Tobat

Esensi Tobat
Esensi tobat adalah kembali dari jalan yang jauh menuju jalan yang dekat. Namun demikian, tobat itu memiliki pilar, prinsip dasar dan kesempurnaan. Prinsip dasar adalah iman. Yang berarti, terpancarnya cahaya ma’rifat pada kalbu sehingga dosa-dosa yang ada di dalamnya merupakan racun yang membinasakan. Dari sana bara rasa takut (khauj) dan penyesalan (nadam), kemudian dari bara inilah memancar sikap waspada dan sikap memperbaiki kekeliruan. Untuk saat itu, berupaya meninggalkan dosa-dosa. Untuk kelak, berarti kemauan yang sungguh-sungguh guna meninggalkan dosa-dosa; dan pada masa silam, berarti memperbaiki kekeliruan semaksimal mungkin. Dengan demikian, kesempurnaan tobat dapat digapai.
Jika esensi tobat telah Anda ketahui, maka sangat jelas bahwa tobat itu merupakan kewajiban setiap individu yang wajib dilakukan dalam kondisi apa pun. Karena itulah Allah swt. berfirman, “Dan bertobatlah kamu sekalian kepada Allah ….“ (Q.s. An-Nur: 31).

Harus dibaca juga..

Di sini Allah mengarahkan khitab-Nya kepada semua pihak secara menyeluruh. Tobat itu wajib karena muatan maknanya adalah mengetahui bahwa dosa-dosa bisa menghancurkan, serta darinya motivasi yang kuat untuk meninggalkannya. Ini merupakan salah satu komponen keimanan, yakni mengenal
faktor-faktor di atas.

Bagaimana tobat tidak wajib? Karena manusia itu terdiri dari beberapa sifat: kebinatangan, kebuasan, kesetanan, dan sifat-sifat ketuhanan. Dan unsur-unsur kebinatangan lahir sifat rakus, nafsu birahi dan durhaka. Dari unsur kebuasan lahir sifat-sifat marah, dengki, permusuhan dan rasa benci. Dari unsur kesetanan lahir sifat-sifat tipu daya dan pengkhianatan. Dari unsur ketuhanan lahir sifat sombong, senang dipuja dan cinta kekuasaan.

Prinsip akhlak tersebut adalah keempat perilaku di atas. Sifat-sifat itu telah mendarah daging dalam diri manusia dan sulit untuk dipisahkan. Yang dapat dilakukan hanyalah upaya menyelamatkan diri dari kegelapannya dengan cahaya yang dapat diperoleh dari akal pikiran dan syariat.

Pertama kali unsur yang diciptakan dalam sifat manusia adalah unsur kebinatangan, karena itu pada masa bayi sifat rakus, tamak dan birahi menguasainya. Lalu unsur kebuasan, yang menguasainya melalui sifat bermusuhan dan saling berkompetisi menguasainya. Kemudian diciptakan unsur setaniah yang menguasai dirinya dengan sifat tipu daya dan rekayasa. Unsur kebuasan dan kebinatangan ini menggiring manusia untuk mempergunakan kecerdikannya dalam menyiasati terlaksananya hawa nafsu dan terwujudnya sifat amarah.

Setelah unsur-unsur tersebut, lahirnya unsur ketuhanan (rububiyah) yang menimbulkan sifat sombong, cinta martabat dan tahta. Kemudian diciptakan akal pikiran, yang mencerahkan cahaya dan cahaya itu adalah pasukan Allah dan pasukan malaikat. Sementara sifat-sifat negatif di atas adalah balatentara setan.
Pasukan akal menjadi sempurna ketika usia seseorang mencapai empat puluh tahun, dan awalnya tampak pada usia baligh. Sedangkan seluruh balatentara setan telah bercokol di dalam hati sebelum berusia baligh. Hati dikuasai oleh balatentara tersebut dan dijinakkan oleh nafsu, selanjutnya ia menyebar luas dalam nafsu birahi (syahwat) menuruti gerak nafsu, sampai cahaya akal pikiran itu masuk. Maka terjadilah perang antara nafsu dan akal pikiran dalam konflik hati.

Apabila pasukan akal dan cahaya iman tidak mampu mengalahkan balatentara setan, maka balatentara setan tersebut tetap bercokol sebagaimana semula, berarti kerajaan hati telah menyerah kepada setan. Perang antara hawa nafsu dan akal pikiran merupakan kelaziman dalam fitrah manusia, sebab naluri seorang anak itu tidak akan meluas jika naluri sang bapak tidak meluas pula. Kisah Adam as. itu dituturkan, agar menjadi pelajaran dan perhatian, bahwa hal itu telah menjadi kepastian atas dirinya. Tentu juga menjadi kepastian atas seluruh anak cucunya dalam ketetapan azali yang tidak dapat diubah lagi. Jadi, tidak seorang pun yang tidak membutuhkan tobat.

Bahwa tobat itu wajib dilakukan setiap saat, karena tingkah laku manusia, tidak lepas dari dosa, baik organ tubuhnya atau pada kalbunya. Ia juga tidak lepas dari moral dan perilaku tercela, suatu hal yang harus dijauhi dan dibersihkan dari hati. Perilaku tercela itu menjauhkan diri dari Allah dan upaya untuk menyingkirkan merupakan tobat itu sendiri, karena hal tersebut merupakan tindakan meninggalkan jalan yang jauh (al-bu’du) kembali menuju jalan yang dekat (al-qurb) kepada-Nya.

Jika lepas dari semua itu, ia tidak bisa sunyi dari kealpaan mengingat-Nya. Kealpaan juga termasuk jalan yang menjauhkan diri (dari Nya), ia harus kembali melalui dzikir. Itulah sebabnya, Allah berfirman:
“Dan ingatlah kepada Tuhan mu jika kamu lupa….” (Q.s. Al-Kahfi: 24).

Jika hatinya hadir selamanya, ingat kepada Allah swt, lalu bagaimana? Dalam hal ini ia tidak bisa lepas dari pendakian tahapan (maqam) rendah menuju tahap yang tinggi. Ia harus meningkat ke maqam selanjutnya. Walaupun ia telah melalui maqam tersebut, ia harus tetap terus mendaki dari maqam-maqam yang lebih tinggi lagi. Ketika ia mendaki tahap yang lebih tinggi, ia harus mohon ampun atas tahap lalu yang rendah. Sebab ia merasa telah berdosa atas masa lalunya, ketika ia dapati tahap yang lebih luhur. Padahal tahap-tahap itu tidak pernah ada batasnya.

Hal inilah yang disabdakan oleh Rasulullah saw.:
“Sebenarnya hal itu adalah yang menyelubungi hatiku, hingga aku minta ampun kepada Allah dalam sehari-semalam tujuhpuluh kali.” (Al-Hadis).

Semuanya merupakan tobat. Hanya saja tobat orang awam itu dari dosa-dosa lahiriah. Sedangkan tobat orang-orang saleh adalah tobat dari perilaku-perilaku batin yang tercela; tobat orang-orang takwa adalah tobat dari posisi-posisi keragu-raguan; tobat orang-orang yang cinta kepada Allah swt. (muhibbin) adalah tobat dari kelalaian dzikir; dan tobat orang-orang arif (al-arijiin) adalah tobat dari berhenti pada suatu maqam, padahal di depannya masih terdapat maqam-maqam lagi. Maqam-maqam kedekatan kepada Allah tidaklah berujung, maka tobat seorang arif tidak juga berujung pangkal, tidak berbatas akhir.

Tobat yang telah terpenuhi syarat-syaratnya pasti diterima. Anda tidak perlu  khawatir, jika Anda mengerti tentang makna penerimaan tobat. Makna penerimaan tobat adalah kesiapan hati untuk menerima
cahaya-cahaya ma’rifat dalam dirinya. Hati Anda bagaikan cermin yang pencerahannya terhalangi oleh kotoran-kotoran hawa nafsu dan cinta nafsu. Setiap dosa merupakan bintik hitam kalbu, sedangkan setiap kebaikan adalah bintik cahaya pada kalbu. Karena itulah, kebaikan-kebaikan dapat membersihkan dan mencerahkan jiwa. Itulah sebabnya Nabi Muhammad saw. bersabda, “Kejelekan itu harus diikuti dengan kebaikan agar kebaikan itu dapat menghapusnya.”

Tobat bagi hati bagaikan sabun bagi pakaian. Sabun itu pasti dapat menghilangkan kotoran jika digunakan sebagaimana mestinya. Orang yang meragukan diterima-tidaknya tobatnya, berarti belum yakin atau belum memenuhi syarat-syarat tobat secara utuh. Hal itu sama dengan orang yang meminum obat sakit perut, tapi dia tidak yakin hal itu akan menyembuhkan sakitnya, karena dia tidak tahu tentang syaratsyarat penggunaan obat itu secara utuh. Sebaliknya bila ia mengetahui hal itu, pastilah tergambar kesembuhan, pasti menerima syarat orang yang menolong. Namun pada saat-saat tertentu keragu-raguan ini tidaklah menghantui kita, bahwa tobat itu sendiri harus melalui jalan-jalan tertentu untuk dapat diterima.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.