Diriwayatkan bahwa Nabi Musa as, sedang berjalan berjumpa dengan seorang yang sujud di atas batu selama 300 tahun. Ia menangis dan air matanya menetes memenuhi sebuah wadah. Nabi Musa as, turut menangis karena kasihan padanya. “Oh Tuhanku, tidakkah Engkau kasihan padanya?”
Allah Swt, menjawab, “Aku memang tidak kasihan padanya.”
“Kenapa begitu Oh Tuhanku?”
“Karena qalbunya lebih senang pada selain Aku. Ia masih punya jubah yang disayang untuk menupi rasa panas dan dingin!” Jawab Allah Ta’ala.
Nabi Saw, bersabda, “Seorang hamba tidak akan pernah teguh amaliahnya sehingga qalbunya teguh, dan qalbunya tidak akan teguh sampai ucapannya teguh.” Bila qalbu hilang, ia kehilangan Rabbnya.
Nabi Saw, bersabda:
“Ingatlah sesungguhnya dalam jasad ada segumpal daging, manakala ia baik, maka seluruh jasad baik. Dan apabila ia buruk, buruk pula seluruh jasadnya. Ingatlah bahwa itu adalah qalbu.”
Allah Swt, berfirman kepada Nabi Musa as, “Hai Musa! Katakan kepada Bani Israel, jangan sampai mereka masuk ke dalam rumahKu kecuali dengan hati yang bersih, dan mata yang khusyu’, dengan badan yang bersih dan niat yang benar.”
Yahya bin Mu’adz ra, mengatakan, “Qalbu orang beriman itu adalah gumpalan yang berlobang, isinya adalah mutiara Robbani, di sekitarnya adalah taman Fardaniyah (penunggalan Ilahi), di bawahnya ada hamparan pencahayaan. Dan Allah Ta’ala memandangnya setiap saat dengan rahmat dan kasih sayangNya, dan menghadang apa pun yang membuatnya lalai antara hamba dan DiriNya.”
Allah Ta’ala berfirman: “Dan siapakah yang lebih menepati janjinya dibanding Allah?”
Dikatakan, bahwa kinerja qalbu itu sangat pelik, namun pengukuhan qalbu itu lebih berat lagi.
Ditanyakan kepada sebagian ahli ma’rifat, “Seorang hamba yang kehilangan qalbunya, kapan bakal menemukannya kembali?”
Dijawab, “Bila dalam qalbu itu turun Kebenaran Allah.” Masih ditanya, “Kapan turunnya?” Dijawab, “Makanala ia ia pergi meninggalkan selain Allah Ta’ala.”
Amaliah Qalbu itu berkisar 10 tangga:
• Al-Khatharat (intuisi terdalam)
• Ungkapan nafsu
• Hasrat
• Tafakur
• Kehendak
• Ridho
• Ikhtiar
• Niat
• Tekad
• Meraih tujuan hingga mencapai amaliah dzohir.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika mendapatkan intusi terdalam, ia berada di tangga Shiddiqin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berhadapan dengan ucapan nafsu, maka ia berada di tangga Muqorrobin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berada dalam hasratnya, maka ia termasuk dalam tangga Awwabin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berhadapan dengan tafakurnya, maka ia berada di tangga Mukhlishin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berhadapan dengan cita-cita, maka ia berada
di tangga Muridin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berhadapan dengan ikhtiar maka ia berada
di tangga Muttaqin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berhadapan dengan niat, maka ia berada di tangga Zahidin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berhadapan dengan Tekadnya, maka ia berada di tangga Munibin.
Maka, siapa yang teguh bagi Allah Swt, lalu menjaga kinerja amal qalbu ketika berhadapan dengan amaliah dzohir maka ia berada di tangga ‘Abidin dalam kalangan Muwahhidin.
Ishaq bin Ibrahim ra, mengatakan, “Bila hatimu bisa kembali kepada Allah Ta’ala sejenak saja, itu lebih baik dibanding segala hal yang dicahayai terbitnya matahari. Tak seorang pun yang bersih hatinya dari kotoran syahwat, dan membersihkan dari debu-debu kealpaan, serta menjernihkan dari keburaman penyimpangan, melainkan Allah Swt, akan menampakkan semuanya secara total.”
Bakr bin Abdullah ra, menafsiri ayat, “Dan ia datang dengan qalbu yang kembali”.
maksudnya yang berjalan dimuka bumi dengan fisiknya, sedangkan hatinya bergantung terus kepada Allah Ta’ala.
Abu Abdullah ra, ditanya, “Apakah Qalbun Salim itu?”
Beliau menjawab: “Qalbu yang putus dari kaitan-kaitan dunia, dipenuhi cinta kepada Tuhan, tidak mengeluh karena bencana, dan tidak terhalangi tirai perlindungan dan ketaqwaan.”
Disebutkan, “Siapa yang antara dirinya dengan Allah ta’ala tidak memiliki amaliah rahasia batin, maka ia tergolong buruk, walaupun kelihatannya baik. Dan siapa yang tidak melihat dunia dan akhirat adanya Kekuasaan Allah Ta’ala yang berjalan dan cepatnya takdir itu, ia tidak akan meraih amaliah qalbu.”
Abu Said al-Kharraz ra, mengatakan, “Ketahuilah bahwa alamiah qalbu adalah memperbaharui rahasia batin untuk menyendiri bersama Allah Ta’ala, dan mengaktifkan qalbu untuk menjaga dzikirnya sepanjang waktu disertai ruhani yang benar tanpa berpaling pada waktu dan kondisi ruhaninya itu sendiri.”
Abu Darda’ ra, berkata, “Allah mempunyai hamba-hamba, dimana qalbunya terbang kepada Allah Ta’ala karena rindunya, yang kecepatannya tidak bisa dilawan oleh kilat yang cepat sekalipun.”
Nabi Saw, bersabda, “Bukan karena banyaknya sholat Abu Bakr yang mendahului derajat kalian, juga bukan karena puasa, namun karena kebersamannya dengan Allah dan sejuk dalam qalbunya.”
Allah Ta’ala tidak menolak yang sedikit karena jumlah sedikitnya, juga tidak menerima yang banyak karena jumlah banyaknya. Namun Allah menerimanya dari kalangan orang yang taqwa (dengan ketaqwaannya).
Disebutkan, “Tidak benar maqom seseorang manakala masih ada gantungan qalbunya pada maqom itu. Namun orang yang benar adalah orang yang qalbunya bergantung kepada Sang Pemiliki Maqom belaka, hingga ia tidak melihat selain Allah Ta’ala ketika melihat Allah Ta’ala.”
Dikatakan, “Manakala amaliyah mengarah pada qalbu, seluruh badan istirahat.” Disebutkan pula, “Tidak akan ada aktivitas amal qalbu, kecuali bagi orang yang qalbunya bening, tidak lupa, sehat dan tidak luka, memandang tanpa cacat, sendiri tanpa kontra, mencari tanpa memburu, dekat tanpa asing, berakal sehat tanpa alpa, samawi tanpa semesta fisik, bersifat Arsy dan tanpa belantara.”




