Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya baru saja menemukan majalah CS Edisi 57 akhir bulan Ramadhan kemarin. Alhamdulillah, banyak hal yang mebuat saya sadar sebagai manusia. Setelah beberapa waktu saya stress berat karena politik yang cukup kotor.
Terus terang saya adalah salah satu dari sekian Caleg yang gagal maju ke kursi parlemen. Dan itu pasti juga ribuan orang yang gagal seperti saya. Cuma saya, sakit hati banget, dan antara gemes, trauma, dan ambisi masih terus bergelut. Pasti Pak Ustadz tahu sendiri, bagaimana situasi jual beli suara, dan saya tidak mau mengungkit lebih jauh, karena semakin saya ungkit semakin kecewa dan menyakitkan.
Setelah bertemu dengan CS, saya agak sadar, walaupun belum sepenuhnya. Saya ingin berlangganan terus, dan saya ingin diberi tip sederhana untuk obat stress saya ini. Soal dana bisa dicari, tapi soal luka dimana mencari dokternya?
Terima Kasih
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
budi_drm@yahoo.com
Jawab
Segala sesuatu kalau anda kembalikan pada diri anda, dan berangkat dari keakuan anda, pasti berakhir dengan “menyakitkan” apakah sukses atau pun gagal. Kalau sukses, anda malah bisa menyakiti banyak orang, karena anda ingin jadi wakil rakyat, rupanya anda malah mewakili ambisi, ego dan nafsu anda sendiri.
Menurut saya, anda harus benar-benar bersyukur, alhamdulillah, karena anda tidak jadi wakil rakyat di parlemen. Karena, jika anda tidak benar-benar menjadi pejuang rakyat di sana, tetapi
hanya demi karir politik anda, kelak harta dan gaji anda malah jadi bencana, hilang berkahnya, dan anda akan dituntut di akhirat oleh rakyat yang anda wakili.
Allah masih saying pada anda, dan anda digagalkan karena anda akan diberi tugas ruhaniyah yang selama ini anda terlantarkan, anda penjara sendiri oleh nafsu dan ambisi anda. Apakah anda masih berfikir ingin menggadaikan akhirat anda dengan dunia? Apakah anda masih terbayang untuk memenjarakan iman anda, dengan kegelapan politik atas nama perjuangan?
Suatu ketika, jika Allah swt, berkehendak, pastilah anda akan jadi pejuang sejati. Pejuang sejati tidak pernah berhenti berjuang, dan dimana saja pintu perjuang terbuka. Memang salah satunya ada di partai politik. Tetapi, itu bagian kecil dari arena
perjuangan. Anda mesti bertanya pada diri sendiri, sebenarnya anda ini adalah pejuang atau politisi? Kalau anda pejuang silakan terus berjuang Lillahi Ta’ala. Li’ilaaikalimatillah (demi mengunggulkan kalimat Allah Yang Luhur).
Tetapi kalau anda politisi, bisa saja anda beralasan demi perjuangan, demi tegaknya agama, demi tegaknya bangsa, atau demi mengentas nasib rakyat, tetapi itu jargon yang anda jual untuk kepentingan karir politik bukan?
Sekarang waktu yang berharga anda untuk refleksi, muhasabah, dan berangkatlah menuju Allah, bersama Allah, dan hanya bagi
Allah. Perbanyak istighfar, minimal 100 x setiap habis sholat, ya? Bergaullah dengan orang-orang yang saleh, para Ulama yang Billah. Jangan Ulama kekuasaan, atau Ulama dunia.



