Assalamu ‘Alaikum Wr. Wb
Pak Luqman Hakim, banyak yang ingin saya ceritakan kepada bapak, tetapi saya tidak tau harus memulai dari mana, jadi saya akan bercerita terus, membiarkan cerita ini mengalir, sebelumnya saya mohon maaf apabila kata-kata saya kurang berkenan/kurang sopan.
Pak Luqman, saya ini adalah pengkhianat kalau bisa dibilang begitu Pak, dulu saya pernah merasakan yang namanya kemanisan dalam beribadah, kalau beribadah itu nikmat sekali dan saya jadi ketagihan sama ibadah.
Dulu saya ini mempunyai banyak pertanyaan tentang Islam, saya bingung mencari perbedaan antara Islam dengan agama lain, karena setahu saya, Islam hanya itu-itu saja, shalat, pahala, puasa, tidak boleh ini, tidak boleh itu, tetapi bukannya saya ragu akan Islam, saya yakin seyakin yakinnya, tetapi saya menginginkan yang lebih dari Islam, pasti ada yang lebih dari Islam, karena pengetahuan saya dulu kita beribadah untuk mendapatkan pahala, agar masuk surga, jangan sampai masuk ke neraka.
Lalu saya pikir, bukankah itu sempit sekali? Hanya untuk pahala? Dan supaya bisa masuk surga? Tentang Allah Swt juga waktu itu saya berfikir, kalau Allah adalah sebenar2nya Tuhan, maka Dia harusnya lebih dari sekedar ditakuti, kemudian saya ingat betul, pertama kali menemukan majalah Cahaya Sufi, saya kira majalah ini sama seperti majalah lainnya, dll. Lalu saya mulai membaca, dan saya terkejut, ini adalah jawaban yang saya cari, dari majalah setipis ini, saya menemukan jawaban yang bertahun-tahun saya cari.
Sebelumnya saya banyak membaca buku-buku Islam, bahkan mulai dari SD, rasa ingin tahu saya memang besar, sampai dulu ada orang yang menganggap saya aneh, anak kecil kok baca buku yang berat.
Sejak saat itu saya tau yang namanya tasawuf, dan sufi. Dari ajaran ini semua pertanyaan saya terjawab. Saya sadar, bahwa belajar Islam itu harus ada guru. Kemudian Alhamdulillah saya mulai merasakan kemanisan dalam beribadah. Walaupun sedikit saya mulai mengenal Allah, dan tidak ada yang lebih penting dari Allah. Yang saya pikirkan hanya Allah saja. Dan saat itu saya merasakan tercerahkan luar biasa, hati dan pikiran saya nyaman sekali, saya jadi gampang memahami segala sesuatu.
Tapi segalanya berubah pak, ketika waktu itu saya pacaran, singkatnya, Naudzubillah, ceritanya panjang pak, tapi inti cerita saya bukan ini, sejak saat itu saya mulai kehilangan kemanisan dalam beribadah, saya merasa sangat kotor, hati saya terasa buruk, dan pikiran saya terasa buruk, pikiran saya tidak bisa berpikir seperti dulu, dan hati saya jadi sempit sekali, saya pribadi menjadi manusia zombie, hati saya tidak bisa merasakan apa-apa.
Sampai sekarang. Alhamdulillah dalam bulan Ramadhan ini, saya lawan semua keinginan rendah saya, dan kembali beribadah, walaupun sedikit, saya merasakan kemanisan lagi.
Pak lukman, saya ini ingin bertaubat, tapi diri ini rasanya sangat kotor sekali, rasanya saya tidak pantas untuk merasakan seperti dulu lagi, saya ini ingin berguru kepada orang2 seperti bapak, bukan seperti ustadz biasa yang kalau ceramah suka teriak memekakkan telinga, yang dibahas hanya itu2 saja.
Senang sekali rasanya saya bertemu dengan orang seperti bapak, dulu saya ikut pengajian bapak di daerah depok, saya tau bapak berbeda, ketika bapak ceramah saya rasanya nyaman sekali, seperti di rangkul. Tapi sebenarnya saya malu, saya ini orang bodoh, sedikit sekali pengetahuan agama, saya tidak tahu tata cara doa dalam Islam. Saya juga belum lancar membaca Al-Quran.
Pak Luqman, dulu sejak saya merasakan kemanisan dalam beribadah, saya tahu bukan dunia ini yang saya cari, tapi Allah, dulu saya berkeinginan untuk melepaskan semua yang saya punya dan mencari mursyid, tetapi dilarang oleh Kakung saya, karena Kakung saya ingin saya bekerja terlebih dahulu, Kakung saya tau cita-cita saya untuk membantu orang banyak, “Kalau tidak punya uang bagaimana mau membantu orang banyak?” katanya.
Tetapi saya sadar sekarang posisi saya sebagai pendosa, hati saya suram sekali, saya ini seperti maju tidak bisa mundur tidak bisa, mundur ke dunia saya tidak mau, maju seperti dulu saya sadar saya ini pendosa besar. Saya tahu hakikat saya sebagai manusia yang tidak lebih dari hina, dan sangat butuh akan Tuhannya. Saya pun tahu kalau semuanya yang terjadi sudah di takdirkan oleh Allah, bahkan yang terjadi kepada diri saya, karena Allah sendiri yang memberi bukti itu kepada saya, dari dulu saya suka bermimpi yang mimpi itu jadi kenyataan, dari situ saya sadar, memang takdir Allah itu sudah di tentukan.
Pak Luqman, saya ini ingin bertaubat, apakah ada cara dan apakah saya pantas? Maafkan saya yang sangat bodoh sekali ini pak, saya malu kepada bapak saking bodohnya saya. Saya merasa dulu disayang Allah, tetapi kemudian saya mengkhianatinya. Saya akan melakukan apa saja pak, dan saya berkeinginan ada yang membimbing saya, karena saya ini suka bingung.
Saya juga tidak mau yang setengah-setengah, satu-satunyanya keinginan saya kalaupun keinginan ini tidak berlebihan mengingat posisi saya, adalah bertemu dengan Allah. Hati ini rindu sekali. Saya ingin mempunyai guru, bukan untuk hebat-hebatan, tetapi untuk mempelajari tujuan diri saya sendiri. Saya ingin mempelajari hakikat-hakikat segalanya, karena saya ini serba bingung. Pak Lukman, saya sampaikan salam dari Kakung saya, beliau ingin sekali bertemu dengan bapak, namun apa daya, beliau sedang sakit, kedua matanya juga buta, hampir sama seperti Gus Dur, kebetulan Kakung angkat saya ini sepupunya Gus Dur juga.
Maafkan saya apabila kata-kata saya kurang berkenan Pak Luqman, padahal saya merangkai kata di otak saya kalimatnya bagus sekali, tetapi yang keluar malah kata yang tidak enak dibaca seperti ini, namun saya tau, saya harus bercerita kepada bapak. Tolong saya pak.
Wasalamu’alaikum Wr. Wb
xxxfanbumiansayaah@xxxx.xxx
Jawab:
Hakikat taubat itu justru melupakan dosa-dosa. Bukan mengingat dosa. Demikian pandangan Imam Junaid al-Baghdady. Banyak orang mengingat dosa-dosanya, akhirnya hanya romantik dan bangga bisa mengingat dosanya di masa lalu. Lalu ia kehilangan harapan dan optimisme menuju Allah Swt.
Anda merasakan titik di depan begitu jauh yang harus anda tempuh. Padahal tujuannya sangat dekat.
Allah begitu dekat dengan anda, lebih dekat disbanding anda sendiri, atau apa pun juga. Sekarang waktunya anda belajar untuk ikhlas, yaitu segala ibadah, hidup dan mati hanya untuk Allah Swt. Bukan kepentingan lainNya. Ini butuh keberanian melawan bayangan-bayangan, khayalan-khayalan, imajinasi dan masa lalu anda.
Ingatlah anda ini dari Allah, sekarang sedang menuju Allah, bersama Allah, dan persiapkan diri anda agar bisa berserta Allah, hingga lebur dirimu sebagai bayangan pada Sang Pembayang, “dalam Allah”, dan apalagi kalau bukan hanya bagi Allah, dan bersandar pada Allah Azza wa-Jalla.



