Kemudian orang itu duduk kembali.
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan: Makna firman Allah Swt., “Dzat Yang melihatmu tatkala engkau berdiri.” (Q.s. asy-Syu’ara’: 218). Memberi isyarat bahwa, berdiri dan berebutnya laki-laki tersebut dengan orang lain adalah dengan cara memaksakan diri. Ini bisa diketahui bahwa ia berdiri bukan karena Allah, tapi karena selain Allah. Andaikan laki-laki tersebut jujur dan benar-benar semata karena Allah, maka ia tidak akan duduk kembali ketika Dzun Nun mengucapkan firman Allah tersebut. Ini terjadi karena para guru Sufi, berkat ma’rifat yang mereka miliki selalu mengawasi kondisi spiritual orang-orang yang tingkatan spiritualnya lebih rendah. Mereka sama sekali tidak akan bersikap lunak terhadap orang-orang yang tingkat spiritualnya lebih rendah, bila mereka telah melampaui batas-batas kewenangannya, dan mengaku kondisi spiritual orang lain yang bukan tingkatannya.
Dari Abu al-Husain an-Nun —rahimahullah— bahwa ia pernah menghadiri sebuah majelis sama’, kemudian ia mendengar bait syair berikut ini:
Saya tetap berdiam dalam ruang cinta-Mu, tatkala orang yang punya hati akal bingung kapan lahir cinta-Mu.
Kemudian ia berdiri dan berusaha wajd (tawajud) dan pergi tanpa tujuan sebagaimana orang yang linglung, kemudian ia terjatuh di semak-semak bambu yang habis dipotong dimana sisa-sisa potongannya tajam seperti pedang. Ia berjalan di atas potongan-potongan bambu itu yang kemudian kakinya mengalirkan darah. Kemudian ia dibawa pulang, sementara darah masih mengucur deras dari kedua kakinya sehingga bengkak. Ia hanya bisa bertahan hidup beberapa hari dan akhirnya wafat.
Dikisahkan dari Abu Said al-Kharraz —rahimahullah— yang mengatakan: Saya pernah melihat Ali bin aI-Muwaffaq, seorang guru Sufi yang mulia, menghadiri majelis sama’ kemudian ia mendengar sesuatu lalu berkata, “Bangkitkan aku sehingga bisa berdiri.” Mereka pun membangkitkannya dan kemudian berusaha wajd. Ketika sedang wajd ia berkata, “Saya adalah seorang syekh penari.”
Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan: Makna apa yang diucapkannya —dan hanya Allah Yang Mahatahu— bahwa syekh tersebut ingin menyerahkan kondisi spiritualnya kepada anggota majelis dan sahabat-sahabatnya sehingga ia mengatakan, “Saya adalah seorang syekh penari.” Merupakan etika yang sangat baik ia mau berbicara supaya tidak tinggal diam atau tidak meninggalkan majelis sama’ dan itu adalah sebagian dari kondisi spiritual para murid dan pemula.
Sebagian teman pernah bercerita, dimana cerita ini berasal dari Abu al-Husain ad-Darraj yang menceritakan: Aku berangkat dari Baghdad ingin mengunjungi Yusuf bin al-Husain dan memberi salam kepadanya. Setelah sampai di kota Rayyi aku menanyakan rumahnya. Namun setiap orang yang kutanya mengatakan, “Apa yang ingin Anda lakukan terhadap orang zindiq itu?” Sehingga dadaku sesak mendengar jawaban itu, sampai aku bermaksud kembali lagi ke Baghdad. Malam itu aku mencoba menginap di salah satu masjid. Pagi harinya, dalam hatiku mengatakan, “Aku telah melakukan perjalanan sejauh ini setidaknya harus sempat melihat orang yang kumaksud.” Maka aku masih menanyakan rumahnya kepada setiap orang yang kutemui dan akhirnya aku bisa sampai di masjidnya. Kemudian aku masuk ke dalam masjid, sementara ia sedang duduk di mihrab dengan membaca mushaf al-Qur’an yang ada di pangkuannya, dan di depannya ada seorang laki-laki menemaninya. Ia seorang syekh yang cukup gagah, tampan dan berjenggot. Kemudian aku mendekat dan mengucapkan salam lalu duduk di depannya. Ia pun menjawab salamku dan menyambut kedatanganku sembari bertanya, “Dari mana Anda?” “Dari Baghdad,” jawabku. “Apa yang menyebabkan Anda datang kemari?” tanyanya lebih lanjut. “Aku bermaksud datang kepada guru (syekh) untuk memberi salam,” jawabku. Lebih lanjut ia bertanya, “Bagaimana andaikan di sebagian negeri ini ada orang menawari Anda dengan mengatakan, ‘Silakan Anda tinggal di rumah kami sehingga kami akan membelikan rumah dan budak perempuan untuk Anda.’ Apakah tawaran itu akan menghalangi Anda untuk datang kemari?” “Allah tidak sampai mengujiku seperti itu. Dan seandainya Allah mengujiku demikian, aku tidak tahu apa yang bakal aku lakukan,” jawabku. Akhirnya ia mengatakan, “Adakah sesuatu yang patut Anda sampaikan?” “Ya, ada,” jawabku. “Silakan!” katanya. Kemudian aku mulai bersyair:
Aku melihat engkau telah membangun ketekunan untuk memutusku bila engkau orang yang punya keteguhan, tentu akan menghancurkan apa yang engkau bangun
Hubunganku dengan kalian sebatas kata seandainya
ingatlah, seandainya kita menyadari maka kata: seandainya tiada guna
Lalu ia menutup mushaf, dan ia terus menangis sampai air matanya membasahi jenggot dan pakaiannya, sehingga aku merasa iba memandangnya. Kemudian ia berkata, “Wahai anakku, apakah engkau menyalahkan dan mencela penduduk Rayyi yang telah mengatakan, bahwa Yusuf zindiq? Sejak usai shalat Shubuh aku membaca al-Qur’an namun tidak mampu mengucurkan air mata setetes pun, sementara diriku serasa telah terjadi Kiamat dengan mendengarkan dua bait syair ini.”
Sementara itu, asy-Syibli —rahimahullah— akan berusaha wajd setelah mendengar bait syair ini:
Persahabatan kalian adalah menjauh
dan cinta kalian adalah kebencian
pertemuan kalian adalah perpisahan
dan kedamaian kalian adalah peperangan
Pada suatu malam ad-Duqqi pernah bangun malam sampai sepertiga malam, ia berjalan meraba-raba tanpa petunjuk sampai akhirnya ia tersungkur di atas kepalanya dan masih sempat bangun lagi, sementara orang-orang menangis dan mereka yang pandai bersyair melantunkan syair berikut:
Demi Allah, tenangkan hati orang yang sedang bersedih
sebab tiada ganti orang yang dicintainya
Sebenarnya masih banyak kejadian serupa dimana hal itu tidak asing bagi orang yang berakal bila mau merenungkan tujuan mereka, macam-macam “minuman” dan tempat ketika sedang sana . Bila ia mau merenungkan sedikit yang saya kemukakan di sini dan mau memahami apa yang saya maksud, Insya Allah akan paham. Dan semoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita.




