Sufi: Menguak Hakekat Reformasi

 

Harus dibaca juga..

Dan berikut ini rekomendasi muktamar :

1. Konferensi ini akan diselenggarakan secara rutin sesuai dengan negara yang mendapatkan giliran.

2. Mengkoordinir berbagai kecenderungan sufistik dalam semua bidang, baik lembaga, tarekat, maupun ormas. Legitimasi koordinasi tersebut untuk mengatur bagian-bagian tertentu dan untuk mengkoordinir langkah-langkah kegiatan ilmiah, informasi, dan advokasi, serta mempererat hubungan antar gerakan tasawuf di dunia Islam dan lembaga pendidikan yang sah, yang dipimpin oleh al-Azhar di tingkat global, dan akan berkantor pusat di Kairo.

3. Menyeru negara-negara, organisasi internasional, lembaga-lembaga ilmiah, para pakar, para intelektualis, media, serta para pimpinan tasawuf untuk menetapkan nilai-nilai spiritual dan nilai-nilai moderat dalam semua aspek, baik politik, ekonomi, sosial dan semua mekanisme yang memungkinkan.

4. Konferensi merekomendasikan bahwa semua aliran dan kecenderungan, termasuk lembaga keagamaan, baik sufi atau salafi, dan lain-lain, untuk menyatukan pemahaman dan memelihara hubungan baik, atas dasar sebagai berikut :

a) Bekerjasama dalam hal-hal yang telah disepakati, dan saling menerima perbedaan yang tidak dapat disatukan.

b) Tidak mendiskreditkan ulama dan da’i, serta menjadikan al-Azhar sebagai rujukan referensi ilmiah, serta menyepakati hal-hal yang menyatukan perbedaan bangsa-bangsa, dan berbeda dalam hal furu’ (cabang-cabang) agama yang telah disepakati.

5. Pembentukan stasiun televisi yang perduli dengan isu-isu moralitas dan nilai-nilai spiritual, untuk menolak kekerasan dan ekstrimisme.

6. Pembentukan pusat penelitian, untuk menyebarkan pengetahuan dan memperbaiki hubungan serta keharmonisan antar anak bangsa, dan menindaklanjuti pelaksanaan rekomendasi (keputusan) dari konferensi.

7. Konferensi memuji peran aktif Majlis Sufi Tertinggi Mesir, atas misi reformasi, dan merestui penyampaian Pimpinan Sufi Tertinggi Mesir dalam sesi pembukaan konferensi, terutama berkaitan dengan pengembangan dan kontrol legitimasi ilmiah dalam rangka dakwah dan syi’ar dengan cara mengkorelasikan antara syariat dengan hakikat, fikih dengan ushulnya, di bawah pengawasan al-Azhar, dengan memfokuskan pada reformasi sufi yang efektif.

8. Konferensi meminta negara-negara Arab, negara-negara Islam, serta negara-negara di dunia dan organisasi internasional, untuk mendukung hak rakyat Palestina dalam rangka mendirikan negara merdeka dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.

9. Konferensi meminta Pemerintah cepat mengambil tindakan reformasi untuk menjaga stabilitas dan menghindari pertumpahan darah, serta menyeru setiap orang untuk menjaga persatuan dan integritas negara.

10. Mulai mengaktifkan sistem diplomasi publik, didasarkan pada keberadaan sufi di Sudan, serta mempererat persaudaraan yang kuat, untuk mengakhiri konflik antara faksi-faksi yang bertikai di sana.

Sungguh, even yang luar biasa dan menakjubkan, namun kita sedikit perlu mempertanyakan, mengapa Indonesia tidak dilibatkan dalam konferensi besar ini?. Padahal, Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia. Ada apa gerangan?. Apakah Indonesia belum dianggap mampu, atau memang peran tarekat dan tasawuf di Indonesia masih dalam tataran lokal, bukan global. Padahal konferensi sufi sebelumnya di Libya, Prof. Dr. KH. Aqil Siradj sebagai Ketua Umum PBNU mendapat undangan kehormatan, dan PBNU sempat menyelenggarakan konferensi sufi internasional juga pada pertengahan Juli 2011 yang lalu!.

Kita berharap, Indonesia akan dilibatkan dalam muktamar-muktamar selanjutnya, dan juga berperan aktif terhadap kecenderungan sufistik dan tarekat yang ada di Indonesia. Karena, Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) berdiri atas dasar nilai-nilai tersebut, yang telah ditanam oleh para penyebar Islam di Nusantara, terutama walisongo dan dilestarikan oleh seluruh pesantren di Indonesia, yang merupakan subkultur gugusan bangsa Indonesia, yang berjajar puluhan ribu pulau dan ratusan bahasa, serta ribuan adat istiadat. Apalagi kehadiran wahabisme dan fundamentalisme dewasa ini kian memperburuk citra negara tercinta kita di mata dunia internasional. Walhasil, Indonesia subur dengan tasawuf dan tarekat, diperkaya dengan Bhinneka Tunggal Ika, bukan negara teroris yang melegitimasi segala bentuk fanatisme, kekerasan, dan premanisme.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.