Lalu datanglah agama Nasrani yang mengoreksi atas kesalahan ummat Yunani itu, sehingga paganisme mulai luntur, sehingga Wujud allah ditepiskan dari tema pembahasan. Namun akhirnya terjadi percampuradukan yang kotor di era berikutnya, sampai pada era dimana Allah hanyalah dogma gereja belaka, sehingga pemikiran keagamaan yang suci malah jauh dari Allah, sampai berkembang menjadi pemikiran paganisme rasional. Islam dating membersihkan akidah yang demikian, mencyucikan iman manusia, dimana manusia tidak bisa intervensi terhadap ajaran Allah swt dalam soal akidah dan Risalahnya.
Islam tidak lain adalah kepatuhan dan kepasrahan total kepada Allah swt: Bersinambung dengan Allah swt sesuai dengan apa yang dirihoiNya. Apakah masih ada peluang lain untuk mencari kerelaan selain Allah? Apakah jika masih bergelayut dengan selain Allah dalam akidah ini bisa disebut mu’min?
Bersinambung dengan Allah swt melalui apa yang diwajibkan oleh Asllah swt adalah Islam. Yaitu agama, dan tak ada agama lain lagi. “Sesungguhnya agama enurut Allah adalah Islam>” (Ali Imran 19), “Dan siapa yang mencari agama lain selain Islam tidak akan diterima…” (Ali Imran 85). Sedikit maupun banyak, orang yang yang tidak pasrah total kepada Allah swt, akan mudah ternodai melalui penyimpangannya terhadap Islam.
Islam memiliki pandangan dan prinsip dasar; Diantaranya adalah Wujud Allah itu tidak dijadikan topik pembahasan. Siapa yang menjadikan tema Wujud Allah sebagai tema kajian berarti ia akan berubah orientasinya dari menuju Allah swt, menuju orientasi manusiawi yang nantinya jauh dari agama.
Periode Islam sangat murni sedemikian rupa, yang kahirnya sempat ternoda oleh pandangan filsafat Yunani yang mempengaruhi atmosfir Islam di era Al-Ma’mun, yang kelak lebih menerima pandangan Mu’tazilah. Sehingga pengarhnya luar bisaa terhadap ummat, sehingga logika agama dan fitrah yang benar tidak menjadi pelindung ummat ketika itu, lebih banyak mengalir logika Aristoteles. Lambat laun paganisme rasional berpengaruh kuat mengalahkan agama.
Rasionalisme paganis – semoga Allah Ta’ala melindungi – tidak bisa mengotori akidah Islam yang agung – Iman kepada Allah dan RasulNya, dan hari akhir – . Rasionalisme hanya bisa ditoleransi dalam bidang metode, paradigma dan system kajian. Bukan merasuk pada pandangan teologis. Karena sangat, membahayakan akidah dan melemahkan iman.
Di sinilah anda harus membedakan metode rasional untuk merubah wahyu mengikuti selera rasional, dengan metode rasional untuk menjelaskan dan menyimpulkan ajaran Wahyu untuk kepentingan tertentu. Ini berarti juga, anda harus membedakan antara memaksa wahyu agar berselaras dengan akal rasio kita, dengan menerjemahkan wahyu agar difahami oleh rasio kita. Banyak orang yang tidak bisa membedakan hal ini.
Sehingga banyak pihak yang mentakwilkan wahyu yang dipaksakan agar mengikuti logika rasionalnya, bukannya wahyu yang menjadi penuntun akalnya. Pihak yang mekasa wakyu mengikuti akal rasionya adalah paradigma kaum filsafat Helenis, dan yang menjadikan wahyu sebagai penuntun akal adalah kaum mu’min sejati.
Pandangan paganis rasional memaksa dirinya untuk menetapkan metode memproyeksi Wujud Allah, yang akhirnya mengingkari pandangan keagamaan, malah berakhir dengan mengingkari Wujud Allah Yang Paripurna itu sendiri.
Ketika tema mengenai Wujud Allah menjadi sentra bahasan, pada saat yang sama seseorang kanan masuk dalam proses pengingkaran agama Allah dan mengkafiri Allah swt.
Kesimpulan kedua, adalah pelemahan iman, karena ketika anda masuk dalam bahasan Wujud Ilahi, berarti anda tengah masuk dalam lingkaran skeptisisme (keraguan), karena memang anda sedang membahas Wujud itu sendiri disebabkan keraguan atas wujud.
Lambat laun keimanan kita kepada Allah swt terkikis, sampai tanpa iman. Inilah yang menggerogoti ummat Islam, yang boleh disebut sampai pada frekwensi tanpa iman. Semua itu muncul ketika skeptisisme metodologis memasuki dasar-dasar agama. Apakah ada kesimpulan semakin membuat anda yaqin kepada Allah swt. Setelah mengkaji Wujud Allah swt.?
Kita memhon ampunan kepada Allah dan bertobat kepadaNya. Dan kita kembali bahwa agama itu sendiri senantiasa dijaga oleh Allah swt.:
“Sesungguhnya Kami turunkan Adz-Dzikr, dan sesungguhnya Kami sangat menjaganya.” (Al-Hijr 9)
Sebagian akum ‘Arifin ketika ditanya tentang dalil tentang Allah, maka ia menjawab: “Allah”.
“Lalu akal gunanya untuk apa?” ditanya lagi.
“Akal itu lemah, dan tidak bisa menunjukkan sesuatu kecuali lemah pula.” Jawabnya.
Imam agung, yang sangat terknal sebagai pemadu dunia syariat dan hakikat, Ibnu Athaillah as-Sakanday menegaskan:
“Oh Tuhanku, bagaimana orang membuktikan diriMu melalui sesuatu yang wujudnya sangat butuh kepadaMu? Apakah ada yang lebih jelas dibanding diriMu? Sehingga sesuatu itu bisa menjelaskan tentangMu? Kapankah Engkau hilang, sehingga harus ada sesuatu yang menjadi petunjuk kepadaMu? Kapankah Engkau pernah menjauh
Sehingga makhluk ini menjadi jembatan yang menghubungkan padaMu?”
Beliau juga menegaskan:
“Bagaimana bisa digambarkan bahwa sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itulah yang memunculkan segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan bahwa seuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak menyertai segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak di dalam segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah Tampak bagi segala sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak sebelum segala sesuatu ini ada.”
“Bagaimana bisa digambarkan seuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah itu Tampak dari berbagai sesuatu.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan Allah adalah Satu-satunya, yang tidak satu pun menyertai-Nya.”
“Bagaimana bisa digambarkan, sesuatu itu menghijab Allah, sedangan Allah lebih dekat padamu dibanding segalanya.”
“Bagaimana bisa digambarkan sesuatu itu menghijab Allah, sedangkan tanpa adanya Allah, segala sesuatu tidak pernah ada.”
“Betapa mengherankan, bagaimana Yang Maha Ada, tampak dalam ketiadaan. Atau bagaimana seuatu yang baru berada beserta Dzat yang memiliki sifat Qidam?”
Juga beliau menegaskan:
“Jauh sekali: Antara orang yang mencari bukti adanya Allah melalui selain Allah, orang yang mencari bukti adanya Allah melalui Allah. Orang yang mencari bukti melalui selain Allah tandanya ia belum sampai pada Allah, dan yang membuktikan Allah melalui Allah adalah cara membuktikan dari Wujud asalnya.”
Betapa indah dan elok orientasi yang dikumandangkan Syeikh Abul Hasan asy-Syadzily yang diikuti oleh para muridnya, semoga Allah memberikan balasan kepadanya dan seluruh pandangannya yang benar ini, dengan balasan sebaik-baiknya. Amin.




