Kadang rasa takut dan cinta telah membakar hatinya, dan pula dipadamkan oleh cahaya ma’rifat. Jika api takut dan cinta menyatu dengan cahaya ma’rifat, spoi lembutnya angin Ilahiyah muncul dari sutera kemesraan dan taqarrub, lalu muncullah kebeningan Ilahi pada hamba, keakuannya lebur dalam |Uluhiyah sebagaimana sang hamba di zaman Azali dulu.
Abu Sulaiman ra mengatakan, “Orang arif itu bisa dibuka jiwanya ketika ia tidur, yang melebihi dibukanya orang biasa yang sedang sholat sekali pun.”
Dan lebih dari itu ia melewati dua alam (dunia dan akhirat) tanpa ia menoleh sedikit pun kepada selain DiriNya.
Syeikh abu Bakr al-Wasithy mengatakan, “ Lingkaran kaum ‘Arif dengan yang Dicinta (Allah) berkisar pada empat hal:
- Kegembiraan Ma’rifat: Yang berbaur dengan pandangan akan keindahan ‘Inayah.
- Kemanisan Khidmah: Berbaur dengan ingatan anugerah.
- Kemesraan bersamaNya: Berbaur dengan kelezatan-kelezatan kedekatan padaNya.
- Ketakutan berpisah: Berbaur dengan perwujudan hakikat kesempurnaan QudratNya.
Dzun Nuun al-Mishry mengatakan, “Orang a’rif itu antara kebajikan dan dzikir, dimana Allah tak pernah bosan melimpahkan kebajikannya dan ‘arif tak pernah kenyang dengan dzikir kepadaNya.”
Sebagian Sufi pernah ditanya tentang firman Allah Ta’ala:
“Dan sesungguhnya, Dialah yang membuatmu tertawa dan menangis…”
Allah menciptakan tawaria kepada ‘arifin melalui kegembiraan ma’rifat kepadaNya, dan menciptakan tangis kepadaNya atas ketakutan akan pisah denganNya, dan Allah mematikan yang dikehendakiNya melalui pedang pemotongNya, dan menghidupkan yang dikehendakiNya melalui ruh kesinambungannya, agar para makhluk tahu bahwa Dialah Yang Maha Bertindak apa yang DikehendakiNya.
Aisyah ra ditanya, “Bagaimana orang beriman yang ma’rifat besok dihisab?”
Lalu beliau menjawab, “Bagi orang ‘arifun tidak dihisab,
tetapi mereka di tegur”.
Diceritakan bahwa suatu hari Nabi Sulaiman as, melihat kerajaannya, lalu Allah memerintahkan angin untuk membuka auratnya, lalu Sulaiman berkata kepada angin, “Hai kembalikan bajuku…!” Lalu angin berkata, “Kembalikan hatimu ke tempatnya…!”
Amboi indahnya bagi kaum ‘arifin, dimana Allah mengenalkan diriNya pada mereka sebelum mereka mengenalNya, dan memuliakan mereka sebelum mereka mengenal kemuliaan.
Mereka adalah jiwa-jiwa dimana dirinya adalah bernuansa ruhaniyah, hati mereka adalah samawiyah (serba langit), hasrat mereka senantiasa dalam ridloNya, dada mereka bergetar, qalbu mereka penuh rasa takut dan mata mereka berlinang.
Mereka merenung lalu mereka mengetahui, mereka menemukan lalu berangkat, lantas cahaya qalbunya dibukakan oleh Allah.
Ada kaum yang dipilihkan untuk DiriNya
Dipilih dari zaman yang dahulu
Dipilih dari zaman sebelum fitrah diciptakan
pada mereka ada titipan hikmah dan penjelasan.




