EPISTEMOLOGI IMANI
Iman berkembang menjadi fakultas-fakultas filosufi teologis dan aksiologis yang kelak mempengaruhi cara pandang akidah ummat. Dengan perjalanan historiknya yang begitu ketat, “Peradaban Iman” telah berpengaruh dalam sejarah agama (Islam) ini penuh dialektika yang luar biasa. Inilah yang berkembang menjadi bagian-bagian sentra dari psikhologi beragama dan etika beragama (morality).
Oleh karena itu peradaban iman, secara epistemologis akan mempengaruhi tugas-tugas fakultas batin manusia, sejauhmana apresiasi, fungsi dan posisi alam fikiran, alam nafsu, alam Qalbu, alam Akal, alam Ruh, melahirkan organism teologis yang berkaitan dengan alam semesta, Tuhan dan diri sendiri. Suatu wilayah dan atmosfir akidah yang begitu cemerlang. Inilah yang saya sebut dengan Epistemology Iman.
Epoistemologi Imani berhubungan erat dengan Ontologi, yang kelak secara teoritis, manusia meyakini Kebenaran Hakiki, Tujuan Hakiki, dan bagaimana menempuh Jalan menuju Yang Maha Benar. Ilmu Agama dan Praktek Agama (Amaliyah dan Ubudiyah), bertperan besar dalam reproduksi pengetahuan-pengetahuan teologis, yang tentu saja apresiasi Fikiran dan Akal mengalami transformasi dari renungan Fisika menuju Renungan Metafisik, dari Akal Fisika menuju Akal Metafisik dengan logika-logika yang membuka “Rasa Yaqin yang nyata” (‘ainulk yaqin) sebagai wujud Keimanan.
Inilah wilayah Qalbu, dan bagaimana Qalbu mengapresiasi sejumlah elemen batin untuk dijadikan sumber pengetahuan. Ilmu-ilmu syariah dan ilmu-ilmu hakikat berpadu dalam Qalbu untuk menaikkan terus menerus dejarat keimanan. Semakin tinggi pengetahuan seseorang, semakin tinggi derajatnya di hadapan Allah Swt, karena apresiasi Qalbu dari oleh fikiran dan pandangan Mata Qalbu (Akal, Bashirah) terus membubung dalam nuansa Khasyyah (rasa takut dan cinta) kepada Allah Swt.
Antara Pengetahuan dan “Perilaku Batin” bergerak, dan fungsi-fungsi fikiran serta akal mengalami peningkatan derajatnya masing-masing. Transformasi menuju renungan batin dan terbukanya mata batin menjadi point-point utama dalam kehidupan pengetahuan batin.
Dalam konteks Epistemologi Imani, bisa diurai dalam fungsi yang begitu mekanis, logis dan Akal Qalbu terus membimbing melalui pandangannya.
Namun ada hambatan besar yang mesti disibak agar sumber pengetahuan yang hakiki, yang seringkali menjadi lapisan-lapisan tirai kegelapan yang menutup pandangan Akal yang jernih. Lapisan ini dsiebut dengan Hawa Nafsu.
Maka kinerja Qalbu akan membuat keputusan atas pengetahuan, apakah Qalbu memihak pada Hawa Nafsu atau memihak pada Pandangan Bashirahnya, yang telah dipancari oleh Cahaya Kebenaran Hakiki, yang dihidupkan melalui Ruhnya. Maka konsentrasi Epistemology Imani akan berorientasi pada metode-metode khusus (yang menurut istilah dunia Tasawuf disebut Thariqah) melalui Mujahadah (Perlawanan Nafsu Bathiniyah), sebagai bagian unik dari Epistemology ini.
Di sini digambarkan, Qalbu adalah Istana Spesial Ilahiyah, sekaligus raja yang memanage seluruh proses Kebenaran (melalui tafaqquhnya)agar dijalankan oleh para aparat dan rakyatnya.
Secara fundamental ada elemen-elemen yang berhubungan dengan wilayah ini, untuk difaahami agar fiungsi masing-masing tidak saling tumpang tindih, dengan tahap dan derajat spiritualitas kebenaran menuju Sang Maha Benar.
Derajat Epistemology Imany inilah yang akan memberikan respon Pengetahuan yang lebih tinggi. Dan karenanya perlu dijadikan renungan lebih dalam hal-hal yang berkaitan dengan wilayah mana yang elementer, suplementer, dan fundamental, tetrmasuk response-responsinya terhadap alam fisika (al-mulk wasy-syahadah):
- Fikiran terus hidup dengan renungan logis, karena Qalbu terus membutuhkan pancaran cahaya fikiran, untuk menepis pengaruh-pengaruh hawa nafsu yang menyeret Qalbu pada bidang-bidang kegelapannnya. Jika pencerahan fikrah menerangi Qalbu yang memang harus dihidupkan oleh Qalbu, dengan membuka Mata Akal Ruhaniyah (bashirah), hawa nafsu akan tersimngkirkan dalam dari kegelapannya, dan Nafsu sendiri mengalami transformasi, menuju semangat positif (dari Ammaraoh menuju Lawwamah, Lalu menuju Mulhamah, menuju Muthmainnah, menuju Radhiyah, menuju Mardhiyah dan menuju Kamilah). Di sini Qalbu akan membuat keputusan yang par exellen atas kebenaran pengetahuan, sekaligus tindakan kebijakannya.
- Fikiran akan bergerak untuk meningkatkan derajat pengetahuan melalui analisan mata qalbu (bashirah) yang melahirkan:
• Rasa yaqin yang tak terbantahkan.
• Kesadaran akan kebenaran sejati.
• Semangat bangkit menuju Allah Swt.
• Sirnanya hijab
• Nilai-nilai luhur yang dijadikan pijakan perilaku hati.
• Memandang yang tersembunyi di balik alam ciptaaanNya.
• Merdeka dari pengaruh alam ciptaaan karena memandang Sang Pencipta.
• Qalbu menghidupkan seluruh daya batin, melalui ruh (ruhany) yang digerakkan oleh Nur al-Asrar, yang menjadi awal terbitnya Cahaya Pengetahuan Ruhani dari Allah Swt.
• Qalbu menjadi hidup oleh Dzikrullah, akibat Pengetahuan Ma’rifah melalui CahayaNya. - Fikiran akan menarik Qalbu untuk menembus wilayah Ketuhanan, agar memahami Asma’ dan SifatNya. Apa hubungan Asma dengan CiptaanNya? Apa hubungan Asma dengan SifatNya? Sedangkan Akal akan terus memantau, mana yang wajib, mana yang mungkin, mana yang mustahil, mana yang bebas. Qalbu mengimani dengan rasa yakin yang nyata, dan mengimplementasikan dalam kesadaran Tauhidnya.
- Kesadaran puncak di wilayah ini adalah “rasa fana'” , namun pengetahuan akan posisi fana’, membuat fikiran terus berkembang, karena Qalbu harus menaikkan derajatnya pada kesadaran Baqa’. Dan pada wilayah inilah, peran Epistemology Ihsany , kelak akan semakin tampak jelas.
- Pada wilayah Epistemology ini ada atmosfir Aksiologis penataan batin, melalui pengetahuan yang difahami oleh akal dan fikiran dari sumber utamanya, Al-Qur’an dan Sunnah, dan sejumlah pengalaman Sufi Agung yang telah disistematisir dalam struktur Ilmu Pengtetahuan Tasawuf. Sebab, ada transformasi dari Al-‘Ilm menuju Al-Ma’rifah, sekaligus terus menjadi mediasi, antara Ilmu, Ma’rifah, Amal dan Ahwal (perilaku bathin) atau Amal, Akhlaq dan Adab.
- Transformasi terjadi dari Alam Syariah menuju Alam Thariqah dan Hakikat, dari Ilmul Yaqin ke ‘Ainul Yaqin, dari menyembah menjadi menuju Allah, dari Akhlaq menjuju Adab, dari fisika ke metafisika, tetapi karena adanya piranti pengetahuan lewat tafakkur dan ta’aqqul, perjalanan pengetahuannya tidak pernah berhenti di sini, hingga memasuki wilayah perwujudan Hakikat (Tahaqquq dan Tajally) yang tiada hingga.
- Benar dan jujur hati, keikhlasan dan ketentraman hati, merupakan sumber dasar dari pengetahuan ini. Pada akhirnya ada dekonstruksi, jika semua ilmu melahirkan amal, maka di posisi ini, amal justru melahirkan ilmu. Jika dalam Epistemologi Islami, syariat menuju hakikat, dalam Epistemologi Imani justru sebaliknya, syariat adalah akibat hakikat. Amal Ibadah melahirkan anugerah pahala, didekonstruksi menjadi: pahala dan anugerahlah yang melahirkan ibadah.




