Pilar Bangsa Telah Roboh

Betapa tidak? Ketika bangsa ini belum merdeka, dengan fasilitas yang sangat terbatas, muncul cendekiawan dan intelektual Indonesia yang mendunia, muncul para Ulama Indonesia yang diakui dunia dengan karya-karya besarnya. Tetapi hari ini, dunia pesantren tak berdaya, industri ilmu-ilmu Islam yang luar biasa itu, telah mulai menyusut kearah degradasinya. Sementara kebijakan pendidikan kita dan kemajuan yang diraihnya, jauh dibanding negara-negara di Afrika, atau Negara yang baru merdeka seperti Vietnam.

Harus dibaca juga..

Hari ini berjuta-juta anak bangsa terlantar sekolah karena biaya yang mahal. Ada sekolah gratis, tapi masih terbatas, itu pun masih disertai dana-dana sumbangan siluman di sana sini.

Dunia pendidikan kita telah dirobohkan oleh kebodohan mereka yang mengkonsep system pendidikan, stategi pendidikan, dan politik pendidikan yang justru membodohkan bangsa, seperti runtuhnya pengetahuan agama kita dirobohkan oleh mereka yang menjual ilmunya dengan fasilitas duniawi yang murah dan hina, lalu muncullah Ulama-ulama tolol yang berbau sampah kemunafikan meruyak  pengetahuan agama dengan fatwanya.

Ilmunya para Ulama berarti hadirnya dunia pendidikan yang memproduksi kualitas manusia yang bermoral. Namun hari ini, yang disebut moral Islam, lebih banyak ditampilkan dengan formalitas pakaian, formalitas senyuman, formalitas agar disebut beretika dan beradab. Sebuah kebanggaan yang retak, semu dan menyesakkan nafas luhur dari Islam itu sendiri. Sungguh sangat menakutkan. Karena budi pekerti tidak muncul dari hati. Tetapi muncul dari hawa nafsu yang mencari keuntungan dibalik Nama-nama Ilahi.
Apalagi ilmunya Ulama-ulama yang mengenal Allah (ma’rifat billah), tahun-tahun terakhir ini dianggap sebagai sesuatu yang asing, langka, dan bahkan sering disesatkan oleh ketololan dan kegelapan nafsu.

2.  Keadilan pemimpin (Pribadi pemimpian dan system pemerintahan yang bersih dan memihak rakyat)
Apakah para pemimpin negeri ini tidak adil?  Apakah peristiwa peradilan itu bukti sebagai keadilan para pemimpin? Apakah banyaknya lembaga peradilan itu menunjukkan kesungguhan penegakan keadilan? Siapa yang mendapatkan kelayakan keadilan? Kenapa ada pilihan-pilihan penegakan hukum dan keadilan? Apakah penegakan keadilan itu professi lantas dijadikan lahan pekerjaan, bukan dijadikan sebagai tugas mulia?
Apakah rakyat kecil yang diam membisu itu wujud setuju atas kebijakan penguasa yang sesungguhnya tidak memihak mereka? Sampai kapankah  atas nama keadilan menipu berjuta-juta bangsa ini?
Bukankah jeritan ketidak adilan sudah lama muncul dari hati nurani rakyat kecil, lalu mereka hanya bisa berucap dengan putus asa, “Biar Tuhan yang mengadili…!”?  Sampai kapan mereka menjadi konsumen kebohongan dari industri kekuasaan yang zalim?

Siapa sebenarnya yang mereka pimpin? Apakah mereka ini pemimpin rakyatnya atau menjadi boneka orang yang memiliki kepentingan? Apakah mereka ini pemimpin rakyat, bangsa dan ummat, ataukah mereka ini seakan-akan pemimpin, karena jabatan itu adalah lambang dari sebuah prestisius? Apakah mereka ini sudah matirasa dengan Keadilan Tuhan? Apakah mereka yang mengibarkan lambang dan bendera keadilan itu benar-benar adil? Beranikah mereka mengadili orang yang mengangkat mereka? Hati nurani yang menjawab.

Karena ketidak adilan dan kebohongan senantiasa muncul dari mulut, yang malah bisa sebaliknya dari apa yang diucapkannya. Seperti orang yang mengatakan, “Saya tidak sombong!” Sebenarnya hatinya sangat sombong dan arogan. “Saya dengan ikhlas memberikan semua ini…” Pasti hatinya tidak ikhlas.

Ayat Al-Qur’an benar, “Taatlah pada Allah dan taatlah pada Rasul, dan yang menjabat pemimpin dari kalian…” Tetapi ayat ini tidak boleh dibaca oleh para penguasa. Karena ayat ini hanya layak dibaca rakyat. Ayat yang harus dibaca penguasa adalah “Perintahlah dengan adil dan baik…”.
Sejenak kita renungkan refleksi di bawah ini:

  • Jika pemimpin adil, rakyat akan menghormati dan mendukung pemimpinnya.
  • Jika pemimpin adil, rakyat tidak akan berteriak dimana-mana dan menghormati hukum.
  • Jika pemimpin adil pasti akan ada system keadilan yang kuat didukung lembaga peradilan yang lepas dari segala campur tangan termasuk campur tangan kekuasaan dan kepentingan mana pun.
  • Jika pemimpin adil demokrasi tidak berjalan liar dan liberal, juga tidak diktatoral.
  • Jika pemimpin adil tidak ada kelaparan dan kemiskinan
  • Jika pemimpin adil ketakutan berubah jadi harapan, krisis pun jadi peluang.
  • Jika pemimpin adil, seluruh aparatnya tertib, dunia akan menaruh kembali kepercayaan penuh negeri ini.
  • Jika pemimpin adil rakyat akan tumbuh harga dirinya, dan semangat bangkit dari keterpurukan jadi nyata.
  • Kepemimpinan yang adil berarti ketegasan tanpa emosi, keberanian tanpa tanpa kepentingan kelompok dan pribadi.
  • Kepemimpinan yang adil berarti system politik yang terbuka, tanpa memanfaatkan celah hukum untuk kepentingan korupsi kekuasaan.
  • Kepemimpinan yang adil berarti tidak memihak pada kekerasan

Dalam kaidah fiqih disebutkan, “Pemimpin itu berorientasi pada kemashlahatan rakyat”. Begitu juga soal pilihan dari dua hal yang buruk, “Pemimpin yang  secara pribadi banyak dosanya (kemaksiatan pribadi) namun sangat peduli pada rakyatnya, lebih baik ketimbang pemimpin yang saleh, ahli ibadah, tetapi tidak memihak kepentingan rakyatnya.”

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.