Allah

Sejak mula, saat Rasulullah saw, berdakwah secara terang-terangan, – setelah melewati tiga tahun dalam merahasiakan missinya – Rasulullah saw, tidak pernah  memulai dakwahnya dengan menetapkan Wujud Allah. Namun Rasulullah saw, memulai bukti atas pembenaran pada Allah, dan menantang pada Bangsa Arab untuk membenarkannya. Sebelumnya, Rasulullah saw, berada dalam Gua , kemudian wahyu turun. Malaikat atau wahyu yang dibawanya juga sejak mula tidak menetapkan Wujud Allah. Tetapi dimulai dengan perintah kepada Rasul saw, untuk membaca degan Nama Tuhannya:

Harus dibaca juga..

“Bacalah dengan Nama Tuhanmu Yang Menciptakan”. (Al-‘Alaq 1)

Pada kurun awal yang telah lewat itu pun, tak ada perbincangan mengenai penetapan Wujud Allah, bahkan melewati kurun kedua Islam, tak ada perbincangan mengenai Wujud Allah, tidak dijadikan topic kajian.

Karena Wujud Allah adalah masalah yang naluriyah, sama sekali tidak layak untuk dikaji oleh kaum beriman, baik dalam metode penafian maupun penetapan. Wujud Alah adalah sesuatu yang sudah Fitrah Naluriyah dalam diri orang beriman.

Manakala ada orang beriman mencoba membahas Wujud Allah berarti ada “sesuatu” dalam imannya yang mulai merusak.
Al-Qura’an malah menjelaskan mengenai Allah sebagai sebagai Wujud yang sudah tidak perlu dijelaskan, bahkan terhadap kaum yang menyimpangkan akidahnya sekali pun.
“Bila kamu bertanya kepada mereka, siapa yang menciptakan langit dan bumi, pastilah mereka mengatakan: Allah.” (Luqman : 25)

Mereka pun tetap mengatakan: Sang Pencipta itu Allah, walaupun mereka itu musyrik, dan menyimpang dari kebenaran. Agama tidak pernah diturnkan untuk menetapkan Wujud Allah, tetapi agama diturunkan untuk  membenarkan kesalahan akidah tentang Allah, cara bertauhid yang benar.
Sedangkan ayat yang begitu banyak tentang Allah, yang diduga oleh berbagai kalangan untuk menetapkan Wujud Allah, sungguh tidak demikian! Ayat-ayat tersebut semuanya menjelaskan Keagungan Allah, Kebesaran, dan PerlindunganNya terhadap semesta ini, dimana semua gerak gerik kehidupan alam hingga sekecil-kecilnya tidak lepas dari Kekuasaan dan Kehendak Allah.  Semua dalam rangka mengarahkan agar ummat Islam dalam hidup ini berorientasi kepada Allah swt.  sehingga menjadi Muslim yang paripurna, dimana ekspressi maupun arahnya tidak lepas dari Nama Allah swt, menempuh Jalan Allah swt.

Abad pertama dan kedua berlalu cukup signifikan dan murni dalam fitrah, tetapi setelah itu muncul transformasi dari filsafat Yunani di bidang teologi, yang sesungguhnya filsafat ini sangat paganis dan singkretis. Karena filsafat ini murni tumbuh dari akal. Bukan bersumber pada wahyu, dalam mengungkapkan soal metafisika dan akidah.

Pemikiran Yunanian (Helenisme) adalah paganis (bersifat berhala) sama sekali tidak punya pijakan kebenaran di dunia ini, karena akidah itu sangat spesifik dari Allah Ta’ala, yang dijelaskan melalui para RasulNya.
Setiap intervensi manusia terhadap soal akidah itu, pasti tumbuhnya adalah intervensi yag menyimpang, karena bukan wilayah manusiawi. Akidah adalah wilayah suci yang sangat terhormat, yang tidak layak untuk dimasuki manusia kecuali dengan kepatuhan, khusyu’, tunduk, pasrah, karena semua itu datang dari Wahyu Ilahi.

Sedangkan pandangan filsafat Yunani soal akidah sifatnya paganisme sinkretisme, apalagi ketika menetapkan Wujudnya Allah.  Apa yang diungkapkan tentang Wujud Allah tak lebih dari berhala, yang kelak bisa menimbulkan pemberhalaan pada akal manusia.
Sehingga ketika membuktikan wujud Allah secara rasional, nilai dan gunanya tidak ada sama sekali, sebab nilai pengingkaran dan penetapan atas wujud Allah sama, dimana akal bisa menetapkan dan sekaligus juga bisa mengingkari. Jadi pemikiran intelektual Barat maupun Timur, sama sekali tidak bisa menetapkan dan memproyeksikan Wujud allah.

Kita tidak ingin akidah kita didasarkan produk pemikiran manusia, walau pun pemikiran tersebut rasional dan akademik. Siapa pun tidak bisa membuat timbangan pandangan metafisika dengan dasar rasio manusia. Baik rasionalisme tadi berselaras dengan akidah maupun tidak. Karena kita mengikuti agama Allah dan hanya kepada Allah saja sumber segalanya, hanya Allahlah sebagai Sang Pemberi Hidayah, Allahlah yag Memberi Petunjuk. “Siapa yang berpegang teguh padaAllah maka benar-benar diberi hidayah Jalan Lurus.” (Ali Imran : 101)

Siapa yang berpegang teguh pada Allah maka Allah mencukupinya. Segala petunjuk yang bukan petunjuk Allah dalam alam keagamaan, pastilah paganis dan sesat.  Sedangkan filsafat Yunani adalah filsafat paganisme manusia, dan produknya pasti pemberhalaan demi pemberhalaan akal manusia (dengan mengacu logika), yang tidak meraih kebenaran mutlak. Dan Hellenisme inilah yang memunculkan berhala-berhala pemikiran setiap zaman.
Bangsa Yunani, dalam sebagian kurunnya tidak terdapat agama wahyu yang turun dari Langit yang dijadikan petunjuk, sehingga era tersebut persis seperti era Jahiliyah di jazirah Arab, yang mengembalikan semuanya pada akal dan berhala-berhalanya, yang kadang mereka kokohkan dan kadang mereka ingkari.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.