Madu Dari Lebah Bencana

Para pengkafe yang mulai bergerombol di depan taman parker mulai berbisik, tentang menu utama malam itu. “Madu dari Lebah Bencana….”
Setiap memandang tulisan menu utama itu, mereka terus beristighfar, ada yang berani masuk, ada yang tidak. Yang berani masuk memandang dan membayangkan Lebah Bencana dengan langkah-langkah kerelaan dan kepasrahan.
Sedangkan yang tidak berani masuk, merasa tidak pantas meneguk Madu Bencana itu, karena malu pada diri sendiri, karena belum bisa sabar, belum bisa ridho, belum bisa syukur terhadap menu Ilahi itu. Ketika Public Relation mengumumkan agar para peng-kafe segera masuk ruangan, maka mulai tambak wajah-wajah gelisah, wajah risau dan cemas, namun juga wajah berseri penuh kelapangan dada.

Harus dibaca juga..

“Kiat meminum Madu Bencana….” Begitu tulisan itu tertera di sudut Kafe, maka tempat itu mejadi sesak berjubal.
“Lihatlah, bencana dunia adalah madu ini. Kegelisahan adalah buah ranum indah yang dimakan lebah, ketika di akhirat setiap orang berkata: Oh nasibku…duhai nasibku! Sedangkan kita harus berkata: Rabbi…Rabbi..! Engkaulah hasrat kehendakku…hasrat citaku…!”
Madu ini dari lebah yang paling menyengat. Sebab ia memakan buah-buahan dan bunga dari pohon Ma’rifat, dari biji Tauhid, yang di tanam di belantara duniawi, hutan  rimba tanpa aturan, penuh dengan raksasa-raksasa liar dan binatang buas nafsu.

Pohon ini kuat karena selalu disiram dengan cintanya kepada sang Maha Agung; Dihindarkan dari pupuk nafsu, lalu dirawat dengan mengikuti jejak At-Tanzil (Qur’an dan Sunnah), dengan penuh hati-hati dan rasa takut jika ia harus berpindah dari Tuhannya.
Nah, sang hamba punya bagian. Sang penakut punya rasa ingin lari. Sang pecinta punya asmara. Sang arif punya kegirangan.

Pesta atas madu ini segera dimulai. Semuanya sedang bersiap diri menurut kemampuan masing-masing. “Oh, pesta meneguk madu bencana….Masya Allah…Nikmatnya tersembunyi dalam pahitnya!. Manisnya tersembunyi dalam getirnya. Indahnya tersembunyi dalam kerasnya cobaan. Kepuasannya tersembunyi dalam semangat jihad melawan dirinya sendiri. Syukurnya ada dalam sabarnya. Sabarnya ada dalam menahan diri pada nikmatNya.  Cahaya tak menyilaukan dirinya, karena ia menyelinap dibalik cahaya, lalu bertemu dengan Sang Maha Pencahaya. Seteguk madu telah membubarkan dunia seisinya. Dua teguk madu telah mengusir  syetan dan pendukungnya. Seteguk lagi madu telah melemparkan nafsunya. Seteguk madu lagi ia lampaui akhirat.
Tiba-tiba sudah di hadapan Rabbul Izzah….”.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.