Bakhil dan Cinta Harta

Rasul saw. bersabda, “Ya Allah, jadikanlah makanan pokok keluarga Muhammad itu sekadar cukup menahan lapar. Bila lebih dari cukup akan binasa!”
Sabdanya pula, “Siapa yang mengambil harta dunia lebih dari kebutuhannya, berarti ia mengambil kematian dan kebinasaannya, sedang ia tidak mengerti.”
Sebagai musafir, bila kita mengambil dunia melebihi kebutuhan sebagai bekal perjalanan, kita pun akan binasa karena terlalu berat memikul beban bekal tersebut. Pada akhirnya justru menghambat perjalanan kita dan bahkan tidak akan sampai ke tujuan semestinya. sesungguhnya mengambil dan menumpuk harta melebihi kebutuhan, dapat membinasakan diri, hal itu ditinjau dan tiga sisi:

Harus dibaca juga..

Pertama: Bahwa menumpuk harta itu cenderung menyeret seseorang ke tebing kedurhakaan dan maksiat. Sebab, ujian dengan kemewahan jauh lebih sulit
daripada dengan kesengsaraan. Dan sabar dalam kondisi mampu itu lebih sulit.
Kedua: Cenderung mendorong seseorang untuk hidup berfoya-foya terhadap hal-hal yang memang halal, yang menyebabkan badan gemuk, dan tidak mungkin ada kesabaran di sana. Tidak mungkin pula membiasakan foya-foya itu, kecuali didukung oleh orang lain, yang kelak menjerumuskan pada kezaliman. Tentunya tindakan seperti itu mengarah pada kemunafikan, kebohongan, riya’, permusuhan, dendam dan kemudian melahirkan
bencana-bencana. Karenanya, Nabi saw. memperingatkan, “Cinta dunia itu pangkal segala kesalahan.”
Ketiga: Cenderung alpa dzikir kepada Allah swt. Padahal mengingat Allah merupakan asas kebahagiaan dunia dan akhirat. Di dalam mencari dan mengembangkan harta kekayaan, hati akan dirisaukan oleh beragam pemikiran yang berkecamuk terutama tentang bagaimana cara memperoleh, memelihara dan mengeluarkan serta mengembangkannya. Semua pemikiran-pemikiran ini dapat menyuramkan hati, dan
melalaikan dzikir sebagaimana firman-Nya, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu.”  (Al-Qur’an).

Kriteria Cukup
Anda, barangkali ingin mengetahui seberapa ukuran kecukupan itu, dan Anda katakan, “Tak ada orang kaya, kecuali selalu menyangka bahwa kekayaan yang ada di tangannya masih di bawah ukuran cukup.”

Ketahuilah bahwa kondisi darurat itu, bila yang dibutuhkan secara mendesak adalah makan dan pakaian saja. Bila Anda meninggalkan pakaian elok, dalam setahun Anda cukup dengan dua dinar bagi musim dingin dan musim panas. Anda memakai pakaian kasar yang bisa Anda pakai untuk menahan panas dan dingin.

Jika Anda meninggalkan makanan yang lezat-lezat dan rasa kenyang, cukup satu mud sehari. Sehingga setahun cukup 500 kati. Lauk-pauknya bila minimal cukup tiga dinar setahun dengan perhitungan harga sedang murah. Karenanya, setahun, Anda cukup biaya lima dinar dan 500 kati. Perkiraan ini kami hitung bagi bujangan.

Jika Anda berkeluarga, Anda mengukur masing-masing anggota keluarga bagiannya sama dengan di atas. Bila Anda pekerja, dan hasilnya sudah cukup untuk kebutuhan sehari, berhentilah, sisa waktunya untuk ibadat hari itu. Kalau Anda masih tambah lagi, Anda sudah tergolong ahli dunia. Apalagi pada zaman seperti saat ini ketika hati telah bergeser dan kikir merajalela, sementara kebutuhan orang-orang yang miskin terabaikan. Kadar seperti di atas lebih baik daripada meminta-minta. Dengan syarat, Anda memang tidak ingin kelaparan dan kedinginan, agar terlepas dan keterlantaran. Disamping itu Anda menghindari maut dan tidak senang bila tersia-sia. Keterlantaran yang menjadi motif Anda mendapatkan makanan sama seperti waktu kosong untuk istirahat, semata karena Anda maksudkan dalam keadaan darurat. Sebab Rasulullah saw. bersabda, “Janganlah engkau membuat keterlantaran, sehingga engkau menjadi cinta dunia.”

Ketika Anda inginkan, dalam waktu kosong untuk keperluan keagamaan, berarti Anda adalah seorang musafir yang berbekal, bukan orang yang berhenti di atas kesia-siaan.
Sebagian orang memang tidak menerima kriteria saya di atas, kecuali dalam keadaan sulit dan paceklik. Tidak berdosa, menurut agama, lebih dari kriteria di atas, sebab Juga tidak tergolong pemuja dunia dan tidak keluar dan barisan generasi akhirat, serta mereka yang pergi kepada Allah swt. sepanjang bertujuan untuk menolak dan penyakit/bahaya yang mengganggu dzikir dan ibadat. Bukan untuk maksud berfoya-foya di dunia.

Jika ada kelebihan makanan, hendaknya diberikan kepada mereka yang terlantar dan para janda. Toleransi demikian diperkenankan, kecuali untuk berfoya-foya, mengumbar sedekah, atau sekadar menolak bencana pada harta.

Berfoya-foya akan memalingkan diri dari Allah swt. dan akan sibuk dengan dunia. Sedangkan mengumbar sedekah, maka meninggalkan harta lebih baik. Nabi Isa as. berkata, “Wahai pemburu dunia, hendaknya engkau berbuat baik, meninggalkan duniamu, lebih baik dan lebih baik.”

Sedangkan menolak bencana dengan menebar harta, sungguh tak berdasar. Karena, berarti menyimpan su’udzan yang tiada akhirnya. Sebaiknya mendistribusikan harta itu dengan penuh husnudzan kepada Allah swt, terserah kehendak-Nya. Jika memang harta mengandung bencana, pasti kelak Allah
membuka pintu rezeki lain tanpa diduga.

Allah swt. berfirman:
“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberi jalan keluar, dan
memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya.” (Q.s. Ath-Thalaaq: 2-3).

Kalau kenyataannya tidak demikian, tidak selayaknya hamba meyakini bahwa keselamatan sepanjang hidupnya dan  bencana memang sudah digariskan. Namun harus yakin bahwa cobaan itu justru yang bisa mencemerlangkan dan membersihkan jiwa dari kotoran-kotoran. Karena itu cobaan pasti dialami oleh para Nabi, para Wali dan sepadannya. Serahkan saja semuanya pada anugerah Allah swt. Bahwa segala musibah itu tidak terjadi melainkan demi kebaikan dan pilihan Anda. Allah-lah yang mengatur segalanya, kerajaan dunia dan kerajaan langit, dan Dia Maha Tahu yang terbaik bagi diri Anda. Apa yang kami sebutkan, bisa lebih dan bisa kurang, tergantung situasi dan zaman. Namun saya yakin, harta itu seperti obat yang bermanfaat, dengan dosis tertentu. Lebih dari dosis akan mematikan atau paling tidak menyakitkan. Anda seharusnya waspada dengan dosis yang ada. Karena melebihi aturan pakai akan membahayakan.

Meminimalkan harta, hanya sedikit menderita seperti pada hari-hari paceklik. Sementara
mereka yang bercita-cita menuju taman Firdaus, tidak merasa berat dengan rasa lapar, karena mereka tahu bahwa kelezatan taman Firdaus itu menurut kadar laparnya.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.