Wasiat Kalangan Sufi

Ada seseorang datang ke Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— lalu ia berkata, “Berilah aku wasiat.” Maka Dzun-Nun berwasiat kepadanya, “Saya berpesan kepada Anda, bila Anda dibantu dalam kekuatan ilmu gaib dengan tauhid yang benar, maka sebenarnya itu telah ada sebelum Anda diciptakan, sejak zaman Nabi Adam a.s. hingga sekarang ini, yaitu doa para nabi dan rasul. Maka itu lebih baik bagi Anda, jika Anda tidak demikian, lalu bagaimana panggilan dapat menyelamatkan orang-orang yang tenggelam?”

Harus dibaca juga..

Saya mendengar Abu Muhammad al-Mahiab bin Ahmad bin Marzuq al-Mishri berkata: Ketika kematian siap menjemputAbu Muhammad al-Murta’isy, ia sempat berwasiat kepadaku agar aku melunasi hutangnya sebanyak delapan belas dirham. Setelah jenazahnya dikebumikan, maka pakaian yang biasa ia pakai dihargai delapan belas dirham, aku pun menjualnya dengan harga delapan belas dirham. Sehingga klop untuk melunasi hutangnya. Saat itu beberapa guru Sufi berkumpul kemudian mengambil kantong yang biasa digunakan menyimpan barang dagangan al-Murta’isy, di mana dalam kantong tersebut berisi gamis. Kemudian masing-masing mengambil potongan kain itu lalu mereka pergi.”

Ada seseorang datang kepada Ibrahim bin Syaiban —rahimahullah— lalu ia berkata, “Berilah aku wasiat.” Ibrahim pun memberinya wasiat, “Ingatlah kepada Allah Swt. dan jangan sekali-kali melupakan-Nya, jika Anda tidak bisa melakukan hal itu maka jangan lupa akan kematian.”
Dikatakan kepada sebagian guru Sufi, “Berilah aku wasiat.” Maka ia memberi wasiat, “Hapuslah nama Anda dari daftar nama para qari’ (orang yang bisa membaca al-Qur’an dengan baik).”

Sementara itu Abu Bakar al-Wasithi pernah diminta untuk memberi wasiat, lalu ia berwasiat, “Hitunglah nafas dan waktu Anda. Wassalam.”
Dan yang lain juga berwasiat, “Meminimalkan kepentingan, merendah dan menyusul Allah Azza wajalla.”

Dzun-Nun al-Mishri —rahimahullah— berkata: Ketika aku berjalan di gunung al-Muqthim tiba-tiba seseorang berada di depan pintu gua, lalu ia berkata, “Mahasuci Tuhan Yang telah mengosongkan hatiku dari perasaan putus asa dan mengisinya dengan harapan. Putus asa dari-Nya telah memisahkanku denganNya, sedangkan harapan kepada-Nya telah mengantarkanku kepada-Nya, maka aku selalu berharap kepada-Nya.” Ternyata orang tersebut telah banyak sengsara dalam beribadah dan banyak ‘terlukai’ oleh zuhud. Kemudian aku mendekatinya, tapi ia keburu pergi meninggalkanku. Lalu aku membuntutinya dan berkata kepadanya, “Berilah aku wasiat.” Ia pun memberi wasiat, “Ingatlah, janganlah Anda putus harapan kepada Allah walau sekejap mata, kumpulkan antara kenikmatan dan sengsara, sambunglah hubungan antara Anda dengan Allah, tentu Anda akan melihat kebahagiaan di saat orang-orang yang tidak benar merasakan kekecewaan.” Kemudian aku berkata lagi, “Tolong tambahkan lagi.” Ia menjawab, “Cukup, dan cukup untuk Anda.”

Seseorang berkata kepada Dzun-Nun, “Bekalilah aku suatu kalimat.” Kemudian ia berkata, “Janganlah Anda mengutamakan keraguan daripada keyakinan, jangan rela terhadap diri Anda tanpa adanya ketenangan, dan jika Anda tertimpa musibah maka terimalah dengan kesabaran yang tulus, sandarkan harapan Anda kepada Tuhan Yang Mahaabadi lagi Mahatahu, tentu Anda akan menemukan harapan yang besar, gunakan kesempatan untuk berhubungan dengan Allah Swt., karena sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang apabila mereka mencintai-Nya maka merasa terhibur, dan ma’rifat dengan-Nya lalu mereka banyak berharap kepada-Nya atas ma’rifatnya, bermunajat kepada-Nya pada tingkat ‘ainul-yaqin, sehingga mata hatinya tinggi menuju Dzat Yang Mahaagung, Mulia Kekuasaan-Nya, lalu mereka disirami dari manisnya bermunajat kepada-Nya, disuapi dari lezatnya keikhlasan.

Tangis mereka akan menggema di sekitar Arasy dan rintihan doa mereka berdesing di pintu-pintu langit, karena cepat terkabulkannya doa mereka.”
Al-Junaid dalam beberapa wasiatnya mengatakan, “Saudaraku, beramallah, dan bersegeralah sebelum kematian segera menjemput Anda, cepat-cepatlah sebelum ia lebih cepat memanggilmu. Sementara itu, Allah Swt. telah memberi Anda nasihat dan kejadian-kejadian teman-teman Anda yang telah mendahului Anda, sahabat-sahabat Anda yang sudah dihijrahkan dan alam dunia menuju ke alam baka, maka pelajaran itulah bagian Anda yang masih tersisa dan yang sangat bermanfaat bagi Anda. Bila tidak demikian, maka celakalah Anda. Inilah nasihat dan wasiatku kepada Anda, terimalah mudah-mudahan Anda bisa memuji masalahnya dengan menerima nasihat itu, dan beruntung bila Anda mengamalkannya. Wassalam.”
Demikianlah sekilas wasiat kaum Sufi dan berbagai kekhususan tujuan mereka dalam berwasiat. Semoga Allah memberi taufik kepada kita.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.