Pilar Bangsa Telah Roboh

3.  Kedermawanan orang-orang kaya
(Pelaku ekonomi dan system ekonomi berdimensi kerakyatan)
Negeri kita bangkit ekonominya sejak tahun 70-an. Tetapi tiba-tiba ambruk ketika peredaran modal, konglomerasi dan kapitalisasi memihak pada orang-orang kaya. “Jangan sampai modal itu berputar ditangan orang-orang kaya diantara kalian,” demikian tegas Al-Qur’an. Sentralisasi ekonomi pada pengusaha-pengusaha kaya harus dikendalikan Negara, apalagi konsep globalisasi yang hendak dicanangkan dunia, semakin menjepit mayoritas warga bangsa dunia, karena modal dan kebijakan ekonomi hanya akan dipegang oleh seperlima (1/5) warga dunia.

Harus dibaca juga..

Al-Qur’an memberikan sinyal luar biasa, “Kalian tidak meraih kebajikan selama kalian tidak menafklahkan  harta yang kalian cintai…”
Allah mengecam 115 kali lebih pada dunia, agar para hambaNya tidak mencintai dunia walau pun ia kaya. Karena harta itu titipan Allah, hakikatnya bukan hasil karya dan kerja kerasnya. Mencintai harta adalah awal tragedy dunia dan akhirat.

Pasar adalah nafsu. Mengendalikan nafsu berarti perjuangan membersihkan kerakusan hewaniyah dan kekejaman emosional dalam diri manusia. Pengendalian nafsu ini harus diterjemahkan dalam system ekonomi dan pasar, apa pun namanya. Bahkan jika menggunakan nama syariat, nama Islamy, tetapi muatannya justru liberalisasi ekonomi, jelas bertentangan dengan semangat Al-Qur’an itu sendiri.
Robohnya ekonomi kita diakibatkan oleh konsentrasi kekayaan pada para elit pengusaha. Bahkan kalau perlu atas nama pengentasan kemiskinan, sebagai topeng politis untuk menutupi  gurita-gurita ekonominya, akhirnya kebijakan pemihakan terhadap kaum miskin muncul dalam gerakan karikatif, BLT, bantuan-bantuan semu yang membius. Rakyat toh, tak pernah dididik berhubungan dengan bank secara benar, dan kemudahan-kemudahan modal hanya wacana yang membubung tak pernah punya fondasi struktur yang kokoh.

Coba  kita renungkan tragedy orang-orang kaya di bawah ini:

  • Orang-orang kaya membagikan zakat dan sedekahnya, sembari bangga dirinya, sembari merasa bahwa dia telah berbuat bagi kemanusiaan, sementara hatinya sedang mengambil jarak status sosial dengan mereka yang diberi. Mereka bangga melihat orang-orang miskin berderet, antri sembako murah, antri bantuan sosial, antrian panjang, seakan-akan tangan suci orang kaya telah mengulur dan bersentuhan dengan kaum miskin itu. Pemandangan yang sangat menyakitkan. Karena bukan demikian sesungguhnya mencintai orang-orang miskin.
  • Ada orang kaya yang memanfaatkan orang-orang miskin, dengan cara bersedekah kepada mereka, agar bisnisnya semakin menggurita, semakin kaya. Sedekah dalam rangka meraih kekayaan. Sedekah dalam rangka penguatan kekuasaan ekonomi. Sedekah dijadikan ajang dua mata gunting, dimata publik biar disebut dermawan, dan di mata Tuhan agar di beri banyak peluang usaha. Jelas ini adalah tragedy spiritual dalam beragama. Karena keikhlasan telah sirna, riya’ telah menjadi konsumsi, kesombongan telah dipupuknya.
  • Ada orang kaya yang menabur-naburkan hartanya, bahkan dari pesawat udara, sekadar hiburan semu yang menambah luka, atau sekadar buang sial? Dan orang-orang miskin menikmati sampah sial itu? Atau sebenarnya hanya ingin membuat popularitas atas nama keteladanan? Teladan macam apa?
  • Ada orang kaya yang berambisi kuasa. Lalu hartanya ditumpuk untuk membiayai ambisi kekuasaannya, sampai nasionalisme dan agama dibeli, membiayai perpecahan, atau menciptakan perpecahan untuk dikuasainya. Hartanya dibagikan demi kepentingan-kepentingan kekuasaan. Inilah penyuapan spirit, agar jiwa-jiwa besar menjadi kerdil, agar segalanya bisa dipermainkan. Inilah bencana harta!
  • Ada orang yang beranjak mulai sukses dengan kekayaannya. Ketika beranjak ia berharap bisa membantu orang-orang miskin, tetapi ketika sukses, ia masih terus berambisi menambah kekayaannya, karena ia merasa belum kaya, karena pemburu harta memang tak pernah kaya. Hanya liang kubur yang menghentikan ambisi menumpuk hartanya.[pagebreak]

4. Doa orang-orang miskin (Mengentaskan Kemiskinan)
Di negeri ini berjuta-juta orang berada di bawah garis kemiskinan. “Kemiskinan itu mendekati kekufuran,” sabda Nabi Saw. Berarti sebuah proses, system, atau kekuasaan yang membuat rakyat menjadi miskin, adalah wahana penjerumusan krisis terhadap keimanan.
Kata seorang Wali, jika kemiskinan mengarahkan seseorang pada kekafiran, maka kekayaan mengarahkan seseorang pada kesombongan.

Berjuta-juta orang miskin di negeri ini, sudah enggan mendoakan orang-orang kaya dan penguasanya, karena mereka terlempar dari kepedulian system dan manusia-manusia yang sombong oleh kepemilikan dan kedudukannya.

Berjuta orang miskin di negeri ini lebih banyak memaki dan melaknat mereka, dalam kesunyian dan kedekilan nuraninya akibat ketertindasan.

Ada seorang sufi, setiap mau makan selalu mengundang para muridnya untuk makan bersama. Ketika ramai orang makan dengan lahapnya, siapa tahu sang sufi ini lupa pada orang-orang miskin. Kadang sang sufi beberapa hari tidak makan, karena setiap suap yang hendak menyentuh bibirnya, Allah membukakan hatinya tentang kondisi orang-orang miskin di negeri ini. Maka suapan itu tidak lagi bisa masuk ke mulutnya, tenggorokannya tercekak. Bagaimana ia bisa makan ketika di hadapannya serasa banyak orang yang lapar?
Tetapi di negeri ini sangat ironis. Para penguasanya malu mengakui tingkat kemiskinan yang bertambah, dan malu kepada tetangga negeri jika bangsanya tambah miskin.

Namun, anehnya mereka bangga dengan deretan orang-orang miskin, deretan tangan-tangan yang meminta, menengadahkan bantuan. Apakah kemiskinan itu juga lahan bagi kepentingan-kepentingan? Dimanakah nurani mereka itu, ketika harta dikuras, sekarang justru keringat dan airmata orang-orang miskin juga dikuras?
Masya Allah!

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.