Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Saya seorang penggila facebook. Karena saya senang punya kawan banyak. Sebagai wanita yang butuh pendamping saya, juga berharap, siapa tahu ada yang nyanthol. Betul juga, seorang lelaki yang benar-benar secara fisik maupun pandangannya pas banget dengan saya. Maka, saya pun menjalin hubungan untuk ke jenjang nikah, tetapi sejumlah sahabat saya kaget dengan foto yang saya unjukkan tentang pacar saya.
Katanya, apakah saya sudah menimbang-nimbang? Apakah saya sudah istikhoroh? Apakah saya tidak salah pilih?
Pertanyaan mereka sangat membuat saya bingung. Tapi dasar saya sudah merasa klik, saya lanjutkan percintaan saya. Kebetulan memang dia berbeda agama dengan saya, dan saya berharap ia mengikuti agama saya. Bahkan harapan itu ada, karena ia bukan penganut agama yang taat, anginan-anginan.
Terakhir tiba-tiba sepetri sambar gledhek. Ia memutuskan tiba-tiba, katanya sudah dijodohkan sama orang tuanya. Saya nggak terima. Hati saya hancur.
Setelah saya menghindar dari lelaki, beberapa waktu lalu, dia menghubungi saya, katanya ingin kembali ke saya. Antara sakit, dendam, dan berharap campur aduk. Bahkan semakin saya ingat dia, semakin sakit hati saya. Sampai saya merasa kalau saya ini didukunkan, karena dia memang punya banyak guru dukun.
Tolong saya diberi arahan agar keluar dari kemelut ini. Semoga saya lebih lega dan nrimo atas kejadian semua ini.
Wassalamu’alaikum Wr. Wb
Sany Furaid
fur_idnew[ad]plaza.com
Jawab:
Mbak Sany, harus lebih yakin kepada Allah swt. Bukan meyakini bayangan-bayangan, atau ungkapan simpang siur. Selama ini. Hubungan anda dengan Allah swt, barangkali sebatas kepentingan anda, dan kepentingan itu pasti menurut selera anda, bukan menurut Allah swt.
Saya seringkali menyampaikan agar setiap proses hubungan menuju jenjang nikah, sebelum jatuh cinta mesti sholat Istikhoroh lebih dulu, mohon petunjuk kepada Allah swt, apakah ada manfaat bagi dunia dan akhirat atau tidak. Sebab pernikahan itu, adalah perjalanan cinta dan kasih sayang sampai ke hadapan Allah swt, dan itu tidak hanya di dunia, tapi juga harus sampai ke akhirat, sampai di hadapan Allah swt.
Yang saya sebut sampai ke hadapan Allah swt, apakah pernikahan nantinya justru mendorong ibadah anda kepada Allah swt, menuju Allah swt, atau justru sebaliknya malah membuat anda alpa, dan lebih memilih cinta kepada makhlukNya?
Mari kita teladani jejak keluarga Nabi saw, dengan para isterinya. Dan jangan sampai, kita mempermaklumkan alibi kita dengan kata-kata, “Maklum, dia kan Nabi. Sedangkan kita? Kita orang awam biasa…”
Itu hanya alibi nafsu kita yang enggan berjuang dan enggan mencintai Allah dan RasulNya.
Jadi jkalau anda gagal, itulah hakikat anugerah Allah Ta’ala pada anda. Kata Ibnnu Athaillah as-Sakandary, “Al-Man’u ‘ainul ‘atha’” (Gagal itulah hakikat pemberian anugerah), manakala kita faham pada Allah swt. Dan tolong jangan ada alasan lagi, dengan kata-kata, “Hmmmm..gampang sih bicara, saya yang njalani ini, sakit Pak…!” Kalimat demikian juga kalimat emosional, yang justru semakin membuat anda sakit, tersiksa dan putus asa dari rahmat Allah swt.
Kalau anda bisa istighfar 1000 x setiap hari, itu sangat bagus, semoga Allah swt, mengklarifikasi jiwa anda yang sedang ruwet.




