Pengetahuan “Mati sebelum mati”
Turunnya ilham kedalam hati bisa terjadi ketika seseorang sedang dalam kondisi jaga, tetapi bisa juga ketika seseorang jiwanya tidak sedang bersama raganya. Kondisi seperti tersebut, terakhir inilah yang dalam sabda Rasulullah Saw disebut “Mati sebelum mati.”
Ini adalah suatu ilmu pengetahuan yang sangat luar biasa, yang hanya bisa diperolah dengan zikir yang panjang dan pasti melalui ujian-ujian yang berat dalam proses pensucian hati, yang menjadi tuntutan utama untuk mendasari zikir supaya bisa sampai pada tahap yang dijanjikan Allah, terbukanya hijab hati dan penampakan alam kosong tanpa tepi, dimana ada rasa hidup tanpa raga, berada dalam ketiadaan yang ada, melihat tanpa mata kepala, mendengar tanpa telinga, merasakan tanpa indra, kesaksian yang tidak bisa diungkap dengan kata-kata, tentang datangnya makhluk cahaya, yang mengantar firman-firman Allah yang selalu tersusun dengan kalimat-kalimat yang sempurna, tentang apa yang bakal terjadi dan akan dialami hamba-hamba-Nya.
Bukankah ini semua adalah suatu pengetahuan laduni, yang juga disebut sebagai ilham, yang hanya diterima seseorang dalam kondisi hati yang benar-benar telah suci? Seandainya ada ilham yang membawa syiar tentang kejahatan manusia dan malapetaka sebagai akibatnya, maka bukanlah ilham-nya yang salah.
Syurat Asy-Syam ayat 7 pun tidak menerangkan adanya ilham yang salah. Baca: “Lalu diilhamkan (Allah) kepadanya mana yang buruknya dan mana yang baiknya.” (Terjemah Al-Qur’an Al-Kariim Prof. M. Mahmud Yunus)
Dalam Al-Qur’an dan terjemahnya garapan M. Moh Rivai dan Drs, H.M. Rosihin Abdulghoni CS ditulis : “Maka Dia Allah mengilhamkan kepadanya (jiwa) kedurhakaan dan ketakwaannya.”
Ini artinya, apabila ada yang masuk kedalam hati yang mengajak pada perbuatan yang jahat, itu bukannya ilham, tetapi adalah bisikan syaithan, yang hanya bisa masuk kedalam hati yang kotor, dan tidak mungkin bisa menembus hati orang yang selalu berada dalam kondisi zikir (bersih dan suci).
Mendamaikan Dunia dengan Tasawuf
Apabila para pemimpin negara dan rakyat jelata mengamalkan ajaran sufi, serta semua warga dunia menjauhi perbuatan tercela, maka perdamaian dunia bisa nyata
Di tengah teror dunia, kekerasan yang meraja lela, dan kesombongan globalisasi yang mengancam, dunia sedang gagap dan tak mengerti kemana arah masa depannya. Maka para tokoh sufi sedunia berkumpul di Jakarta (16/7) diparakarsai oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) dengan menghadirkan para sufi dari 22 negara untuk bersama-sama membahas solusi atas berbagai tantangan dan masalah di berbagai kawasan dunia belakangan ini.
Dalam acara Multaqo Sufi Al-Alamy di Jakarta itu juga , disepakati Bentuk Organisasi Sufi se-Dunia. Kesepakatan itu merupakan satu dari lima butir Deklarasi Multaqas Shufi yang ditandatangani oleh Syeikh Hisyam Kabbani (AS), Habib Lutfi bin Ali bin Yahya (Indonesia), KH Said Aqil Siroj (Indonesia), Syeikh Zaid bin Abdurrahman bin Yahya (Yaman), Syeikh Rajab Dieb(Syiria), Syeikh Jibril Fuad (Brunei) dan Syeikh Abdurrahman ar-Rukaini (Sudan).
”Saat ini umat Islam menghadapi masalah besar. Di Indonesia, setidaknya, umat dan rakyat pada umumnya dijepit persoalan yang pelik dan berat,” ujar Rais Am Syuriah PB NU KH Sahal Mahfudz saat membuka acara Konferensi Sufi Internasional di Hotel Borobudur, Jakarta, kemarin (16/7).
Dia lantas menunjuk, di level negara, tindak korupsi sudah semakin merajalela. Bahkan, itu sudah dianggap sebagai hal biasa. Di sisi lain, masyarakat di level bawah juga dihantam maraknya pornografi dan pornoaksi.
Selain itu, lanjut Sahal, persoalan bangsa menjadi semakin rumit saat muncul sekelompok kecil masyarakat yang terus mengobarkan permusuhan dan menciptakan keresahan. Lewat ajaran radikal dan fundamentalisme, mereka bahkan tak segan mengafirkan muslim lain dengan sangat mudah. ”Dan, negara tampak kedodoran mengatasinya,” katanya.
Selain persoalan Indonesia secara khusus, Sahal juga sempat mengungkapkan keprihatinannya terhadap kondisi negara-negara Islam di kawasan Arab. Terutama mereka yang sedang atau telah mengalami pergolakan. ”Ini ujian bagi demokrasi,” tuturnya. Sebab, menurut dia, hampir sama dengan kelompok radikal dan fundamentalis di Indonesia, pergolakan tersebut juga terjadi dengan memanfaatkan era keterbukaan dan demokrasi.
Atas berbagai persoalan yang karut-marut itu, Sahal yakin, ajaran tasawuf bisa menjadi solusi. Sebab, prinsip keagamaannya tidak hanya teguh pada nilai eksoterik yang bersifat formal. Tapi, juga menyentuh aspek esoterik yang lebih substantif. ”Para sufi selalu mengajarkan akhlak mulia dan menampilkan Islam yang lurus, rahmatan lil alamin,” imbuhnya.
Sementara itu, puncak rangkaian peringatan Harlah Ke-85 NU ditutup dengan rapat akbar di Gelora Bung Karno, Senayan, Jakarta. Kegiatan yang diperkirakan menghadirkan ratusan ribu warga NU dari berbagai daerah tersebut, rencananya, juga dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.
Dalam rangkaian Harlah ini pula, sebelumnya, di Surabaya diadakan seminar yang sama tingkat Nasional, menghadirkan beberapa pakar Tasawuf nasional, seperti Prof Nur Syam, Rektor IAIN SUnan Ampel Surabaya, Dr. KH Mustofa Mas’ud dan Dr. KH.M Luqman Hakim, Pimpinan Redaksi Cahaya Sufi.




