Begitu saran sahabatnya sesama pesuluk. Dan Dony agak terjengah. Akhirnya Ia kunci kopornya lalu ia buang kuncinya.
Mulai saat itu hatinya tenang, tidak lagi ingat Jakarta, keluarga dan anak-anaknya.
“Kenapa saya menjadi peragu seperti itu kemarin ya Kang?” tanyanya pada sahabatnya itu.
“Ya seluruh kebiasaan hatimu akan muncul di sini. Di Jakarta kamu pasti seorang peragu….Sekarang sudah keluar semua hawa nafsumu itu …”
Dony hanya termenung saja sembari menunggu hari-hari yang hendak dilalui di pesulukan itu.
Pertama kali memasuki dunia pesulukan, Ustadz Tony, mulai bingung. Setiap ketemu orang pasti ia ceramahi. Setiap ada orang sedang nggerombol ia nimbrung, ia ceramahi tentang dunia Sufi.
Tapi lama-lama ia mulai menyadari, kenapa sahabat satu pesulukan ada yang selalu pamer kadigdayan, kesaktian dan ilmu-ilmu hikmah di sana. Benar-benar kisah seorang pendekar dengan segala tantangannya.
Ada lagi yang diam saja seribu bahasa, tak pernah bicara kecuali seperlunya. Ada lagi sampai di pondok langsung teriak-teriak, ngomel di sana sini, kurang ini, kurang itu, hawa panas, fasilitas kurang dan lainnya.
Ada yang mojok sendirian saja sambil ngelamun, entah kemana pikirannya. Ustadz tony mulai menyadari ada gejala apa ini? Kenapa malah begini di sini, kenapa gejolaknya naik turun?
Diam-diam Ustadz Tony tidak lagi mau menceramahi kawan-kawannya. Diam-diam ia mulai merasa malu dengan dirinya. Seiring itu pula,macam ekspressi dan watak yang biasa muncul dari kawan-kawan pesulukan mulai mengalami evolusi ruhani. Rupanya ia menyadari bahwa , dan setiap hari Ustadz Tony malah jadi orang yang setengah waras, setengah gila, karena setiap hari ia tertawa sendiri. “Weh..weh di sini kayak di Mekkah saja…sifat aslinya pada nongol, termasuk diri saya…he he he..” gumannya.
Tertawanya semakin meledak kalau ia mengingat kisah sayyidina Umar yang tertawa-tawa sendiri dan menangis, jika ingat di masa Jahiliyah dulu. “Di pesulukan ini seluruh ilmu dan amal masa lalu harus lepas…!” hanya itu kata yang selalu diingat dari sesama pesuluk. Dan malah tawanya meledak.



