutup-nutupi hal tersebut karena sudah begitu jelas dan gamblang. Jangan terlalu memedulikan mereka meskipun mereka banyak memiliki dalih dan argumen. Akan tetapi, tunduklah kepada Allah al-Haqq dan patuhlah kepada-Nya dalam hal-hal yang memang mereka kuasai, dan kesampingkanlah mereka dalam hal-hal yang tidak ada pengetahuan mereka tentangnya.
Allah SWT telah memerintahkan Nabi kita, Muhammad SAW, untuk meneladani Nabi Ibrahim a.s. dan para nabi Iainnya, padahal beliau adalah pemilik keutamaan yang tak tergapai oleh siapa pun. Namun, beliau tetap mengatakan, “Saya sejajar dengan mereka dalam hal kenabian, kerasulan, hidayah, dan dalam hal-hal yang berlaku pada diri, badan, hati, dan roh.” Beliau mengikuti mereka dalam hal-hal yang ada titik kesamaan, sementara yang kita khususkan bagi beliau merupakan target kita dan kembali kepada apa yang ditentukan bagi kita (sebagai umat beliau).
Begitu juga dengan orang yang memahami rahasia ini. Allah bersama orang-orang Mukmin kelompok awam, juga bersama kelompok menengah, dan bersama orang-orang Mukmin yang mendapatkan kedudukan yang tinggi. Namun, Dia memilah-milah mereka dalam hal yang memang dikhususkan hanya kepada orang-orang yang mendapatkan kekhususan.
Jika kamu termasuk orang-orang yang diberi kekhususan tersebut, tambahlah terus ilmu dan amalmu dalam kefakiran kepada Allah dan ketawadhuan terhadap para hamba (sesama manusia). Bersikaplah lembut dan kasih sayang terhadap orang-orang Mukmin, kendati mereka berbuat zalim kecuali dalam hal-hal yang Dia perintahkan kepadamu untuk bersikap tegas terhadap mereka, sembari tetap mendoakan kebaikan bagi mereka dan mencegah kezaliman mereka.
Jika kamu ingat ini, sementara kamu sadar belum mampu melakukannya dengan pertimbangan agar tidak mengguncang hati orang-orang awam tersebut, maka tinggalkanlah apa yang belum kamu mampu ini. Duduklah tafakur di depan pintu-Nya, niscaya kamu akan memperoleh apa yang kamu inginkan dan Tuhan Yang Maha Pengatur. Selama itu, peganglah tata krama di hadapan Hadirat Ilahi jika kamu sudah mengetahuinya. Jika belum, pahamilah dari ayahandamu apa yang masih tersamar bagimu.
Bagi orang yang duduk di hadapan Hadirat Ilahi ada empat posisi pokok yang keseluruhannya merupakan pusat batin, yakni jiwa, raga, hati, dan akalnya, Dia tenang dan mantap dengan keimanan, tauhid dan cahaya, ilmu dan makrifat, keyakinan, rasa malu, segan, keintiman, dan kecintaan, sambil mulutnya berucap dengan ucapan yang jelas, melantunkan doa dengan etika semua posisi pokok tersebut:
“Ya Allah, hamba mohon kepada-Mu kelekatan memandangMu, perolehan mendengar di hadapan-Mu, dan kebetahan menempati apa yang datang kepada hamba dan-Mu. Jika Engkau kembalikan hamba pada makhluk-Mu, maka tuntunlah hamba untuk menempuh kehalusan tata krama dengan menghadap orang yang menghadap kepada-Mu dan berpaling dari orang yang berpaling dari-Mu. Jika Engkau kembalikan hamba pada hak-hakMu, maka hamba memohon kepada-Mu agar bisa berperilaku sebagaimana laku sopan santun Rasul-Mu dan jangan Engkau halangi hamba dan-Mu dengan amal hamba. Jika Engkau kembalikan hamba pada bagian-bagian peruntungan hamba, maka hamba memohon kepada-Mu kepastian memperoleh izin-Mu dengan persetujuan kata dari-Mu atau dengan isyarat yang datang dari-Mu. Jadikanlah hamba termasuk orang yang mengambil hal itu dengan hal tersebut. Dekatkanlah hikmah (kebijaksanaan) kepada mulut kami, berikanlah kuasa pada lidah-lidah kami untuk menuturkannya, penuhilah hati-hati kami dengannya, dan pastikanlah kami beramal dengannya dalam hal yang tampak dan terpendam dari kami. Sokonglah kami dengan roh (spirit) dari-Mu agar kami tidak menyakiti diri kami dengan hawa nafsu kami dan tidak menuruti setan-setan dalam diri kami. Jadikanlah kami ke dalam golongan yang patuh kepada Mu, sebab hanya pengikut agama-Mulah yang pasti menang,”
Ketahuilah, suratmu telah sampai kepada kami, Ia telah memancarkan kegembiraan dalam hati kami dan melambaikan sorai keceriaan di dada kami. Bahasa kebersamaan di dalamnya terbentang, sementara bahasa perpisahan tertahan. Namun, kebersamaan ini tidak seyogianya diumbar, akan tetapi simpanlah sebagai rahasiamu dengan kesaksian tauhid pada Tuhanmu, Di atas segalanya Dialah Tuhanku dan Tuhanmu.
Telah kamu sampaikan, “Aku mengatakan kepada orang sebelummu dan seakan-akan kamulah lawan bicara (mukhathab) di baliknya.” Jika kamu inginkan sesuatu yang tidak ada cela padanya, hendaklah ‘perpisahan’ tetap ada di lisanmu, sementara ‘kebersamaan’ disaksikan dalam rahasia batinmu. Jangan kamu bosan dan mundur dengan kefanaanmu darinya, begitu juga dengan keabadianmu. Berlarilah menuju Allah dari segala dualisme, dan jangan kembali dengan apa pun, baik besar maupun kecil, kecuali dengan seizin-Nya. Bagaimana mungkin kamu melalaikan-Nya, sementara Dia telah mencurahkan kasih sayang kepadamu melalui gurumu yang selalu berdiri mengawasimu dalam segala gerak-gerikmu yang disaksikan oleh matabatin, seolah-olah kamu adalah dia? Lalu, bagaimana pendapatmu dengan Dzat Yang Maha Mengawasi setiap jiwa?
Terkait dengan izin Allah, perlu saya jelaskan firman Allah SWT: “Dan (ingatlah) di waktu Aku mengajar kamu menulis, hikmah, Taurat, dan Injil.” (QS. Al-Maidah [5]: 110) Dalam konteks pengajaran ini, gurumu mengatakan berulang-ulang: Dengan izinku dan izin Allah, yakni dengan ilmu Allah. Merujuk pada ayat ini, Allah telah memberikan kuasa pengetahuan tersebut pada Isa a.s, Maka, sesuatu yang disertai perkataan itu adalah lebih sempurna. Pengetahuan atau izin tersebut kebanyakan berlaku dalam hal yang mubah dari bagian-bagian peruntungan diri. Sementara itu, yang wajib dan yang sunah sudah disentuh oleh perintah dan larangan; telah keluar dan dua hal di atas, Jadi, di sinilah seorang wali (kekasih Allah) membutuhkan izin. Karena itu, jangan kamu campur adukkan izin dengan perintah, niscaya kamu akan keliru langkah dan menggugurkan satu dimensi dan hukum-hukum syariat. Jika sudah demikian, maka kamu termasuk orang-orang yang bodoh.
Perlu kami perjelas lagi, yang dimaksud dengan izin pada hak wali itu adalah cahaya yang menyinari hati yang kemudian Allah pancarkan di dalam dan di atas diri wali. Lalu, cahaya tersebut membentang kepada sesuatu yang diinginkan oleh wali sehingga ia mendapati bersama cahaya itu suatu cahaya lain atau kegelapan di bawah cahaya. Cahaya tersebut lantas memberitahumu untuk bersikap sesuai dengan kehendakmu antara mengambil atau menolak, menenima atau menampik, memberi atau menahan, berdiri atau duduk, pergi atau tetap tinggal, ini adalah persoalan mubah yang diberi keleluasaan izin untuk memilih. Jika disertai ‘perkataan’, hukum mubah menjadi semakin kuat dengan kehendak Allah. Dan, jika disertai niat yang benar, ia akan memantul dan hukum mubah dan berubah menjadi mandub (sunah, anjuran). Apabila yang muncul di bawah cahaya yang membentang dari hati itu adalah kegelapan maka itu adalah isyarat adanya amarah yang menyertai. Karena: itu, waspadai dan jauhilah hal tersebut, sesungguhnya ia dilarang atau hampir-hampir dilarang.
Status hukum sesuatu tersebut tidak bisa dipastikan dan ditetapkan kecuali dengan bukti (sandaran) dan Kitab Allah, sunah Rasul-Nya, ijma’, atau ragam ijtihad para imam mazhab yang kamu anut, seperti Imam Malik, Syafi’i, dan selain keduanya dari kalangan khulafaurrasyidin. Dengan demikian, tetapkanlah keputusan hukum atas dasar yang sahih. Jika kegelapan yang ada menyerupai mendung di mana hati tidak bersinar terang bersamanya dan pikiran tidak bisa berkonsentrasi secara jernih di dalamnya, maka jagalah jarak dengannya, sebab ia hampir merupakan sesuatu yang makruh.
Jangan tetapkan suatu hukum berdasarkan nalar dan pendapatmu. Sungguh banyak orang yang telah tersesat dari sini. Jangan berikan fatwa pada seseorang meskipun ia meminta fatwa kepadamu. Dan, berikan tempat bagi sikap wara pada : haknya dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Jika kamu praktikkan tata krama ini tak lama lagi kamu akan memperoleh bukti yang nyata dan penjelasan dari Tuhanmu serta kesaksian yang mengikutinya. Inilah sekelumit penjelasan mengenai persoalan ini. Tidak sedikit pun niatan atau unsur kesengajaaan dalam diri kami untuk menggariskannya. Akan tetapi, ia mengalir begitu saja dari lisan dan hati, menuruti kehendak-Nya. Kepada-Nya kami memohon anugerah, ampunan, dan musydhadah di atas maqam tertinggi derajat Ihsan.
Terkait dengan apa yang kamu kirimkan, kami telah menerimanya dan kami merasa sangat gembira. Kami menjadi teringat dengan kemurahan-kemurahan pada waktu sebelumnya. Seandainya bukan karena sangat ingin bertemu, tentu kami ingin memberikan kepadamu lebih banyak lagi dari apa yang bisa kami berikan. Semoga Allah segera mempertemukan kita sesuai dengan apa yang Dia cintai dan ridhai.
Ihwal perjalanan yang kamu ceritakan sudah kami pahami. Meskipun harapan hati begitu berhasrat, sampai kapal pemberangkatan al-Mahdiyah tiba yang seakan-akan telah melayukan harapan kedatangan kalian, Sementara soal az-Zaituni, sesungguhnya hati saya juga sudah teringat kepadanya jauh sebelum kedatangan surat kalian pada kami dan kami pun ikut bersedih.
Katakan kepadanya agar tetap tegar dan tabah hingga Allah memberikan ketetapan sesuai dengan yang Dia kehendaki. Dia masih memiliki ribuan bahkan ratusan ribu pengganti kekasih yang hilang. Dia Maha Mendengar segala sesuatu, melihat segala sesuatu. Para kekasih menjadi patah harapan dan bersedih sedangkan kita jangan sampai demikian. Ujian tersebut adalah hukum yang baik dan penuh hikmah. Dan, (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin? Kegembiraan dari Allah pasti akan datang, hingga seolah-olah tidak ada sesuatu yang terjadi. Semoga Allah berkenan menganugerahkan rasa syukur pada kita atas nikmat-nikmat Nya, serta membebaskan saudara dan kekasih kita dari kehinaan tersebut menuju kemuliaan anugerah kekayaan dan kesaksian atas karunia-karunia dan kebaikan budi-Nya.
Telah kami terima juga berita keterguncangan hati kalian, Haji Zakaniya, Haji Yahya, Haji Abdullah, az-Zaruti, al-Warsyisi, Abdullah al-Faitur, ahli rthdth Muhammad, juga Si gluslam Mas’ud. Saya pernah berpapasan dengan Ali, sepupu mereka dan mempersilakan untuk mampir ke tempat kami. Namun, ia memilih untuk melanjutkan perjalanan haji dan tidak mampir di tempat kami meski dia sangat ingin sekali.
Begitu kami terima berita mengenai prahara perjalanan kalian, hati kami pun ikut bersedih. Namun, jangan sampai hal tersebut melemahkan tekad kalian yang telah begitu menggunung bak Gunung Qabis, kendati ada di antara kalian yang emosi, diam, dan larut dengan kesedihannya.
Demi Allah yang tidak ada tuhan selain Dia, andai saja saya masih memiliki kekuatan yang cukup membantu saya dalam menyeberangi setiap daratan dan lautan, sehingga saya dapat menyelamatkan para sahabatku dari segala fitnah dengan kehendak dan pertolongan Allah. Dan, tiada daya upaya maupun kekuatan melainkan hanya bersama Allah Yang Mahatinggi lagi Mahaagung.



