Berbaktilah pada pengetahuan, Ulama’ yang mengamalkan ilmunya dan bersabarlah di situ. Bila anda sabar atas bakti pada pengetahuan, maka anda pun harus berbakti pada Ulamanya yang sholeh, dan bersabarlah dalam berkhidmah, karena mereka juga bersabar atas pengabdianmu. Maka anda pun akan meraih pemahaman qalbu dan cahaya batin.
Hai kaumku, serahkanlah perkaramu kepada Al-Haq Azza wa-Jalla karena Dialah Yang Maha Tahu apa yang ada padamu dibanding dirimu. Tunggulah jalan keluarnya, karena setiap saat ada jalan keluar. Berbaktilah kepada Allah Azza wa-Jalla dan berusahalah agar dibukakan pintuNya, lalu tutuplah pintu-pintu makhluk (dari hatimu), maka Allah benar-benar akan membukakan keajaiban di luar dugaanmu.
Hati-hati! Sesungguhnya apabila Allah Azza wa-Jalla ingin memberikan manfaat bagimu atas apa yang ada di tangan makhluk, maka Allah memberi manfaat padamu, namun bila Allah Azza wa-Jalla memberikan bencana pada tangan mereka, maka Allah Azza wa-Jalla akan menundukkan, melunakkan menegaskan hati mereka. Dialah Yang Menghidupkan dan Mematikan, Yang Memberi pakaian dan Yang Menelanjangi, Yang memberikan kebaikan dan yang menggentarkan, Dialah Yang Maha Awal dan Maha Akhir Yang Maha Dzohir dan Maha Batin. Semua itu Dia, bukan lainNya.
Yakini semua itu dengan hatimu, dan pergaulilah makhluk itu dengan fisikmu. Itulah kesibukan kaum shalihin yang bertaqwa, yang taqwaannya kepada Allah Azza wa-Jalla dalam seluruh perilakunya, di mana makhluk bergegas menuju mereka, karena mereka bicara menurut kadar akal mereka, dengan qalbu mereka, dengan akhlaq terbaik, dengan akhlaq Qur’an dan Sunnah. Mereka memerintahkan apa yang terkandung di dalamnya. Jika manusia menerima, maka mereka bersyukur, namun jika makhluk itu menolak, maka tak ada sisa kebenaran dan kecintaan antara mereka dan manusia. Mereka bersikap tegas pada makhluk dalam soal perintah dan larangan Allah Azza wa-Jalla. Maka jadikanlah hatimu masjid, jangan ada di dalamnya selain Allah Azza wa-Jalla sebagaimana firmanNya:
“Sesungguhnya masjid-masjid itu hanya bagi Allah, jangan memanggil seorang pun selain Allah.” (Al-Jin 18)
Bila derajat hamba seperti itu naik, dari derajat Islam, menuju derajat Iman, lalu menuju derajat Iqon, dan dari Iqon menuju Ma’rfat, dari Ma’rifat menuju IlmuNya, dan dari IlmuNya menuju Cinta, dari Cinta menuju Kecintaannya, dan dari pencarian menuju Yang Dicari, maka pada saat itulah ketika ia alpa , ia tidak ditinggalkanNya dan ketika ia lupa, Dia mengingatnya, ketika ia tidur Dia membangunkannya, ketika ia lupa, Dia menyadarkannya, ketika ia menjalankan tugas Dia menerimanya, ketika ia diam, Dia menggerakkan bicaranya. Maka ia selalu bangun dan sadar dengan penuh kebeningan. Karena wadah qalbunya telah jernih, di mana lahiriyahnya menunjukkan batinnya. Ia diberi warisan kesadaran dari Nabi saw. Dimana tidur matanya namun tidak tidur qalbunya. Dan beliau tahu orang yang diwarisinya sebagaimana tahu orang yang ada di depannya. Setiap orang mendapatkan kesadaran sesuai dengan kadar kondisi batinnya. Hanya saja tak seorang pun menyamai kesadaran Nabi saw, dan tak seorang pun menandingi keistemewaannya.
Namun para Abdal dan Auliya’ dari kalangan ummatnya mendapatkan sisa makanan dan minuman jiwanya, karena mereka mendapatkan setetes dari lautan maqomnya dan sedikit dari gunung kemuliaannya, karena para wali dan abdal itu ada dibelakangnya, yang senantiasa memegang teguh agamaNya, senantiasa meraih pertolongan Allah Azza wa-Jalla, yang senantiasa menunjukkan ilmu agama dan syariat. Atas merekalah salah dan kehormatan dari Allah Azza wa-Jalla , dan para pewarisnya hingga hari qiamat.
Orang beriman itu hanya sekejap di dunia, lalu ia berharap dunia dan mencarinya, hingga memenuhi hatinya. Manakala sudah memilikinya ia menceraikan dunia lalu mencari akhirat sampai menemukannya dan memenuhi hatinya. Namun ia mulai takut atas batasan dan hisabnya dari Tuhannya Azza wa-Jalla, lalu ia menceraikan akhirat dan memelatakkan di sebelah dunia, lalu dijalankan kewajibannya, hingga ia sampai di Pintu Allah Azza wa-Jalla, maka disanalah ia berkemah, mengukuti agama Ibrahin as yang zuhud dalam bintang, lalu kemudian menuju bulan, kemudian matahari, kemudian berkata:
“Ibarhim berkata, “Aku tidak suka pada yang sirna (Al-An’aam: 71) “Sesungguhnya aku menghadapkan wajahku kepada Dzat Yang mencipta langit dan bumi dengan oenuh kepatuhan dan aku tidak tergolong orang yang musyrik.” (Al-An’aam: 79)



