Raja yang Ingin Membuat Emas

Harus dibaca juga..

Hari berikutnya, guru itu berkata, “Ambillah dua lembar daun ini, remaslah keduanya bersama-sama, kemudian tiuplah, dan sebarkan di atas batu-batuan itu!” Batu-batu ini berubah menjadi perak, dan raja membuat sebuah gundukan lainnya.

Pada hari berikutnya, guru memberitahu raja untuk memetik dan meremas campuran dua helai daun lainnya. Kali ini, batu-batu itu berubah menjadi logam campuran emas. Pada hari berikutnya, raja diminta untuk mengumpulkan campuran dua helai daun lainnya. Raja meremas daun-daun tadi, meniupnya, dan batu-batu tadi berubah menjadi emas batang murni. Raja menumpuk batangan-batangan emas murni tadi. Dia sekarang mempunyai enam tumpukan besar.

Kemudian, pada hari terakhir, guru memerintahkan raja untuk memetik sembilan macam helai daun yang berbeda.

Guru berkata, “Sesudah meremas sembilan helai daun ini, tiuplah ke sembilan bagian gunung batu yang tersisa.” Setelah raja melakukannya, sisa gunung tadi berubah menjadi sembilan gundukan besar batu permata yang berkilauan. Ada zamrud, berlian, batu merah delima, lazuli jenis lapis, batu kayu manis (cinnamon), mutiara, safir, coral, dan topaz (ratna-cempaka).

“Wahai Raja, engkau boleh pergi sekarang, jika menginginkannya, tapi terlebih dahulu, lihatlah seksama harta yang ada di depan matamu, dan kemudian beritahukan padaku apa keputusan akhirmu!”

Raja memperhatikan tumpukan-tumpukan permata dan emas. Dia mengambil beberapa genggam permata, melemparkannya ke udara, dan membiarkannya mengguyur dirinya.

Kemudian, dia berguling-guling di atas benda-benda yang gemerlapan itu. Tapi sesaat kemudian, dia berpikir, “Apa yang sedang aku lakukan? Ini bukan yang aku butuhkan.” Dan raja kembali kepada gurunya.

“Engkau telah menyelesaikan tugas yang engkau maksudkan,” kata guru kepada raja. “Ini semua milikmu. Engkau boleh membawanya.”

“Duhai Swami!” jawab raja, “Aku telah bersamamu selama dua belas tahun dan pada akhirnya aku menyadari bahwa apa yang engkau katakan kepadaku benar adanya. Sekarang aku tahu bahwa aku tidak membutuhkan kekayaan ini. Kekayaan adalah sesuatu yang datang dan pergi. Engkau mempunyai kemampuan untuk membuat gunung batu menjadi gunung emas. Sungguhpun demikian, engkau telah memilih untuk menjauhi kekayaan duniawi ini dan hidup di sebuah gua yang sederhana.

Kekayaan yang engkau miliki sungguh berbeda. Engkau telah memilih kekayaan dari kerajaan Allah, yaitu harta keagungan Allah yang tidak akan pernah berubah atau menghilang. Tidak satu pun yang bisa dibandingkan dengan kekayaan kearifan, cinta, keadilan, persamaan hak, kedamaian, kasih sayang. Tidak ada yang menyamainya.”

“Aku telah melihat segala sesuatu yang ingin dilihat pikiranku, segala sesuatu yang dicari keinginanku. Emas bukanlah kekayaan sejati, emas hanyalah tanah. Aku memang pernah menginginkan dan menikmati kekayaan duniawi, tapi sekarang tidak lagi. Meskipun aku seorang raja, namun aku tidak memiliki kedamaian yang engkau miliki.” Dengan melihat emas dan batu permata murni yang sangat mulia menumpuk di sekelilingnya, dia berkata, “Aku tidak akan memperoleh keuntungan dari ini semua. Seseorang mungkin mencoba membunuhku untuk mendapatkan emas-emas ini. Ini merupakan penyakit yang bisa merusakku dan juga merusak harta keagungan.”

“Swami, terimalah aku sebagai muridmu. Aku membutuhkan harta yang tidak bisa berkurang dan tidak bisa rusak. Berikanlah itu padaku. Aku ingin mempelajari bagaimana memperoleh harta keagungan Allah darimu.”

“Sekarang engkau benar-benar menjadi muridku,” jawab

guru tersebut. “Engkau adalah ‘anak’ Allah dan sekaligus anak kesayanganku. Kemarilah!”

Demikianlah, laki-laki yang dulunya menjadi raja, disembuhkan dari semua penyakitnya dan tubuhnya berubah menjadi bentuk tubuh yang indah. Guru tersebut mengajarkan kepadanya tentang keagungan dan kearifan Allah, dan menjadi sinar penerang bagi kerajaan Allah. Sesudah menerima harta dan keagungan yang tidak pernah habis, dia hidup sebagai anak kerajaan Allah, mampu melayani semua makhluk dan menganggap mereka sebagai saudaranya sendiri. Dia melayani jiwa, melayani Allah dan gurunya, dan dia juga melayani dunia dan semua umat manusia. Dia tidak pernah lagi meminta kerajaannya, karena dia tidak lagi menginginkannya.

***

Cucu-cucuku, baru sedikit yang benar-benar diketahui raja setelah dia mengikuti gurunya masuk ke dalam hutan, musuh-musuh menyerang kerajaannya dan membunuh semua menterinya. Raja-raja dari jauh dan dekat datang untuk memperebutkan atap dan pilar-pilar yang terbuat dari emas dalam ashram tadi. Mereka menjarah apa saja yang bisa mereka bawa dan membawanya ke kerajaannya masing-masing.

Gedung porak-poranda yang engkau lihat di depanmu ini, cucu-cucuku, adalah ashram yang dibangun raja itu untuk manusia bijak yang mengembara. Sekarang ashram tersebut telah hancur dan rata dengan tanah bersama dengan siapa saja yang tewas dalam pertempuran untuk merebut emas dan permata duniawi tersebut. Dan lihatlah di sebelah sana istana raja! Istana itu juga runtuh, tidak ada yang tersisa selain debu dan asap, tempat menyenangkan untuk burung-burung dan kelelawar.

Renungkanlah cerita ini cucu-cucuku, saudara-saudaraku, anak-anakku. Seperti halnya raja yang ingin membuat emas, orang-orang berpendapat mereka perlu mencari kekayaan duniawi. Sungguh lebih baik jika mereka ingin mencari harta keagungan dan ilmu ketuhanan untuk meraih kekayaan cinta dan sifat Allah. Siapa saja yang memahami cinta Allah dan menunjukkannya kepada orang lain, yang menganggap kehidupan setiap orang sebagai kehidupan mereka sendiri, akan mengetahui kebebasan sejati. Siapa saja yang melayani orang lain dengan kasih sayang Allah, akan menjadi tenang dan damai.

Mereka akan menerima kekayaan abadi Allah di dunia jiwa, di dunia ini dan di alam baqa’. Tapi siapa saja yang tidak mencari harta abadi Allah akan hancur, sebagaimana istana yang hancur ini.

Berpikirlah tentang hal ini dan berusahalah untuk mencari kekayaan Allah. Usaha yang kau lakukan dengan mengumpulkan kekayaan duniawi, sangatlah sia-sia. Benda-benda duniawi tidak akan berubah menjadi emas. Benda-benda itu adalah hiasan untuk neraka. Pasrahlah kepada Allah dan persiapkan hatimu untuk menerima apa saja yang Dia berikan dengan kesabaran dan pujian, baik di dunia ini dan dunia yang akan datang. Berpuas dirilah untuk percaya bahwa apa saja yang diberikan Allah kepadamu sudah cukup. Untuk meraih keyakinan ini, engkau membutuhkan kearifan, pengetahuan Ilahiah (‘ilm) dan keimanan, kepastian dan ketetapan hati yang dikenal sebagai iman.

Kau tidak perlu menderita cucu-cucuku. Penciptamu akan memberimu makanan yang diperlukan pada saat yang tepat, tapi kau harus melakukan usahamu. Lihatlah binatang-binatang tersebut. Lihatlah bagaimana ayam mendapatkan makanannya di tanah dan burung-burung menemukan makanannya di pohon-pohon dan rerumputan. Allah telah memberi semuanya untuk mereka, tetapi mereka harus berusaha untuk menemukan apa yang telah Dia berikan kepada mereka. Dan melalui usahamu sendiri kau juga harus menemukan makanan yang diizinkan Allah yang telah Dia ciptakan untukmu.

Anak-anakku, ketika kau mencari Allah, cobalah menjadi damai dan capailah keadaan di mana engkau bisa berbagi kedamaian dengan orang lain. Selalulah menganggap orang lain seperti dirimu sendiri dan berbagi apa yang engkau terima kepada tetangga-tetanggamu dan siapa saja yang lapar. Persiapkan hatimu untuk melakukan tugas ini. Jadikanlah cintamu kepada

Allah jelas dan ketika kearifan dan kualitas-Nya masuk dalam dirimu, kau bisa mengubah dirimu seperti yang dilakukan raja tadi. Jika engkau memperkuat imanmu, engkau bisa menerima harta keagungan Allah dan berkuasa di tiga dunia. Itu sudah pasti.

Cinta, perbuatan, tindakan dan sifat-sifat yang baik memerintah kerajaan Allah. Allah memiliki seratus sifat yang kuat yang adalah tugas-Nya. Dari seratus sifat ini, Dia menjaga satu tugas untuk-Nya menciptakan, melindungi dan merawat ciptaan-Nya. Tapi sembilan puluh sembilan sifat lainnya harus engkau sebarluaskan. Oleh karena itu, laksanakan tugas-tugasmu dan cobalah untuk menemukan kearifan.

Engkau tidak pernah bisa menemukan kedamaian abadi dengan mengumpulkan emas dan permata. Emas dan logam mulia tidaklah permanen. Sesungguhnya, isilah hatimu dengan sifat Allah, dengan kedamaian dan ketenangan. Kedamaian, ketenangan dan sifat Allah adalah kekayaan terbesar, harta keagungan, kearifan dan keadilan.

Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Semoga kau berpikir tentang hal ini. Allah adalah segala yang kita butuhkan untuk kehidupan kita. Perkuat imanmu. Bersabarlah dan ridha.

Bertakwalah kepada Allah dan pujilah Dia. Berdoalah kepada Allah, berpasrahlah kepada-Nya, dan tunjukkan hormatmu kepada-Nya. Buatlah hal ini tegas dan jelas dalam kehidupanmu!

Itu akan sangat baik. Ketika kau meraih keadaan ini, sungguh pasti bahwa kau akan menerima keindahan masa muda dan cahaya rahmat-Nya, yang adalah harta keagungan-Nya yang penuh kebajikan.

Salam sayangku padamu, cucu-cucuku. Mudah-mudahan engkau memiliki iman untuk membuat kehidupanmu sempurna dan untuk menerima harta kedamaian yang tidak pernah berubah dan tidak pernah berakhir. Semoga Allah membawa kesempurnaan sifat-Nya, keindahan-Nya dan cahaya-Nya untuk menyinari hati dan wajahmu. Amin. Semoga Dia memberimu pengetahuan Ilahiah yang disebut ‘ilm. Amin ya rabbal alamin. Assalamu‘alaikum wa rahmatullah wa barakatuh. Terkabullah.

Terkabullah. Duhai Pengatur alam semesta. Semoga kedamaian Allah dan berkah-Nya melimpah kepada kalian semua.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.