Jika sasaran Anda spiritual, bukankah sebelum Anda sudah ada Menejemen Qalbu dan Kecerdasan Spiritual (ESQ) ? Lantas, apa bedanya ?
Anda benar ! Dan training-training yang bersifat spiritual, sekarang ini luar biasa banyaknya, termasuk dua lembaga yang Anda katakan tadi. Semua mereka masih berkutat muter-muter soal Kecerdasan Spiritual. Menejemen Qalbu perhatiannya hanya sebatas qalbu dan Kecerdasan Spiritual yang dimaksud oleh ESQ sebenarnya adalah God Spot yang menempati noe cortex yang masih berada pada area penting otak semacam Lobus Frontal (berada tepat dibelakang kening; yang melahirkan perencanaan kedepan dan pengurutan ide-ide; red.), Lobus Parietal (persis di tengah kepala sedikit kebelakang; yang menerima dan mengolah informasi indrawi dari tubuh; red), Lobus Temporal (terletak dibagian bawah depan; berkaitan dengan memori, emosi, pendengaran dan bahasa) dan Lobus Oksipital (terletak dibagian belakang kepala yang berkaitan dengan penglihatan; red).
Lantas bagaimana dengan qalbu ?
Gini loch, Mas. Hati kita itu jika di ibaratkan sebuah bangunan rumah yang didalamnya terdiri dari pintu (shadr), ruang tamu (qalb), kamar pribadi (fuad) dan lemari yang menyimpan kotak (mutiara) kecil (lubb). Saya meng-i’tibarkan Pintu Rumah sebagai ash-shadr atau dada. Tangga pertama sebelum seseorang menyentuh hati adalah dada (shadr). Jadi semua orang bisa menyentuh tangga pertama ini. Coba Anda perhatikan daun pintu rumah anda, hampir semua orang bisa melihat, memegang dan membukanya. Dan inilah tangga kwalitas hati yang pertama, namanya shadr atau dada.
Shadr atau dada adalah kualitas hati terendah sehingga apabila seseorang keyakinan hatinya masih dalam tahap ini, ia sangat labil bahkan cenderung tidak mau masuk karena takut akan resiko-resiko. Bisa jadi, orang yang baru sampai pada tahapan ini masih belum memiliki keyakinan, mungkin hanya sebatas “suka”. Meskipun ada keyakinan, paling banter cuma 1% saja ia ada. Umum nya orang yang masih dalam tahapan ini masih NATO, No Action Talk Only !, he…he..he…he..
Adapun qalbu, saya menggambarkannya seperti Ruang Tamu Rumah Kita. Qolbu sudah sudah masuk lebih dalam dari shadr. Umumnya ketika orang akan masuk ke ruang tamu rumah kita, kita akan menyeleksinya. Seorang yang masih berpijak pada tataran qalbu masih terbuka kemungkinan untuk tercuri oleh impian-impian, terkadang yakin terkadang pula ragu, terkadang sayang terkadang juga benci, begitu yang terjadi. Itulah mengapa ia disebut Qalbu yang berarti “bolak-balik”. Tapi ini masih lebih baik ketimbang orang yang masih berhenti pada tataran shadr diatas. Kalau saja seseorang sudah berdiri di tataran shadr, kemudian ia mampu menjaga kualitas shadr nya, ia akan dapat naik pada tahapan yang lebih tinggi dan menemukan keyakinan yang lebih tinggi pula.
Bagaimana dengan Kamar Pribadi dan Kotak Kecil dalam Lemari itu ?
O, iya. Fuad adalah elemen hati yang ketiga, dialah hati yang kokoh, sulit ditipu dan di curi impiannya. Batinnya pun sudah kuat. Fuad itu seperti halnya kamar pribadi yang hanya orang-orang tertentu saja yang dapat memasukinya. Kalau qalbu anggota keluarga yang lain masih dimungkinkan masuk, sedang fuad hanya orang khusus saja yang bisa memasukinya. Seseorang yang memiliki kualitas hati fuad maka ia hanya fokus pada impiannya, ia sangat sabar dalam merealisasikan impiannya, dan sangat teguh pada keyakinannya. Keyakinan seseorang yang sudah sampai pada maqam ini keyakinannya sudah 70%:30%.
Berikutnya adalah kualitas hati seseorang yang paling tinggi. Di dalam kamar Anda, ada lemari dan didalamnya ada sebuah kotak. Ketika anda membuka kotak itu, Anda melihat mutiara didalamnya sangat indah bercahaya, bersinar menyapa wajah Anda, menarik untuk dilihat, dan itulah lubb.
Manakala seseorang sudah memiliki kualitas lubb, maka ia memiliki keyakinan 100% ; yakin Tuhan bersamanya. Tidak ada complain, marah atau benci. Yang ada hanya Allah dan cinta. Siapapun Anda yang sudah mencapai tahap ini selalu dibimbing, dijaga, dan diangkat oleh-Nya, sehingga dalam hidup Anda menjadi orang yang bermakna dan berguna buat banyak orang. Tiada hari bagi orang yang memiliki kualitas hati macam ini selain bersama Allah dan cinta. [pagebreak]
Anda melihat qalbu dan kecerdasan spiritual masih pada dataran syari’at, “kulit luar”, begitu ?
Jelas sekali, keduanya masih berada diwilayah “ruang tamu” yang dapat saja tamu yang datang itu memang tamu yang baik dan tidak menutup kemungkinan tamu yang tak diundang pun akan menempati “ruang tamu” itu. Qalbu dan kecerdasan spiritual masih dari jenis “badan kasar”. Pelatihan atau pengajian yang membidik qalbu dan kecerdasan spiritual yang selama ini berlangsung sebenarnya adalah “badan kasar” yang tengah mempelajari spiritual, dan bukan makhluk spiritual yang dikenalkan atau disadarkan kembali spiritualitasnya. Sehingga yang didapat umat, jamaah atau peserta pelatihan hanya sebatas pengalaman beragama saja, dan bukan kesadaran beragama yang di raih. Padahal disamping pengalaman, kesadaran beragama jauh lebih dibutuhkan ummat. Pengalaman beragama one some day dapat saja hilang tertelan waktu, sedang kesadaran spiritual adalah sesuatu yang kokoh bercokol menjadi landasan aktifitas dan kreatifitas yang bersangkutan.
Apa salahnya dengan qalbu dan kecerdasan spiritual ?
Tidak ada yang salah pada keduanya. Tapi problem bangsa ini cukup lumayan terbantu ketika umat dan individu komponen bangsa ini benar-benar dihantarkan pada kesadaran man ‘arofa nafsah faqod ‘arofa robbah, mengenal diri sekaligus mengenal Tuhannya. Bagaimana seseorang dapat mengenal Tuhannya kalau terhadap dirinya sendiri ia tak mengenal. Bagaimana seseorang dapat mengenal dirinya sendiri jika hanya diajak berkutat pada persoalan kulit luar beragama.
Tapi qalbu itu sendiri bagian yang tak lepas dalam praktek sufisme ?
Benar, dan seperti yang sudah saya jelaskan, kwalitas hati itu tidak cuma qalbu, disana ada shadr, fuad dan lubb. Iya toch ?




