Surat-Surat Sufi

Ibn ‘Abbad kembali ke Sale pada tanggal yang tidak jelas, dan tinggal di sana sampai sekitar 1375. Kebanyakan, jika tidak semuanya, korespondensinya dilakukan sejak sebelum tahun itu. Sekitar 1375 dia diangkat menjadi Imam dan Khatib masjid Qayrawiyin di Fez, institusi agama dan ilmu tertua dan paling bergengsi di Afrika Utara. Sultan Abu Al-’Abbas Ahmad (pemerintahan pertama 1373-1384) rupanya melakukan pengangkatan itu berdasarkan reputasi Ibn ‘Abbad akan integritas pribadinya, dan kemasyhuran Tanbih-nya. Prospek pengambil-alihan pos khatib ketika khutbah telah turun derajatnya menjadi sedikit Iebih dari sekadar menyampaikan sesuatu secara hafalan tanpa pemikiran mendalam bagi banyak khatib, tentunya menimbulkan tantangan. Dengan merenungkan keadaan seni dalam salah satu Surat, terlihat dia mencatat lima jenis khatib yang menurutnya tidak dapat melaksanakan tugas dengan baik. Sebagian hanya mengulang-ulang khutbah yang sama setiap Jumat; sebagian mengulangnya dengan sedikit variasi; sebagian berkhutbah tanpa mengaitkan pesan-pesan mereka dengan kebutuhan-kebutuhan yang berubah; sebagian memperhatikan kebutuhan-kebutuhan itu, namun tidak dapat mengaitkan pesan mereka secara efektif dengan kebutuhan-kebutuhan itu; dan sebagian juga kurang taat, dan semata-mata aktor-aktor yang berlagak. Khatib sejati adalah khatib yang memberikan nasihat dan mengajar orang selaras dengan kebutuhan-kebutuhan sehari-hari mereka yang mendesak, dan mampu memadukan gaya penyampaiannya dengan tema yang telah dipilihnya. Ibn ‘Abbad lebih menyukai gaya didaktis ketimbang gaya nasihat atau peringatan, karena orang itu memerlukan peringatan, dia selalu menempatkan dirinya sebagai terikat kepada kewajiban yang diwajibkan pada audience nya.

Harus dibaca juga..

Masih ada seratus dua puluh empat khutbah dalam sebuah manuskrip, yang telah dianalisis oleh Paul Nwiya. KhutbahJumat lazimnya terdiri atas dua bagian: Bagian pertama mengembangkan tema yang sesuai dengan keadaan, dan bagian kedua membahas topik baku, yaitu shalawat atas Nabi, para Shahabatnya, para istrinya, para penerusnya, dan umat Islam, dengan menyebutkan nama khalifah atau sultan umat Islam. Hanya satu di antara khutbah-khutbah Ibn ‘Abbad yang masih ada yang mengandung bagian kedua itu. Tapi bagian pembuka dari tiap-tiap bagian itu dimulai dengan doksologi (zikir), doa pendek untuk Nabi, dan Syahadat, yang semuanya diikuti oleh jamaah. Khutbah itu disampaikan sekitar dua puluh menit.

Frasa-frasa yang memukau, ritmis, pendek dan tepat, dimaksudkan untuk menandingi prosa-bersajak kitab suci. Karena doktrin dasar Islam itu sederhana, maka pembicara perlu mengandalkan keahlian berbahasa Arab, tanpa sekaligus membawakan sekadar suara yang indah namun tidak mengandung pengaruh personal dan tantangan moral. Ibn ‘Abbad suka menggugah-langsung hati nurani jamaahnya, dengan didukung oleh Al-Quran dan hadis, dan berupaya menanik perhatian melalui intonasi yang tepat. Dia mengaitkan tematemanya dengan keadaan: Selama bulan Ramadhan, dia berbicara tentang puasa, dan tentang perlunya terlebih dahulu menyucikan hati agar tindakan fisik ini memiliki makna spiritual. Selama bulan haji, yaitu bulan Dzulhijjah, bulan terakhir dalam tahun Hijriah, dia menyerukan agar memeriksa keadaan hati nurani selama tahun-tahun yang lewat. Bila datang tahun baru, di bulan Muharram, dia menganjurkan agar bersedekah. Ibn ‘Abbad tidak memandang khutbah umum itu sebagai forum yang tepat untuk menyampaikan masalah-masalah tasawuf. Dia membahas masalah tasawuf dalam surat-surat pribadi yang berisi bimbingan spiritual.

Selama seperempat terakhir abad keempat belas, dinasti Mariniyah mengalami kemunduran. Kota besar Fez mengalami kesulitan politik besar dan lebih dan sekadar sedikit keresahan spiritual. Gambaran sosok Ibn ‘Abbad yang tinggal di rumah kecil di dekat masjid, yang menarik sederetan anak kecil berjalan di belakangnya ketika Ibn ‘Abbad berjalan menuju ke masjid, dan yang memperhatikan kebutuhan orang sedapat mungkin, merupakan gambaran tentang keyakinan dan harapan pada saat terjadi ketidakstabilan dan ketidakpastian. Menjelang akhir hayatnya, dia menulis kepada seorang sahabat Abu Al-’Abbas Al-Marrakusyi, bahwa dia merasa jenuh dengan Fez dan sudah lelah dengan kewajiban-kewajibannya, dan pasrah dengan kesehatannya yang memburuk serta sedang mempersiapkan diri menyongsong datangnya kematian. Nwiya mengatakan bahwa Ibn ‘Abbad tetap membujang sampai akhir hayatnya. Sebagian sumber mengatakan dia tidak pernah menikah. Kalau memang dia menikah pada akhir hayatnya, tentu dia melakukannya karena keinginan mengikuti contoh Nabi, bukannya karena dirinya lebih menyukainya. Dia tidak pernah pergi haji ke Makkah.

Pada l7 Juni 1390, Ibn ‘Abbad dimakamkan di hadapan sultan dan banyak penduduk Fez. Meskipun lokasi-lokasi makamnya tidak lagi diketahui, toh konon tetap menjadi tujuan penziarah selama bertahun-tahun. Sampai 1936, Serikat Sekerja Pembuat Sepatu mengadakan perayaan untuknya setiap tahun, sebab dia telah menjadi wali pelindung mereka.

Surat-surat Ibn ‘Abbad

Ibn ‘Abbad bukanlah sufi ternama pertama yang menggunakan surat-menyurat sebagai salah satu cara utamanya untuk berkomunikasi. Abu Nashr Al-Sarraj (meninggal 988) menyimpan bagian-bagian dari surat-surat yang ditulis oleh sejumlah sufi kenamaan kepada orang-orang yang amat ahli dijalan sufi. Karena sebagian besar surat-surat itu ditulis untuk sufi-sufi ulung, maka isinya cenderung agak esoteris dan terlalu sensitif bagi masyarakat awam. Sebagian surat itu ditulis untuk kelompok-kelompok sufi. A.H. Abdel-Kader telah menghimpun dan menerjemahkan beberapa surat Junayd, yang juga ditulis untuk sufi-sufi yang sudah mapan dalam kehidupan spiritual.

Dua sufi sangat terkenal lainnya menulis surat-surat yang berupa kategori kedua, surat-menyurat dengan pejabat-pejabat pemerintah. Dalam sebuah himpunan surat-surat Al-Ghazali, terlihat Al-Ghazali “menegur penguasa-penguasa Seljuq dan menteri-menteri mereka agar jangan membiarkan korupsi, nepotisme, pilih-kasih, kezaliman dan penyuapan terjadi, yang merupakan penyakit utama masyarakat pada masa itu.” Sufi Persia, Jalal Al-Din Rumi (meninggal 1273) membina hubungan surat-menyurat dengan beberapa penguasa lokal di ibukota Seljuq Turki di Konya. Sekitar seratus lima puluh surat Rumi masih ada, meskipun belum diterjemahkan ke bahasa Inggris.

Jenis-ketiga korespondensi sufi adalah antara guru dan murid. Paul Jackson, S.J., baru-baru ini telah menerjemahkan Seratus Surat sufi India, Syaraf Al-Din Maniri. Maniri menulis surat berbahasa Persia selama akhir abad ketigabelas dan awal abad keempatbelas. Bagian-bagian dari surat-surat Ibn Al-’Alif dan Al-Syadzili untuk murid-murid mereka masih ada. Seperti surat-surat Ibn ‘Abbad, surat-surat Ibn Al-’Arif dan Al-Syadzili itu juga bernada dan berkandungan non-esoteris dan pada umumnya praktis.

Yang khas dalam korespondensi Ibn ‘Abbad adalah, bahwa di sini kita mendapatkan dua koleksi-lengkap surat-surat yang masih utuh yang dimaksudkan untuk menerangkan pokok-pokok spiritualitas sufi kepada individu-individu yang sedang berjuang mengatasi masalah-masalah pribadi. Dua koleksi ini mencakup lima puluh empat surat: tiga puluh delapan dalam “Koleksi Besar” (RK), dan enam belas dalam “Koleksi Kecil” (RS), yang diterjemahkan di sini. Semuanya disusun antara sekitar 1365 dan 1375 dari Sale untuk sahabat-sahabat di Fez. Nwiya juga telah menerbitkan beberapa surat yang ditulis setelah 1375, sebagai lampiran pada kedua edisi Koleksi Kecilnya. Dia mengatakan bahwa surat-surat itu merupakan sumber istimewa sedemikian, sehingga “memberikan pengetahuan tentang Ibn ‘Abbad, yang lebih sempurna dibanding pengetahuan kita tentang sufI lainnya.”

Tiga puluh delapan surat dalam Koleksi Besar barangkali ditulis selama dua atau dua setengah tahun, dan 1372 sampai 1374. Tiga puluh satu yang pertama ditujukan kepada Yahya Al-Sarraj. Kepada Yahya ini pula Ibn ‘Abbad menulis Surat 7 hingga 15 dalam terjemahan (buku tersaji di hadapan pembaca) ini. Terlihat jelas dan RK bahwa Yahya dan Ibn ‘Abbad memperkuat hubungan mereka, terutama selama Ibn ‘Abbad tinggal di Fez dari 1370 sampai 1372, sebab dalam sebuah surat dalam RS, Ibn ‘Abbad menunjukkan bahwa dia merasa tidak cukup kenal dengan korespondennya untuk membahas masalah-masalah tertentu yang sangat pribadi sifatnya. Surat-surat berikutnya dalam RK memberikan gambaran sangat berbeda tentang hubungan mereka, meskipun memberikan lebih banyak informasi tentang Yahya ketimbang Ibn ‘Abbad.

Dari surat-surat berikutnya itu, kita dapat mengetahui upaya Yahya untuk mencari nafkah, dan krisis hati nuraninya berkaitan dengan apakah dia dapat menekuni ilmu eksoteris, seperti ilmu hadis, dan tasawuf sekaligus. Di sana Ibn ‘Abbad menganjurkan agar Yahya mengesampingkan studi-studi hadis, karena dekadensi umum dan banyak orang yang menekum studi-studi seperti itu sudah sedemikian, sehingga Yahya hampir tidak dapat berharap akan memperoleh kebaikan dari studi-studi itu. Yahya cenderung ke solusi-solusi yang ekstrem, sehingga dia bahkan menjual kitab koleksi hadis Malik miiknya, Al-Muwaththa’. Dia kemudian menyesal telah menjualnya. Akhirnya, Yahya tidak dapat menghindar dari pesona studi-studi hadis. Dua tahun setelah meninggalnya Ibn ‘Abbad, dia menyusun sebuah ikhtisar tentang hadis-hadis yang telah disampaikan oleh Ibn ‘Abbad kepadanya.

RK Ibn ‘Abbad juga mengandung informasi tentang macam-macam masalah yang menjadi perhatian para ahli di dan di sekitar istana sultan. Tak diragukan lagi Ibn ‘Abbad secara pribadi tidak memakai spekulasi seperti itu, sekalipun demikian dia mencoba menanggapi masalah-masalah yang para korespondennya memintanya untuk memberikan penilaian bagi mereka. Paul Nwiya telah mengikhtisarkan beberapa masalah utama yang dibahas di sana.

Sebagian orang berdebat tentang apakah jiwa akan mengalami derita-mendalam ketika meninggalkan dunia ini dan ketika melewati alam barzakh, wilayah yang memisahkan dunia ini dari dunia ruh suci. Ibn ‘Abbad mengakui bahwa dia tidak memiiki jawaban yang jelas, namun dia menawarkan analogi dengan pendapat yang lazim dianut bahwa jiwa meninggalkan raga selama tidur. Karena jiwa tidak mengalami derita pada waktu tidur — penderitaan itu merupakan sesuatu yang berhubungan dengan raga — maka begitu pula keadaannya ketika jiwa meninggalkan raga dan melewati alam barzakh.

Sebagian lagi mempertanyakan apakah wali dapat bertemu atau meihat malaikat. Ibn ‘Abbad mengatakan bahwa ini mungkin, karena sebagian percaya bahwa melihat atau bertemu Allah pun mungkin saja terjadi. Selanjutnya, beberapa Sahabat Nabi melihat malaikat, meskipun mereka tidak melihatnya “dalam bentuknya yang asli”; dan karena semua Muslim juga mendapatkan barakah Nabi, seperti yang didapat para Sahabat itu, maka secara teori tentunya hak istimewa itu juga dimiiki semua Muslim. Dia menambahkan bahwa Abu Al-Hasan Al-Syadzili melihat malaikat dalam bentuk seekor burung putih besar, namun tidak ada riwayat yang mengatakan bahwa ada wali yang pernah melihat malaikat dalam bentuk aslinya, sebab hanya para nabilah yang dapat melihat malaikat dalam bentuk aslinya.

Soal lain berkaitan dengan masyarakat Yahudi di Fez. Penguasa Almuhadiyah telah mencabut hak-memberi-suara dan orang Yahudi, namun penguasa Mariniyah mengembalikan banyak dari hak-hak mereka sebelumnya. Masyarakat Yahudi merupakan satu-satunya kaum non-Muslim di Fez, dan mereka memiliki kemerdekaan beragama, selama mereka mempraktikkan agama mereka secara pribadi. Sangatiah mungkin bahwa pertanyaan selanjutnya yang diajukan oleh kaum Yahudi yang telah masuk Islam: Apakah Muhammad itu lebih unggul daripada Musa sebagai nabi?Jawaban Ibn ‘Abbad adalah bahwa mengklaim Musa itu lebih unggul danipada Muhammad, itu berarti melakukan fitnah. Muhammad telah menyatakan dengan jelas bahwa dirinya itu lebih unggul, namun beliau tidak melakukannya semata-mata karena keinginan untuk memajukan jalan pribadinya. Menurut Ibn ‘Abbad, seandai nya Nabi Muhammad saw. demi mencari nama lalu membujuk kaum Yahudi di Madinah, tentu beliau akan mengatakan bahwa Musa adaiah pemimpin para Nabi. Bahwa beliau menyatakan dirinya itu iebih unggul, sekalipun mendapatkan tentangan keras, membuktikan kebenaran klaimnya. Nabi-nabi sebelumnya telah meramaikan bahwa seorang nabi yang iebih besar danpada mereka sendiri akan datang. Seorang Muslim yang mengatakan bahwa Musa lebih besar, berarti sama saja dengan mengakui bahwa Muhammad tidak memiliki misi untuk membawa orang non-Muslim ke dalam Islam, dan mengakui keunggulan Judaisme atas Islam. Akhirnya, Al-Quran menyatakan bahwa tidak semua nabi itu sama derajatnya; tapi karena ketidaksamaan derajat itu tidak berarti ketidaksempurnaan pada diri nabi, maka tidak ada gunanya terialu memuji Muhammad sedemikian, sampai-sampai merusak citra nabi-nabi lainnya.

Alim-alim Fez ini mengajukan banyak pertanyaan lain tentang status spiritual dan moral pribadi. Misalnya, mereka bertanya apakah orang miskin yang banyak menderita di dunia ini lebih unggul dibanding orang kaya yang bersikap masa bodoh di dunia ini. Mereka berdebat tentang apakah orang yang menyingkirkan segenap hartanya dan memberikannya kepada orang lain itu lebih baik dibanding orang yang memberikan hanya kelebihan dan hartanya. Dalam semua kasus seperti itu, prinsip pokok Ibn ‘Abbad kelihatannya begini:

Penampilan lahiriah kondisi seseorang itu tidak penting; yang menjadi persoalan adalah apakah orang itu benar-benar setia kepada kondisinya, apa pun yang akan terjadi.

Tujuh yang terakhir dalam RK ditujukan kepada orang yang tidak jeias identitasnya. Dua di antaranya penting, karena keiihatannya ditujukan kepada seseorang yang telah meninggalkan praktik agama. Dalam surat pertama di antara dua surat itu, nada penulisnya dapat dikatakan cukup lembut pada yang kedua, dia jauh lebih keras.

Nwiya menggambarkan enam belas surat dalam RS itu sebagai “risalah-risalah kecil tentang spiritualitas… dan bukan semata-mata surat-surat bersahabat yang kiasan-kisannya tak dapat dipahami karena hilangnya surat-surat yang mereka jawab, seperti yang terjadi pada Koleksi Besar.” Ibn ‘Abbad menggunakan superscription (kata-kata yang dituiis di atas atau di luar sesuatu, seperti alamat di amplop surat misalnya – penexj.) ringkas, dan ini menekankan bahwa surat-suratnya itu berkualitas seperti risalah. Enam surat pertama ditulis untuk Muhammad Ibn Adibah, seorang faqih yang rupanya tinggal di Fez setelah beremfgrasi dan Andalusia atau Tlemcen. Ibrahim Al-Syathibi (meninggal 1388), seorang faqih dan Granada yang terkenal dengan karyanya di bidang ushul (prinsip-prinsip hukum), menerima Surat 16, yang ditulis sekitar 1375 di Fez. Lima belas surat pertama dalam RS ditulis ketika Ibn ‘Abbad pertama tinggal di Sale, mungkin sebelum 1368. Telah saya sertakan dalam kepala tiap-tiap surat, nama si penerima surat, berdasarkan keterangan Nwiyajj.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.