Dakwah dan Zina

Assalamu’alaikum Wr. Wb
Syaikh, saya ingin bertanya. Saya telah melakukan kekhilafan 2 tahun lalu. Dalam lingkungan yang buruk, akhirnya saya terjatuh dalam lembah dosa. saya pernah melakukan “hubungan suami-istri” dengan kekasih saya. Akhirnya saya sadar, bahwa saya telah salah dan saya sudah insyaf. Sekarang saya ingin melanjutkan kehidupan di jalan da’wah sampai akhir hayat saya.

Pertanyaannya:
Saya ingin menikah, apakah saya harus menikah dengan mantan kekasih saya? Sementara, ia tak pernah rela jika saya menghabiskan seluruh waktu untuk da’wah? 
Bagaimana jika saya menikah dengan seorang wanita sholehah? Apakah baik menurut syaikh? Karena saya pernah mendengar, jika seorang pezina menikah dengan wanita baik-baik (sholehah) maka akan merusak keturunan.

Terima kasih sebelumnya syaikh.
Wasalamu’alaikum Wr. Wb
desember90@xxxx.xxx

Jawab:
Pertama-tama anda harus memahami bahwa yang disebut dakwah itu bukan berceramah di mimbar belaka, pidato di sana sini, atau mendatangi orang demi orang saja. Dakwah itu bukan karir juga bukan pekerjaan. Salah besar jika orang bercita-cita jadi muballigh atau da’i, dengan sebuah persepsi bahwa sehari-harinya adalah melakukan pekerjaan ceramah dan pidato di sana sini. Apalagi jika seseorang merasa bangga menjadi da’i, maka semua pahala dakwahnya sirna dan cahaya serta berkah dakwahnya surut.

Cara pandang anda yang sempit tentang dakwah justru anda akan mengandalkan aktivitas dakwah sebagai tempat bergantung, seakan-akan aktivitas dakwah telah menjadi kartu visa anda ke syurga. Orang yang bangga dengan dakwahnya, dengan jihadnya, dengan aktivitas ubudiyahnya, dengan amaliyahnya, justru menjadi hijab antara dirinya dengan Allah Azza wa-Jalla. Kenapa jadi hijab? Karena ada nafsu dibalik itu semua.

Harus dibedakan antara dakwah sebagai kelaziman dan keniscayaan setiap individu, dengan nafsu dakwah. Juga harus dibedakan antara dakwah sebagai tontonan dan sebagai tuntunan. Harus dibedakan pula kebudayaan dakwah dengan dakwah yang berbudaya.

Seorang pendakwah tidak memerlukan sebutannya sebagai Da’i atau Muballigh, bahkan tidak butuh sama sekali dengan sebuah lembaga dengan nama Lembaga Dakwah. Karena dalam kebudayaan sehari-hari, kenyataannya tidak semua da’i atau muballigh, atau sebuah Lembaga Dakwah melaksanakan dakwah.

Dakwah bisa dilakukan siapa saja, apa pun profesi dan pekerjaannya, di mana pun, dengan tuntunan cara berdakwah menurut Allah dan Rasulullah saw, serta para Ulama dan Auliya’, mengajak manusia menuju Allah, adalah da’i dan sekaligus muballigh. Orang yang bekerja dengan benar dan jujur, adalah da’i. Orang yang mengajar di sekolahan, apa pun disiplin pengetahuannya adalah da’I, manakala ilmunya untuk kepentingan kebajikan dunia akhirat. Sopir bus, mikrolet, bemo, tukang becak, jika melakukan aktivitasnya dengan penuh disiplin adalah seorang da’i.

Tetapi betapa banyak orang yang melakukan aktivitas atas nama dakwah, namun justru banyak yang menyesatkan, karena baru mengenal beberapa ayat dan hadits sudah berani menyalah pandangan para Ulama yang sholeh. Banyak aktivitas dakwah isinya malah menghujat, bangga dengan dukungan massa besar, hura-hura, tidak lebih dibanding drama yang menyakitkan bagi dunia ruhani.

Betapa banyak orang merasa menjadi pendakwah menjadi merasa paling benar, paling luhur derajat imannya, paling Islami, paling hakiki, paling suci, kenyataannya tidak lebih dari tukang jamu yang bangga dengan ornament keagamaan, dengan meneriakkan Nama-nama Allah, sebagai sebutan untuk kebanggaan emosinya saja. Inilah tragedi dakwah.

Lebih tragis dan hina lagi ketika dakwah dijadikan industri ekonomi, industri politik, industri hiburan, tanpa ia sadari mereka telah berenang di kubang kehinaan yang kotor yang gelap. Betapa akhirat dijadikan bendera bagi dunianya, betapa syurga dijadikan merek bagi hijab jahanamnya, betapa kata-kata menjadi mutiara-mutiara harta yang memperdayainya, betapa Asma-Asma Allah harus keluar dari kerongkongan nafsu syahwatnya.

Saya sarankan sebelum anda berdakwah, belajarlah agama yang benar, yang dalam, sampai ke hakikat agama. Belajar pada Ulama dan Kiai yang bener dulu. Jangan meniru orang-orang yang berdakwah dengan huruf-huruf dan kulit belaka, tidak mengenal makna sesungguhnya, nanti malah sesat dan menyesatkan.

Soal anda mau menikah, silakan sholat istikhoroh lebih dahulu, bila mantan kekasih anda baik bagi dunia dan akhirat anda, silakan jalani. Jika tidak mohon kepada Allah swt, agar anda diberi ganti yang lebih baik dan manfaat dunia akhirat.

Nah, soal makna ayat zina, dimaksudkan adalah orang yang senang berzina, hobi zina, maka ia layak mendapat pasangan yang hobi berzina pula, agar aktivitas perzinaannya berhenti. Bukan seperti yang anda persepsi seperti di atas.

 

Harus dibaca juga..

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.