Puisi Martin Lings
Di dunia seni, karya-karya puisi Martin Lings sangat dikagumi. Ia menghasilkan karya berupa sajak sebagai bentuk seni dan estetika yang memancar dari sumber wahyu dan sejarah kreativitas Islam, adalah seorang sarjana Eropa yang sangat berjasa memperkenalkan khazanah kerohanian Islam. Sastrawan Abdul Hadi W.M. Ia mengaku telah membaca Tasawuf Lings, juga dikenal sebagai pelopor pendekatan filsafat perenial (tasawuf) dalam bidang studi agama.
Lings, belajar sastra Arab dan Inggris di Oxford University dan London University. Selama 12 tahun mengajar di Cairo University terutama dalam kajian Shakespeare. Ia juga pernah menjadi konsultan ”The World of Islam Festival Trust” dan menjadi anggota ”Art Council Committee” dalam pameran ”The Art of Islam” karya Martin Lings sejak 1977, antara lain buku What is Sufism dan The Element and Other Poems. ”Saya terkesan setelah berkali-kali membaca sajaknya. Mungkin ia tidak sebesar W.B. Yeats, John Keats, T.S. Eliot, T.S. Hulme, Stephen Spender atau penyair Inggris modern lainnya, tapi sajaknya mengesankan, karena ketulusan dan keotentikan pengalamannya,” ujar Abdul Hadi.
Menurutnya Martin berhasil melukiskan betapa kehidupan modern begitu gersang dari sentuhan spiritualitas.
Sebagai anak manusia yang dibesarkan di jantung peradaban modern Inggris juga bertahun-tahun di Mesir, dia sadar kalau dia berada dalam ketegangan corak peradaban yang berbeda. Bisa jadi, ungkapan sajak Martub tentang kerinduan kepada Tuhan, dilihat sebagai sesuatu yang ketinggalan zaman. ”Jika Tuhan muncul dalam sajak mutakhir, Ia adalah Tuhan yang diragukan keberadaanya dan absurd,” ujar Abdul Hadi.Abdul Hadi menambahkan bahwa sajak karya Lings berjudul Taman–ditulis saat kembali ke Inggris tahun 1952 — barisnya diilhami oleh doa-doa orang Islam. Lings tak menyembunyikan perasaannya, betapa spiritualitas dan budaya Timur telah memberi makna yang besar bagi hidupnya.
Oleh: Nurul Huda



