Pendidikan sholat, pembentukan karakter, membangun jiwa besar dalam dirinya, baru kemudian hal-hal yang berkaitan dengan pertumbuhan otak rasionalnya. Orang tua mencintai dan menyayangi anak, bukan karena rasa sayang ansich, sebagaimana umumnya orang tua mencintai anak. Namun, cinta kepada anak karena cintanya kepada Allah swt. Bukan mencintai anak untuk mencintai Allah. Namun mencintai Allah, dan pantulan cinta kepadaNya itu bertabur ke anak-anak mereka hingga ke akhirat.
Sejak kanak-kanak – oleh karenanya – mereka terus diingatkan untuk mendawamkan Ismu Dzat dalam hatinya. Dengan berbagai cara, orang tua mengingatkan mereka itu. Kelak ketika mereka tumbuh di masa depan, dengan lingkungan beragam seperti apa pun, kepekaan kepada Allah akan terus berjalan, sekaligus mengontrol jiwanya.
Namun, tugas berat bagi kedua orang tua, bukan saja menyiapkan mental ruhani mereka, kecerdasan jiwa mereka, bahkan pada satu sisi hadirnya anak-anak bisa menjadi cobaan bagi iman mereka. Dalam Al-Qur’an disebutkan: “Sesungguhnya harta dan anak-anakmu adalah ujian.”
Ujian harta selalu muncul ketika, manusia mulai mencintai harta itu. Lalu ia menjadi budaknya. Begitu juga ujian anak muncul ketika seseorang mencintai anak itu, dan merebut hatinya dari cintanya kepada Allah swt. Kecemburuan Allah menimbulkan cobaan, yang tak lain hanya untuk mengngingatkan “Kisah Cinta Ilahiyah”nya, jangan sampai ternoda.
Disinilah Cinta pada Allah menimbulkan tanggung-jawab terhadap keberlangsungan regenerasi manusia, agar generasi berikutnya juga mencintai Allah, karenanya, cinta kepada anak biar sebagai pantulan atau akibat cahaya cinta anda kepada Allah Azza wa-Jalla.
Sebuah cinta penuh penyelamatan, karena memang pendaran cahayanya bermuatan daya keluhuran dariNya, dan semua itu memang harus kita pinta dalam doa-doa dan munajat kita. Sebab tanpa Tarikan Tangan ‘InayahNya, dan ketersingkapan HidayahNya, segalanya hanya sia-sia
belaka.




