Manusia Holistik

Konsep kebahagiaan

Harus dibaca juga..


Namun ilmu tasawuf mengajarkan untuk tidak berlebih-lebihan dalam memenuhi kebutuhan dasar itu. Dan itu berarti kebutuhan yang bersifat fisiologis-psikologis bukanlah sesuatu yang mutlak bagi para pengamal tasawuf, namun hanya sebagai sarana dalam upaya beribadah kepada Allah Swt.

Konsep kebahagiaan keduanya (psikologi dan tasawuf) pun berbeda. Dalam tinjauan psikologi orang bahagia bila berhasil memenuhi kebutuhannya, mencapai cita-cita dan harapannya, berhasil menggapai anganangannya yang mungkin bersifat materialistik.

Tetapi tidak demikian dengan tasawuf, kebahagiaan yang hakiki adalah ketika “berjumpa” dengan Tuhan, Sang Khaliq, Sang Kekasih Abadi. Oleh karenanya, menjadi pribadi mukmin dengan jiwa yang muthmainnah dan suci menjadi target pengembangan pribadi, sesuai dengan firman Tuhan (QS Al-Fajr (89):27-28).

Para Sufi mendapat ketentraman dan kebahagiaan melalui penyucian jiwa, melepaskan diri dari
ketergantungan pada kehidupan hedonistik untuk mendekatkan diri pada Tuhan. Selebihnya, ia senantiasa
merasakan kehadiran-Nya, bahkan “bersatu” dengan-Nya dalam pengertian menginternalisasikan sifat-sifat
Allah di dalam diri yang termanifestasikan pada akhlak terpuji penuh kearifan, kemudian menjalankan misinya sebagai khalifah sesuai dengan Allah Swt.

Sebenarnya perhatian tasawuf pada  penekanan betapa pentingnya mengenal diri, penekanan pada spirit sabda Rasulullah, man ‘arofa nafsah faqod ‘arofa robbah, orang yang mengenal dirinya pasti mengenal
Tuhannya.  Ini menunjukkan suatu tindakan atau perbuatan yang mengarah pada upaya untuk mendapatkan pengetahuan tentang hakikat diri dan keesaan Tuhan.

Imam Al-Ghazali mengatakan, setiap orang yang ingin mengenal dirinya dan keajaiban karya Allah Swt dalam dirinya minimal memiliki tiga kriteria: Pertama, memiliki pengetahuan bahwa hanya Allah yang dapat membuat manusia menjadi sempurna. Kedua, memiliki pengetahuan bahwa ilmu Allah luasnya tidak terbatas. Ketiga, memiliki pengetahuan bahwa terdapat kebenaran pada setiap ciptaan-Nya.

Masih kata Imam Al-Ghazali, “Jika kita ingin mengenal diri, maka ketahuilah dua hal dengan sebenar-benarnya, pertama,  hati, dan kedua, jiwa (ruh).  Al-Ghazali juga menekankan, bahwa:
“Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh kesiapannya mengenal Allah, tetapi dalam
kesiapannya mengenali hatinya. Jika manusia telah mengenali hatinya, maka ia telah mengenali diri sendiri. Jika ia telah mengenali diri sendiri, maka ia telah mengenal Tuhannya.”Untuk mendapatkan ketigakriteria di atas tidak ada jalan kecuali harus berusaha melalui berbagai jalan, salah satunya melalui jalan yang ditawarkan dalam ilmu tasawuf, yakni bertarekat.

Sayangnya, sudah ratusan tahun manusia telah “dininabobokan” oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih yang dianggap memberikan rasa aman dan nyaman .
Einstein pun pernah mengutarakan penyesalannya, seharusnya kemajuan teknologi dapat membuat manusia bahagia, tapi ternyata malah membuat dunia semakin kacau, terjadi peperangan disana-sini dan
konflik menyeruak di mana-mana.Tapi saya melihat, dibalik carut-marut yang meng-global, tidak mustahil jika ada sebagian manusia di muka bumi ini berusaha mencari pencerahan atau semacam “channel” yang dapat menerangi setiap lubuk hati. Faktor inilah yang menyebabkan manusia moderen (dewasa ini) kemudian mencari ketenangan pada kelompok-kelompok pengajian untuk meningkatkan pemahaman dan penghayatan syari’at.

Bagaimana dengan orang-orang Barat yang hidupnya sudah terlanjur sekuler, bagaimana cara mereka
menyambung channel itu ?  Sebagian besar dari mereka ada yang mempelajari aspek mistis dari ajaran agama tertentu; Richard Gere yang menjadi murid setia Dalai Lama, meninggalkan rumah mewahnya untuk tinggal di India, disuatu tempat pengasingan pemimpin spiritual Tibet tersebut; Madonna dan Elizabeth Taylor tertarik untuk mempelajari dan mengamalkan jalan mistik Yahudi, yaitu Kabbalah.

Ada juga yang mengambil jalan pintas, yaitu dengan bunuh diri agar cepat “berjumpa” dengan Tuhan dan dapat menemukan kebahagiaan yang kekal dan abadi di alam sana, seperti kelompok The People’s Temple’s yang melakukan bunuh diri massal setelah diperintahkan oleh Jim Jones, pemimpin kelompok tersebut yang hidup menyendiri di sebuah hutan di Amerika Latin. Kekurangmampuan psikologi dalam menjawab persoalan hidup inilah yang menyebabkan saya berpikir akan perlunya metode pengembangan pribadi yang bersifat holistik, demi melahirkan sosok pribadi humanis yang sufistik.Kenapa harus Pribadi Holistik ? Hazrat Pir Inayat Khan mengibaratkan psikologi dan tasawuf bagaikan hubungan lampu dengan sumber daya listrik.

Para psikolog yang memikirkan bagaimana caranya membuat lampu dengan berbagai bentuk, warna, dan fungsinya, sesuai dengan kebutuhan pengguna, termasuk ukuran-ukurannya.Namun demikian bila listrik padam, maka lampu tidak menyala, tidak berdaya dan akhirnya tidak berfungsi hingga tidak bermanfaat bagi si pengguna, bukan ? Oleh sebab itu, lampu ini sangat tergantung kepada sumber daya listrik.

Para sufi sangat mengetahui bagaimana menghubungkan lampu itu dengan sumber listrik yang abadi, yang tidak terbatas. Sehingga lampu tersebut kemudian senantiasa manfaaat menjadi penerang dan berfungsi dengan baik sebagaimana mestinya. Dalam konteks pengembangan pribadi Maslow menekankan pada upaya pemenuhan kebutuhan pokok yang terdapat pada individu hingga tercapainya kebutuhan transendental agar supaya tercipta kehidupan yang tenteram dan meraih kebahagiaan. Kebahagiaan model psikologi ini sangat terbatas ruang dan waktu, belum mendalam dan belum merasuk jiwa seperti halnya kebahagiaan yang  dialami para sufi. Ini terjadi karena kebahagiaan ala psikologi adalah kebahagiaan yang berangkat dari pemenuhan kebutuhan  psikologis yang sebatas di dunia saja. Sedangkan tasawuf, memberikan cara pengembangan pribadi yang menekankan pada kebersihan dan kesucian jiwa demi menjangkau tujuan yang sangat tinggi dan mulia, yakni perjumpaan dengan “Sang Kekasih”, Allah Swt.  Bagi para sufi perjumpaan dengan Allah Swt merupakan kebahagiaan yang tiada bandingannya.

Nah menurut saya pengembangan pribadi manusia yang utuh adalah perpaduan pengembangan
pribadi model psikologi humanistik dan pengembangan pribadi model sufi.

Secara praktis dapat dikatakan setiap individu hendaknya bekerja, memenuhi sandang, pangan, dan kebutuhan-kebutuhan sensual maupun seksualnya, mengembangkan kemampuan intrapersonal serta hubungan interpersonal yang harmonis. Selain itu, ia menggali potensi melalui pemberayaan bakat dan minatnya sesuai dengan teori Multiple Intellegence-nya Gardner secara optimal dan berprestasi hingga terciptalah perwujudan atau aktualisasi diri.

Berbarengan dengan itu, individu tersebut hendaknya juga secara sistematis melakukan latihan-latihan yang terdapat pada pola dan langkah tazkiyyatun nafs yang dilakukan para sufi, seperti yang telah dilakukan Imam Al-Ghazali. Itulah konsep Manusia Holistik.

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.