EPISTEMOLOGI SUFISTIK

 

Harus dibaca juga..

EPISTEMOLOGI IHSANI
“Engkau melihat matanya berlinang karena kema’rifatan mereka pada Allah” (Al-Maidah 83).

Ihsan, secara umum adalah manifestasi dari tindakan (amaliyah) Islam dan Iman, yang menjadi puncak dari ontology dan manifestasinya (tahaqquq). Dalam bidang-bidang ilmiyahnya kelak dieksplorasi oleh dunia Tasawuf, sebagai disiplin ilmu bagi Al-Ihsan. Peradaban Ihsan adalah puncak dari dialektika dan sekaligus wujud nyata dari “kebenaran puncak” yang selama ini dilalui dalam Islam dan Iman. Varian-varian peradaban Tasawuf misalnya menggambarkan betapa dalamnya relung-relung hakikat, sekaligus begitu merdeka dan liberalnya, ketika manifestasinya bersinggungan dengan titik pandang epistemologis dan folusufis secara umum. Disinilah saya sebut sebagai epistemology paling unik dan misterius, namun sekaligus begitu sederhana dan bersahaja.

Ruang lingkup epistemologinya, mengeksplorasi wilayah Rahasia Ruh (Sirr) yang diberlakukan secara metodologis maupun paedagogis oleh para Sufi Agung (Syeikh dan Mursyid) terhadap para penempuh Jalan Allah (Thariqah). Puncak moral yang agung akan terus mengalirkan mata airnya, menempuh liku jurang dan sungai, hingga bermuara ke lautan demi lautan yang tak terhingga kedalamannya, dari satu rahasia ke rahasia lainnya tanpa batas. Wacana ini bukanlah apologia atas ketidakmampuan manusia memasuki lembah hakikat secara final, lantas finaslisasi atas kebodohan manusia sebagai klaim akhir dari kebenaran.

Pada wilayah ini, ada nuansa upaya sang hamba untuk meraih kebenaran hakikat melalui perwujudan hakikat itu sendiri. “Dekonstruksi epostemologis” berjalan di sini, ketika akal dan fikiran harus memposisikan sebagai akibat dari sebuah proses pencahayaan kebenaran dari Allah swt. Oleh karena itu objek-objek dalam epistemolgi Ihsani adalah Allah, Dzat yang Dima’rifati (al-Ma’ruf), dan karenanya manifestasi-manifestasi (Tajalli) Ilahi, memancarkan Sifat dan KarakterNya, dalam limpahan-limpahan Cahaya (al-Muwajahah).

Ilmu, ma’rifat, pemahaman, pembenaran dan maujud hakikat bukanlah tujuan dalam proses epistemologisnya, namun limpahan-limpahan anugerah itulah yang membuat dinamika hakikat menghantarkan perjalanan masing-masing elemen dalam jiwa untuk hidup dan menemukan hakikat dirinya.

“Ihsan adalah hendaknya engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatNya, dan apabila engkau tidak bisa melihatNya, maka Dia melihatmu.” Demikian Sabda Nabi Saw.
Menyembah dan seakan-akan melihat yang disembah adalah wujud paripurna dari hakikat pengetahuan (ma’rifah), yang berarti juga memandang melalui pandanganNya, sehingga yang tampak adalah manifestasi Cahaya Nama dan SifatNya, yang kelak memancarkan hikmah dan pengetahuan.

Secara Epistemologis memang terjadi struktur yang berurutan:
Pertama metode Tazkiyah (wayuzakkiihim)
Kedua metode ilmiyah (wa-yu’allikhum al-kitaab)
Ketiga, proses munculnya hikmah-hikmah pengetahuan.

Hal demikian menunjukkan bahwa Tazkiyah, adalah awal yang kelak memantulkan cahayaNya, disertai penyucian qalbu (Tathhirul Qulub). Inilah Suasana Tanwirul Asrar, memantul dalam Qalbu, lalu memancarkan cahaya yang membuka akal, untuk memberi struktur ilmu pengetahuan. Kelak populer di kalangan Sufi, dengan metode Takhalli, Tahalli dan Tajalli, atau Tazkiyah, Tathhir, Tanwir.

Disini semakin jelas, cahaya melahirkan kehidupan ruhani, lalu menjadi perilaku ruhani (adab), kemudian melahirkan amal (akhlak), baru lahir ilmu pengetahuan.
Dalam pola Metodology Ihsany muncul berbagai pendekatan dan proses spiritual yang sangat mengagumkan. Lahirnya istilah-istilah Tasawuf, seperti Fana’, Baqa’ Taraqqy, Tanazzul, Mahw dan Shahw, Mukasyafah, Muhadharah, Mufatahah, Mujalasah, Muhadatsah, Muthalaah, dan sejumlah sistematika Maqomat dan Ahwal tidak lepas dari pendekatan Epistemologi Ihsani yang dibangun oleh para sufi.

Begitu juga terminologi yang muncul secara metaforal dan – khususnya berkaitan dengan refleksi teologis, — kita kenal disana semisal pembagian sistematik antara Tanzih, Tasbih, Tajrid, Tafrid, Tauhid, dan sebagainya, semisal Nurun ala Nur, Nuuril anwaar, Nurun Muhammadiyah, Nuurun Ahmadiyyah, Nur Tawajjuh, Nuur Muwajahah, dan sebagainya, merefleksikan sebuah pendekatan pemahaman perilaku spiritual Sufi yang sangat kaya pengetahuan.

Nur sebagai pembuka pengetahuan, misalnya, dalam proses pendekatan raihannya, terbagi menjadi dua. 1)Nur at-Tawajjuh, 2) Nur al-Muwajahah.
Nur Tawajjuh, berfungsi sebagai pembuka jalan para penempuh Jalan Sufi menuju kebenaran hakiki, Allah Rabbul ‘Izzah. Ia perlu menggunakan instrumen Nur ini, demi terbebas dari kegelapan. Nur Tawajjuh ini berada di wilayah Syariah dan Thariqah, wilayah Islam dan Iman, wilayah ibadah lahir dan batin yang ditempuh melalui Mujahadah dan Mukabadah.

Sedangkan Nur Muwajahah lebih pada pantulan yang terus melimpahi mereka yang sudah sampai (wushul) pada Sang Maha Benar ‘Azza wa-Jalla, dan berdimensi serba hakikat, dengan wilayah ke-Ihsanan, dimana ubudiyahnya lebih pada konsentrasi renungan dan pandangan Ilahiyah, melalui Musyahadah dan Mukalamah (berdialog dengan Allah Swt). Pada tahap inilah sang arif yang washil tidak lagi butuh Nur, karena Musyahadahnya pada Nurun Nuur, dan ia sendiri telah menjadi Nur itu sendiri (‘ainun nuur), hingga hanya Lillah (bagi Allah swt) dan Billah (bersamaNya).

Dengan kata lain, pendekatan metodologis, sekaligus menyatu dengan aksiologisnya, dan karena refleksi ontologisnya telah memancarkan cahaya kepribadian sempurna. Maka dalam konteks inilah sejumlah nilai-nilai besar lahir, yang menjadi yang kokoh, seperti:
1. Kembali kepada Allah dalam segalanya,
2. Mengandalkan Allah dalam segala hal,
3. Lebur dalam Allah, jauh dari segalanya,
4. Pembuktian bersama Allah atas segalanya,
5. Meraih limpahan rizki pengetahuan,
6. Ketersingkapan khazanah pemahaman,
7. Hubungan langsung dengan limpahan-limpahan cahayaNya,
8. Dan sirna dari cahaya, karena memandang Sang Esa Al-Qahhar.

Hal ini dikuatkan oleh pendekatan manifestasif yang dahsyat melalui pilart-pilar kehambaanNya

1. Mengikat diri dengan Allah dalam segalanya.
2. Ridho apa pun dari Allah dalam segalanya.
3. Kembali kepadaNya dalam segala urusannya
4. Terus menjaga kefakiran kepada allah dalam segalanya,
5. Inabah (kembali hati dari alpa padaNya) dalam segalanya,
6. Sabar bersama Allah dalam segala hal,
7. Memutuskan diri hanya kepada Allah dalam apa pun,
8. Istiqomah pada Allah dalam apa saja,
9. Pasrah padaNya dalam segalanya
10. Menyerahkan total padaNya.

Al-Asrar (rahasia-rahasia batin yang hakiki) merupakan tonggak mula Epistemologi Ihsani ini. Syeikh Ahmad ar-Rifa’y secara cemerlang menggambarkan:
• Apabila Sirr (rahasia batin) teguh, maka akal akan teguh.
• Apabila akal teguh, hati akan teguh,
• Apabila hati teguh, nafsu akan teguh (dalam konsistensi pengendalian dan pembersihan).
• Apabila nafsu teguh, maka tegaklah perilaku jiwa.

– Sirr dipancari oleh Cahaya Jalal dan Jamal,
– Akal dipancari oleh Cahaya Kesadaran dan Kontemplasi,
– Qalbu dipancari oleh Cahaya Khasyyah (rasa takut dan cinta) dan Cahaya Fikiran,
– Nafsu dipancari oleh Cahaya Olah Jiwa (Riyadhoh) dan Semangat luhur.

Inilah wilayah Ulul Albab, atau mereka yang telah dianugerahi pencahayaan ruhani pada kedalaman Sirrnya (al-Lubb), yang selamanya merefleksikan dzikir, baik ketika sedang tegak dan teguh Sirr dan Ruhnya (qiyaaman), dan ketika duduk dalam kontemplasi hatinya (qu’uudan), maupun dan pencerahan ketika ia lelap tidur dengan kealpaan nafsunya lalu sadar dalam semangat (wa’ala junubihim), dan terus menerus tafakkur dibalik penciptaan langit dan bumi, lalu memandang melalui cahaya fikirannya pada Asma’ dan sifatNya di balik semesta lahir dan batin (as-Samawat wal-Ardh).

Kaum ulul albaab meraih pengetahuan bukan dari renungan pada alam semesta, tetapi mereka meraih aksioma pengetahuan bersama Allah, baru kemudian memandang dan melihat alam semesta bersamaNya.

Wallahu a’lam bis Shawab
Jakarta 19 Nopember 2014
Disampaikan oleh KHM Luqman Hakim, Ph D, pada Seminar Internasional “Religion, Philosophy, and Science” dalam Tasawuf and Epistemology: Dzauq as Basic of Sciences. Rabu 19 Nopember 2014 UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.