S. Assalamu’alaikum wr. wb.
Saya mulai belajar memahami ilmu tasawuf, dan sangat menarik sekali khususnya yang terkait dengan Tasawuf akhlaqi.Namun rasa hormat terhadap guru yang kadang berlebihan bahkan sampai pengkultusan bukannya dilarang dalam Islam? Mohon jawabannya.
Wassalamu’alaikum wr. wb.
J. Pengkultusan dalam bentuk apa pun dilarang oleh Islam. Tetapi, anda harus membedakan menghormati dan mengkultuskan. Orang mencium tangan seorang guru, sebagai tanda cinta dan berharap barokah, bukanlah pengkultusan, sebagaimana anda mencium tangan ibunda anda, misalnya.Menghormati karena ketaqwaan dan ilmunya, sangatlah dianjurkan dalam Islam.
Jika ada seseorang tidak mau dan menolak mencium tangan seorang Ulama, karena alasan biar tidak disebut mengkultuskan, sesungguhnya hanyalah bentuk kesombongan yang tersembunyi di dadanya. Namun jika ada alasan ruhaniyah, yang membuat hatinya harus menolak mencium tangan seseorang, tidaklah mengapa.
Ketika di zaman Rasul, banyak para sahabat berebut bekas air wudhu Rasul saw, dan ada pula sahabat yang menyuling keringat Rasul saw. Apakah itu berarti mengkultuskan Rasul saw?
Orang berebut bunga di kuburan Gus Dur, misalnya, apakah orang itu menyembah Gus Dur? Lalu dicap musyrik? Bukankah semua sebagai tanda cinta luar biasa dan membuat mereka lebih bersemangat meneruskan perjuangan dan mengikuti jejak pribadinya?
Rasa cinta memang membuat seseorang – kadang – berlebihan. Tetapi jika itu di luar kemampuan dirinya, hanya karena spontanitasnya, bukankah tidak bisa dihukumi?



