Manusia Holistik

Harus dibaca juga..

Terbukanya pandangan yang terbatas.
Maksud “terbukanya pandangan yang terbatas” adalah perasaan lebih berdaya, memiliki keyakinan yang lebih besar, memiliki perasaan berharga yang sedikit-banyak pengalaman seperti itu dapat mengubah dan memperkuat individu dalam kehidupan sehari-hari.
Mirip sekali dengan spirit tasawuf ? Bisa iya, bisa juga tidak. Tergantung dari sudut pandang mana Anda melihat. Buat saya, antar keduanya (Psikologi Moderen dan Ilmu Tasawuf) ada “benang merah” nya disana, meski saya tahu psikologi Barat telah “gagal mengawal” masyarakat moderen saat ini.

Berdasarkan teori dan pengalaman saya, Psikologi Barat Moderen, include Psikologi Humanistik, tidak menemukan landasan penyebab faktor-faktor yang menetapkan perilaku manusia. Dia hanya memerhatikan gejala perilaku yang kasat mata. Psikologi Humanistik tetap berangkat dari psikologi moderen atau psikologi Barat yang berbasiskan science, di mana kajian-kajiannya berdasarkan pengamatan perilaku manusia yang mengandalkan panca-indra saja dan intelektual manusia.

Dan kalau tadi Anda menyinggung soal tasawuf, ilmu tasawuf menggunakan pedoman yang diyakini langsung berasal dari Tuhan sebagai wahyu kepada Nabi Muhammad, yakni Al-Quran dan Sunnah Rasulillah, yang kemudian disampaikan kepada manusia sebagai tuntutan hidup.

Para Sufi melalui tafakkur dan ‘ubudiyyah nya dapat menangkap pesan Tuhan berkat kesucian jiwanya seperti memiliki akses langsung, online, langsung
berdialog dengan Tuhan lewat sirr-Nya. Apalagi para psikolog masih memperdebatkan masalah intuisi, artinya kemampuan dan potensi ini masih saja dipertanyakan oleh sebagian dari mereka, sehingga mereka hanya mau mengakui hasil studi berdasarkan pengalaman indrawi dan akal saja.

Karena intuisi justru dianggap lebih mampu memberikan keyakinan atas masalah-masalah yang sulit dipahami secara kasat mata. Hal ini dipertegas oleh Al-Ghazali bahwa “Pengetahuan intuisi adalah penyebab hilangnya
keraguan”. Para Sufi Agung memberdayakan intuisinya untuk membaca ayat-ayat Allah atau tanda-tanda Nya yang terdapat pada seluruh alam semesta termasuk pada diri manusia sendiri.

Latihan-latihan spiritual, seperti riyadlah  dan suluk yang dijalani oleh para penempuh jalan spiritual secara sungguh-sungguh memungkinkan terasahnya kemampuan intuisi yang dapat mengubah dan dapat meningkatkan penghayatan mereka terhadap kehadiran Allah yang sangat dekat, bahkan lebih dekat, lebih dekat dan lebih dekat lagi  dari urat lehernya dan disetiap aspek kehidupan.

Dan ingat. Meski para psikolog dan ilmuwan Barat tidak terlalu concern pada potensi (intuisi;red) ini, faktor potensi (intuisi;red) masih menjadi perhatian dalam kaitannya dengan pengembangan pribadi. Gawain (Shakti Gawain;red) memperkuat pendapat ini, bahwa intuisi juga memberikan kontribusi pada hasil temuan dan tindakan manusia.Perbedaan pandangan yang lain antar psikolog dan sufi, misalnya tentang inteligensi.
Dalam pandangan psikologi moderen, intelegensi kerap dikaitkan dengan kemampuan berpikir secara logis atau rasional atau bernalar secara sistematis dan terkadang matematis.

Proses berpikir yang dimaksud melibatkan fungsi akal yang berkaitan dengan struktur dan proses biologis otak. Pandangan psikologi di atas sangat berbeda dengan pandangan ilmu tasawuf. Menurut tasawuf, intelegensi berkaitan dengan akal (‘aql) yang diartikan dengan pikiran, bukan semata-mata dengan penalaran. Karena, pikiran terdiri dari rasio dan rasa. Jadi makna ‘aql di dalam Al-Quran tidak saja berpikir secara rasional atau logis, tetapi juga melibatkan emosional.

Dari pandangan ini, bagi psikologi, fungsi akal berada di dalam otak, sedangkan bagi ahli tasawuf ‘aql bertempat di dalam hati, atau qalb yang terletak di sekitar dada dekat jantung. Merujuk pada Tafsir Muhammad Yusuf Ali dan Frager bahwa hatilah yang menyimpan kecerdasan. Bukankah para psikolog memiliki berbagai teori dan prinsip dalam mengukur intelegensi ? Betul. Tapi teori dan prinsip yang dimiliki para psikolog masih merupakan fenomena yang tidak cukup diamati secara indriawi, dan anda tahu bukan,  manusia terdiri dari jasmani dan ruhani!?

Dalam tasawuf tidak ditemukan pengukuran dengan alat fisik apapun, tetapi seorang salik (pengamal tasawuf) diharapkan menjadi peneliti bagi dirinya sendiri, mengamati, dan merasakan langsung kondisi batinnya. Dalam hal ini terdapat anggapan tak seorang pun dapat mengetahui apalagi mengukur kecuali dirinya dan Tuhan. Dalam proses pengamatan dirinya tidak mustahil ia dapat meningkatkan kecerdasannya melalui pengalaman-pengalaman yang langsung dialami. Ini sesuai dengan Wilcox, bahwa intelegensi adalah kemampuan belajar dari pengalaman. Seorang salik belajar dari pengalamannya sendiri yang mendorong ke arah perubahan perilaku.

Ketika seseorang memiliki pengetahuan tentang eksistensi manusia, maka mulai ada peluang untuk mengkaji tentang dirinya. Selanjutnya, bila ia kemudian sadar akan potensi yang diberikan sebagai karunia Tuhan belum teraktual-kan, maka ia lebih mudah untuk membuka diri memperjuangkan kebutuhan-kebutuhannya sampai meraih aktualisasi diri dan menjadi pribadi yang didambakannya.

Jika Maslow tidak menjelaskan secara spesifik bagaimana cara yang tepat untuk memenuhi metakebutuhan, di dalam ilmu tasawuf cara-cara itu dapat dipelajari dan langsung diamalkan bisa dalam bentuk ‘uzlah, khalwat, riyaadlah atau mujaahadah.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT