Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Pak Kyai, saya ingin bertanya tentang kehidupan pribadi saya. Usia saya sudah 45 tahun, seorang pekerja di sebuah perusahaan. Gaji cukup, dan isteri saya wiraswasta. Saya ini sebenarnya menjerit kalau muncul rasa sebal, jengkel, dan benci kepada orang lain, walau pun orang itu sebenarnya salah. Saya mencoba memaafkan tetapi saya tidak bisa. Dan selalu saja begitu Pak Kyai. Rasanya saya tersiksa sendiri. Saya tidak ingin begitu.
Saya memang pernah disakiti kawan, dan kawan itu sebenarnya cukup dekat pula di kantor saya. Saya sabar, tetapi dalam hati saya tetap saja ada duri. Setiap kawan saya itu muncul, atau setiap namanya disebut, rasanya saya ogah banget dan sebel banget.
Apa kiat menghapus perasaan seperti itu Pak Kyai?
Wasalamu’alaikum Wr. Wb.
Hardino S – Hardinxxxx@xxxx.com
Jawab:
Saya prihatin, karena ada menyimpan neraka kecil di hati anda. Mungkin jika orang lain mengalami, juga akan merasakan yang sama. Untungnya anda punya tekad untuk menghapus kebencian itu. Apa yang terjadi jika dendam dan kebencian itu malah anda pupuk dengan keangkuhan anda?
Nah, saat ini anda harus punya keberanian membuka diri. Toh anda tidak bersalah, kenapa harus menyimpan kesalahan orang lain menjadi duri yang membusuk?
Nah, ada empat langkah yang mesti anda lakukan, sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an:
Mulailah dari diri anda sebagai manifestasi kasih sayang Allah Ta’ala, dan anda pun harus mewujudkan kasih saying itu dalam relasi sosial sesama. Buang jauh-jauh sifat keras kepada dan kerasnya hati anda, pada siapa pun. Karena sifat buruk ini akan membuat orang-orang di sekitar anda menjauh.
Maafkanlah mereka, dengan segala kebesaran dan keluasan dada anda, kartena meaafkan itu turut membuka pintu taubat bagi orang-orang anda maafkan. Mohonkan ampunan kepada Allah Ta’ala dosa-dosa mereka. Sebab bila Allah mengampuni dosa mereka, mereka pun pasti akan berubah menjadi orang yang taat, patuh dan baik, berubah pula hatinya pada anda. Ajaklah bicara dengan penuh bijak dan lembut, siapa tahu Allah memberikan kesadaran hatinya.
Biasakan menyerahkan semua tekad baik anda kepada Allah Swt. Karena Allah itu mencintai orang-orang berserah diri.
Yakinlah, bahwa masa depan itu adalah Allah Swt, dengan segala cinta dan rahmatNya.




