Kesempurnaan Dalam Sama’

Syekh Abu Nashr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan: ini juga merupakan sebagian dari sifat-sifat orang-orang yang memiliki kesempurnaan (ahlul-kamal), bahwa tidak ada sisa sedikitpun bagi sesuatu yang datang mengetuk telinga mereka dan tidak tertinggal suatu perasaan dalam tabiat, jiwa dan sifat-sifat manusiawinya melainkan perasaan itu diganti dan dididik. Jiwa mereka tidak mengambil kesenangan-kesenangan dari lagu-lagu yang didengar, tidak pula merasakan kenikmatan dari suara-suara yang indah, sebab semangat mereka memang berbeda, rahasia hati mereka bersih, sifat-sifat mereka tidak tercemar oleh noda perasaan, kegelapan nafsu, perubahan sifat-sifat manusiawi dan persahabatan dengan orang lain, “Demikianlah karunia Allah, diberikan-Nya kepada orang yang dikehendaki-Nya.” (Q.s. al-Jumu’ah: 4).

Harus dibaca juga..

Diceritakan dari Abu al-Qasim al-Junaid —rahimahullah— bahwa pernah dikatakan kepadanya, “Anda mendengar kasidah-kasidah ini, dan Anda juga hadir bersama sahabat-sahabat Anda di waktu sama’, Anda pada saat itu bergerak, namun sekarang Anda tenang seperti ini.” Maka al-Junaid membacakan ayat berikut:

“Dan kamu melihat gunung-gunung itu, kamu sangka ia tetap di tempatnya, padahal ia berjalan sebagai jalannya awan. (Begitulah) ciptaan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu.” (Q.s. an-Naml: 88).

Maka sepertinya ia memberi isyarat atas pertanyaan di atas—Dan hanya Allah Yang Mahatahu. Yakni kalian hanya melihat tenangnya tubuh saya secara lahiriah, namun kalian tidak paham di mana saya dengan hati saya.

Ini juga termasuk di antara sifat-sifat orang-orang yang memiliki kesempurnaan dalam sama’.

Syekh Abu Nasr as-Sarraj —rahimahullah— mengatakan: Barangkali mereka hadir di tempat-tempat yang ada sama’ karena berbagai kondisi spiritual dan aspek yang beragam. Atau mungkin mereka berkumpul dengan tujuan untuk membantu seorang teman, atau hadir disebabkan ilmu, kegigihan dan kebesaran akal mereka, sehingga mereka diberitahu tentang apa yang menjadi hak dan kewajiban serta syarat-syarat dan etika dalam sama’. Atau barangkali mereka berkumpul dengan orang-orang yang bukan kelas mereka karena keleluasaan akhlak dan sikap mereka. Sehingga batiniah mereka jauh berbeda dengan orang-orang yang berkumpul dalam majelis, sekalipun secara lahiriah mereka bisa duduk bersama. Smoga Allah senantiasa memberi taufik kepada kita.

 

Next Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Top Stories

ADVERTISEMENT

Login to your account below

Fill the forms bellow to register

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.