Manakah yang lebih dahsyat ketimbang kedahsyatan kaum ‘arifun? Jika ia bicara tentang kondisi ruhaninya, malah ia hancur. Jika ia diam, malah terbakar. Bila hatinya mendapatkan warid Hadrah Ilahi, lisannya malah kelu. Dan jika hatinya sirna dari Hadhrah malah banyak bicaranya.
Dzun Nuun al-Mishry r.a berkata, “Saya tak pernah melihat orang bicara dari kalangan sufi, yang bicara dengan hati yang alpa dari mengingat Allah, melainkan malah bicara seperti itu menambah kekerasan hati.”
Sebagian mengatakan, “Diamnya sang ‘arif merupakan hikmah, dan biacaranya adalah ni’mat.”
Dikatakan, “Tidak dibenarkan dalam pembenaran kema’rifatan bagi orang yang bicara mengenai kema’rifatan pada generasi akhirat. Nah, bagaimana bicara ma’rifat dengan generasi dunia?”
Aku tak pernah bicara dengan satu pun orang, kecuali aku terlebih dulu berdoa kepada Allah Ta’ala, kemudian aku baru bicara.
Siapa yang yang tidak merasakan manisnya ma’rifat, dan melihat anugerah, serta mensyukuri ni’mat, kenikmatan qurbah, ketakutan pisah, kemesraan bergabung denganNya, keikhlasan beribadah, kebahagiaan hidayah, maka ia tidak boleh bicara mengenai dengan ungkapan ahli ma’rifat. Jika ia bicara, kaum ma’rifat tidak melebihi batas kemampuan audiens, tidak pernah menghalangi kalangan yang sangat membutuhkan, dan tidak menelantarkan kaum yang alpa.
Suatu ketika seseorang mendatangi sang ‘arif, sembari memohon, “Bicaralah padaku…!”
Sang ‘arif menjawab, “Orang sepertiku ketika bersamamu, seperti seseorang yang jatuh dalam kotoran, lalu menuju ke tukang parfum, dan mengatakan, “Manakah aroma yang bagus?”
Tukang parfum menjawab, “Pergilah kalian, beli alat pencuci (semacam sabun dsb. Pent.) , bersihkan dirimu dan pakaianmu, lalu kemarilah untuk berparfum…”
Begitu juga anda, ketika anda berjibrat najis-najis dosa dalam dirimu, maka ambillah pencuci remuk redammu dan Lumpur penyesalanmu, dan ambillah air taubat dan inabat, lalu sucikan badanmu dengan tempat atau kolam rasa takut dan harapan dari najis dosa dan kealpaan. Lalu pergilah ke kamar mandi zuhud dan ketaqwaan, bersihkan dirimu dengan air kebeningan dan kejujuran, lalu datanglah kepadaku, nanti aku beri wewangian dengan parfum ma’rifatku.!”
Sebagaian orang bertanya pada sang arif. “Aku tidak mengerti ucapanmu…!”
“Ucapan orang yang bisu tidak bisa diketahui oleh ibunya!” jawab sang arif.
Diantara ucapan Nabi Isa as, “Hai pemilik ucapan hikmah, jadilah dirimu seperti dokter yang menasehati, yang memberikan obat menurut manfaatnya, dan mencegah penyakitnya manakala penyakit itu mengancamnya.”
Jangan sampai kita mengurai hikmah bukan pada ahlinya, hingga anda malah bodoh, dan jangan menghalangi hikmah dari ahlinya, anda malah dzalim. Jangan membuka rahasiamu pada setiap orang, malah anda jadi ternoda.
Dzun Nuun r.a, mengatakan, “Aku pernah melihat orang hitam sedang tawaf di Baitullah, orang itu mengatakan, “Engkau…Engkau…Engkau…”
Tak ada kata lain selain kata itu saja.
“Hai hamba Allah, apa yang anda maksud dengan kata-katamu itu?”
Orang hitam itu kemudian membaca syair:
Diantara para pecinta ada rahasia
Tak ternodakan oleh tulisan dan pena
Hingga harus mengisahkannya
Api yang berbaur dengan kemesraan
Yang dileburi cahaya hingga terungkapkan pada yang lain
Rinduku padaNya, dan aku tak pernah meminta
Gantinya
Inilah rahasia-rahasia terpendam
Engkau munajat kepadaNya




